Follow Me on Twitter

Teori Substitusi bagi Seorang Ibu

Salam hangat terdahsyat untuk seluruh teman-teman sepenggalauan *ini apa banget salam pembukanya*. Senang rasanya bisa ngetag kalian di noteku lagi, dan saya harap kalian pun memiliki rasa senang yang sama seperti yang saya rasakan kali ini, haha #plak XD.

Baiklah, basa-basinya memang terlalu absurd dan saya rasa kalian sudah mulai pusing membacanya, jadi mari kita mulai perbincangan kali ini. *ehem, cek mic*. Ummm… ngga berasa yah? Sebentar lagi, kita2 akan melepas title sebagai pelajar SMA dan itu artinya kita semua sudah bukan anak-anak lagi. Kalo mau dibilang dewasa sih belum ya? Mungkin lebih tepatnya (hampir) dewasa, mendekati dewasa or whatever it is, let’s we look to the past! Kira-kira siapa saja pribadi yang sudah berjasa membuat kita berkembang seperti sekarang ini? Banyak pastinya, dan salah satu sosok yang perlu bahkan harus selalu kita ingat adalah Ibu.

Tanpa menghilangkan sosok dan jasa seorang ayah, mari kita bahas sedikit tentang Ibu kita di sini. Sosok seorang Ibu memang ngga ada bandingannya di dunia ini. Untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik atau buruk, itu semua ngga lepas dari campur tangan seorang Ibu untuk mendidik kita. Bagaimana beliau bisa mendidik kita menjadi anak-anak yang seperti sekarang ini? Tentu itu semua butuh perjuangan. Dari mulai mengandung selama kurang lebih 9 bulan 10 hari sampai akhirnya lahir jabang bayi kaya kita2 ini, dan itu taruhannya nyawa mamen!. Dan, ngga sampe di situ aja, beliau mesti menghidupi kita dengan segala kasih sayangnya yang luar biasa. Dari mulai memberi kita ASI tiap kita nangis, ngga peduli itu siang, malem, atau sedang dalam kondisi lelah sekalipun selama kurang lebih dua tahun. Terus, ngajarin kita biar bisa ngomong, duduk, berdiri, sampe jalan, dan saya yakin, itu semua ngga gampang. Begitu seterusnya secara kontinyu sampai akhirnya jadilah kita seperti sekarang ini.

Ya, seiring berjalannya waktu, pasti ada yang berbeda dari sikap kita yang mulai berubah. Berubah menjadi tidak sedekat dulu waktu kecil, menjadi tidak terlalu terbuka dengannya, dan mungkin yang dulunya kita sering mengiyakan apa kata mereka, tapi sekarang kita telah menjadi “pembangkang yang handal”, haaha lebay sih, tapi itu kenyataan kawan.

“teori substitusi”. Ya, mungkin karena teori itu kita jadi sedikit melupakan pengorbanan dan perjuangannya dulu. Semakin kesini, kita semakin mengenal banyak orang, dan menjadikan mereka sebagai teman, sahabat, sohib, cees, atau bahkan sesuatu yang lebih dari sekedar teman *yaa itu deh maksudnya*. Hal itu, membuat kita nyaman dengan mereka, dan bahkan membuat kita lebih dekat dengan mereka daripada dengan seorang Ibu. Misalnya, teman dekat Anda (red:bf/gf) lagi sakit, pasti kita jadi ngga bisa makan, ngga bisa tidur, dan merasa ngga bisa menjalani hidup *haha, ini lebay ngga sih*. Tapi berbeda kondisinya kalo Ibu kita yang sakit, bisa jadi kita sedikit cuek dengan keadaannya. Terus, pas temen lagi butuh, pasti kita siap sedia buat membantunya, tapi kalo Ibu yang minta tolong? Bisa jadi kita menolak dengan berbagai alibi yang kita punya. Bahkan, ketika anda bertanya pada teman dekat anda “dah makan belum?” di setiap harinya sebagai rutinitas, pernahkah kita bertanya pada Ibu hal yang sama? Mungkin juga, anda pernah menangis untuk seseorang karena merasa bersalah. Tapi, pernahkah kita menangis untuk Ibu karena sampai saat ini kita belum bisa membuatnya bangga? Itu semua terjadi karena secara ngga langsung kita telah mensubstitusi kehadiran seorang Ibu dengan orang lain.

Mungkin, beberapa contoh di atas tidak semuanya terjadi dengan kita. Itu semua Cuma contoh yang saya ambil secara keseluruhan aja. Intinya, meskipun Ibu ngga pernah mengatakan kata2 kasih sayang buat kita setiap hari, seperti teman dekat pada umumnya, tapi saya yakin, kasih sayang mereka sungguh besar dan ngga ada bandingannya.

Oh ya, note ini dibuat dengan tidak ada unsur menggurui/menasihati/sok tau/sotoy dan kawan-kawannya. Ini Cuma sebagai refleksi dan bahan instropeksi diri kita saja. Yaudah deh, matahari sudah terbit, jadi sebelum berubah wujud I wanna say “happy mother’s day” semoga kita bisa menjadi sosok yang bisa dibanggakan Ibu suatu saat nanti.

See ya’ salam galau 
Category: 0 komentar

0 komentar: