Haloo~
Selamat pagi~
Postingan kali ini disponsori oleh kuliah kosong
(/‾▿‾)/ #BahagiaItuSederhana #BiasalahMahasiswa.
Emm, jadi gini... semalem saya iseng-iseng buka folder 'note' di laptop saya. Semua cerita yang saya punya, sedih, seneng, galau, pokoknya yang saya banget semuanya ada di folder itu. Dari sekian banyak list yang ada, saya menemukan sebuah dokumen berjudul 'random'. Nah, saya sendiri lupa itu dokumen isinya apaan. Apakah yang saya tulis itu ke-random-an hidup saya? Apakah saya pernah ketemu sama orang yang random abis? Apakah itu semua ada hubungannya dengan Sm*sh makan sonais? Atau ada korelasi antara dokumen 'random' itu dengan ramalan suku Maya? who knows.
Ya udah, daripada penasaran, saya buka. Dan ternyata..... isinya.... ce....ce...ccccceee..... cccceeeerrr....... cccccccceeeeeeeeeerrrrrrrrppppppeeeeeeen! Iya, sebuah cerpen yang saya sendiri lupa pernah nulis cerpen yang dikasih judul 'random'. Random abis -______-. Well, ternyata ini cerpen belum selesai, seinget saya sih ini cerpen di buat pas SMA, soalnya ada scene dimana si Tokoh ngomongin masalah pernikahan Pangeran William. Dari pada dianggurin, mending langsung baca aja ya? Itupun kalo mau baca. Saya ngga maksa kok, sumpah!
***
“kenapa? Aku salah apa sama kamu?”
Tanya Putri. Lelaki yang ada di depannya diam sejenak sambil memalingkan
wajahnya. Entah pria ini malu, takut atau memang tidak ingin menatap wajah Putri
yang sampai hari ini masih menjadi pacarnya. “Raffi jawab!” tegas Putri sambil
terus memegang tangan Raffi. “kamu ngga salah, sama sekali engga, aku Cuma
ngrasa udah ngga cocok sama kamu, aku pengin sendiri” jawab Raffi sambil
melepaskan tangan Putri. “tapi aku ngga mau, aku sayang sama kamu Raff,” jawab Putri.
Raffi mendesah dan berkata “ya terserah, intinya aku lagi pengin sendiri, jadi
jangan pernah berhubungan sama aku lagi”. Belum sempat Putri menjawab Raffi
langsung pergi meninggalkan Putri di kolam depan sekolah. Layaknya wanita lain,
tangis Putri pun pecah mendengar hal ini, dia tidak menyangka kalau ternyata
pria yang disayanginya meniggalkannya tanpa alasan yang jelas.
Raffi memang seperti itu, begitu
pasif, aneh, dan tak banyak bicara, bahkan pada pacarnya pun dia masih
tertutup. Bisa dibilang, Raffi adalah satu-satunya siswa yang tak punya banyak
teman, padahal sudah hampir dua tahun Raffi bersekolah di SMA itu. Setiap
istirahat, jarang sekali Raffi terlihat di kantin. Dia lebih sering terlihat
duduk di perpustakaan sambil membaca karangan Kahlil Gibran. Ya, Raffi memang
terlihat seperti cowok yang romantis, karena buku bacaan favoritnya. Tapi tidak
demikian, dia sama sekali tak romantis. Dia bisa berpacaran dengan Putri itu
juga bukan karena dia menyatakan cintanya, tapi Putri lah yang menyatakan
perasaannya, sampai akhirnya Raffi mau jadi pacar Putri, cewek yang paling
dikagumi banyak cowo di sekolah ini.
“Cinta,
cinta adalah satu-satunya kebebasan diatas dunia ini dia mengangkat jiwa begitu
tinggi dan hukum-hukum manusia dan kenyataan alam tak akan dapat mengubah
arahnya atau merintangi. Cinta hanyalah sebuah kemisterian, kita selalu
mengagungkan cinta dan memberi arti akan cinta. Tapi tanpa kita sadari
sebenarnya kita sendiri masih mencari jawaban akan arti cinta, bahwa sebenarnya
kita juga belum begitu memahami apa arti cinta”.
Itulah salah satu puisi cinta yang
ditulis oleh Kahlil Gibran, begitu menyentuh, mendalam, dan sangat mengena di
jiwa. Tak berbeda dengan Kahlil Gibran, semua manusia pasti merasakan cinta,
begitu juga dengan Raffi. Dan, kisah cinta yang sebenarnya dimulai.
Tahun ajaran baru dimulai, sepatu
baru, tas baru, buku baru, kelas baru, dan siswa baru, dan ya ini adalah hari
pertama masa orientasi siswa dimana ada seorang gadis polos yang berlari karena
terlambat masuk sekolah, dan ketika memasuki lobby pertemuan pertama itu
dimulai. Brakk!! Gadis yang berlari dengan mengenakan pakaian SMP ini menabrak
sesuatu, bukan tepatnya seseorang. Gadis ini menunduk karena takut. Dia hanya
melihat sepatu kets hitam dan celana abu-abu yang dipakai seseorang itu. Ah,
ini pasti kakak kelas, pikirannya buyar entah kemana, mungkinkah dia akan
dimarahi? Atau jangan-jangan dia adalah senior yang menjadi panitia MOS. Tanpa
pikir panjang gadis ini langsung meminta maaf, “maaf ka, aku ga sengaja, bener
deh, soalnya lagi buru-buru, maaf ya ka, maaf banget?” akhirnya gadis ini
memberanikan diri untuk melihat wajah pria di depannya. Ada apa ini, bukankah
pangeran William sedang berbulan madu bersama istrinya? Tapi mengapa sekarang
dia ada di depan mata. Bukan, dia lebih tepat mirip dengan…. Belum selesai fikirannya berbicara, pria yang
ada di depannya berkata datar “kalau jalan hati-hati!”. Ah iya, mirip sekali,
fikirnya dalam hati. Pria ini membenarkan tas yang dikenakannya kemudian
berjalan meninggalkan gadis yang sedari tadi tak henti-hentinya memandang.
Pandangannya kemudian tertuju pada jam yang ada di dinding lobby itu.
Jarum panjang menunjuk pukul tujuh
kurang sepuluh menit, “ah, aku telat!” akhirnya dia langsung berlari menuju
kelas baru yang ada di ujung dekat kolam. Ketika masuk, gadis ini terlihat
bingung, karena dia tak punya teman lama yang satu kelas dengannya. Matanya
tertuju pada semua arah untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Masih
dalam keadaan bingung dan berdiri tiba-tiba, kringgg!! Bel masuk berbunyi,
semua siswa yang sedang duduk santai langsung gaduh tak beraturan, mereka
keluar dari kelas layaknya kelelawar yang keluar dari gua. Begitu rusuh sampai
gadis ini tertabrak dan tasnya jatuh. Tiba-tiba seseorang mengambil tasnya dan
menaruhnya di meja dan menarik tangan gadis ini. “ayo cepat, nanti kita
terlambat ikut upacara, jangan sampai hari pertama ini kita dihukum”. Gadis ini
masih saja terlihat bingung, tadinya dia mengira bahwa yang menggandengnya
adalah pangeran William yang ia temui tadi, tapi setelah dia melihat dengan
seksama ternyata ini adalah seseorang yang lain.
Sampai di lapangan upacara, semua
baris dan bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan MOS. “hai, maaf tadi
memegang tanganmu terlalu keras, namaku Revan” sambil mengangkat tangannya
untuk bersalaman dengan gadis ini. “oh iya, ga papa, namaku Tasya” jawab gadis
yang bernama Tasya ini, dia menyambut dengan baik jabatan dari Revan. “oke,
mulai hari ini, kita teman ya?”. Akhirnya upacara pun dimulai, semua peserta
upacara Nampak terlihat rapih di tiap barisannya, terutama siswa-siwa baru.
Entah karena takut atau memang benar-benar hikmat dalam upacara, yang jelas tak
ada satupun yang asik bermain dengan dirinya sendiri, tapi tidak dengan Tasya.
Dia memang diam selama upacara berlangsung, namun yang sebenarnya, dia sedang
asik bermain-main dengan fikirannya. Seseorang yang ia tabrak pagi tadi masih
berputar-putar di otak Tasya. Saking asiknya, dia tak menyadari bahwa upacara
telah selesai, tangan badannya masih berdiri dengan sikap sempurna. “hey Tasya,
upacara sudah selesai, kenapa kamu masih diam di tempat begitu?” ucap Revan
sambil menepuk bahu Tasya. “hah? E… aa…?” Tasya terkejut bukan main, dia hanya bisa
celingukan dan masih bingung karena yang masih berada di lapangan hanya dia dan
Revan. “lll….oooh, yyyaaangg lain ma… mana?” ujar Tasya dengan gugup.
“teman-teman yang lain sudah masuk ke kelas, sebenarnya tadi aku juga sedang
menuju ke sana, tapi aku liat kamu dari tadi masih berdiri di sini. Sepertinya
kamu sedang ada masalah? Sampai-sampai kamu ngga sadar kalau upacara sudah
selesai?” Tanya Revan heran. “oh, begitu yaa? Ah, masalah? Masalah apa? Ngga
ada kok, jiwa nasionalisku kan terlalu tinggi, jadi saking seriusnya ikut
upacara, aku ngga sadar kalau ternyata upacara sudah selesai, hehehe” jawab
Tasya sambil garuk-garuk kepala. “hahaha… kamu aneh!! Ya sudahlah, ayo masuk
kelas, sebentar lagi pemberian materi akan dimulai, jangan sampai kita kena hukum
karena terlambat!” ujar Revan yang langsung meraih tangan Tasya untuk kedua
kalinya. Akhirnya mereka sedikit berlari karena memang lapangan sudah sepi. Dan
akhirnya sesuatu yang tidak diharapkan keduanya terjadi. “dari mana kalian?
Pake acara pegangan tangan segala? Memangnya kalian ngga tau sekarang jadwalnya
apa?” Tanya seseorang yang tiba-tiba
berdiri di depan mereka ketika mereka sampai di pintu kelas. Entahlah itu
siapa, tapi yang jelas di saku kirinya terpancang sebuah co-card bertuliskan
PANITIA!. Ah tidak salah lagi, ini pasti kakak panitia MOS! Fikir Tasya. “maaf
ka, kami terlambat, tadi topi saya jatuh lalu…!” belum selesai Tasya menjawab,
“bohong!"
To be continued...
***
Nah gimana? Terlalu mainstream ya? Yah, saya sendiri aja shock baca ini. Dan adegan yang paling disesalkan adalah tabrakan di lobby. Sumpah itu FTV banget (--,). Tapi ini beneran buatan saya dulu, ngga ada unsur penambahan/pengurangan sama sekali pas mau dipublish. Oh ya, ngomong-ngomong ini cerpen belum dikasih judul yak? hehe. Berhubung ngga tahu mau dikasih judul apa (karena lupa dulu alurnya mau dibuat kayak gimana) jadi biarlah cerpen ini tak berjudul. Kapan-kapan mau saya lanjutin ah ceritanya. Tungguin ya~
Hehehe,
Salam,
Diah Harni
Penulis (Amatir)