Follow Me on Twitter

Tokoh Fiksi Cowok Cuek-Bandel-Bikin-Penasaran


Hyak! Salam Blogger semuanyaaaaah!

Saya kembali datang buat nulis topik baru, hehehe.
Akhir-akhir ini saya lagi sering banget maen ke Gramedia. Engga, saya ke Gramedia bukan beli buku/novel kok, Cuma numpang baca aja di sana. Kan lumayan tuh, banyak novel-novel yang segelnya udah kebuka, udah ngga perawan lagi *Perawan! Bosomu Di…*

Sebenernya tujuannya ke Gramedia ngga harus baca novel sih, yang penting yang enak dibaca aja, dan tetep yang segelnya udah kebuka #AkuCintaGratisan. Cuma kebeneran aja, gegara nongkrongnya di rak bagian novel ya yang dibaca ujung-ujungnya novel juga *lah :|*

Sering ngga sih temen-temen nemuin Tokoh fiksi cowok yang cuek, cool, kalem, ngga banyak omong, dan yang jelas jadi pujaan banyak cewek? Dari novel-novel yang udah saya baca dari dulu sampe sekarang *ngga banyak sih* banyak nih Tokoh fiksi cowok yang karakternya cuek-bandel-dan-bikin-penasaran, . Dan biasanya tokoh yang kayak gitu malah yang jadi favorit pembaca, yee ngga? Nah, gegara itu jadi kepikiran buat nulis tentang siapa aja Tokoh cowok-fiksi-yang-cuek-bandel-dan-bikin-penasaran yang udah pernah saya baca. 

Here there are:
1. Kudou Shinichi (Detective Conan)



     Duilee, siapa yang ngga tau sama Shinichi. Kalo emang ada, kebangetan -______-. Kalo Shinichi ini Tokoh fiksi dari manga terkenal Detective Conan. Dulu saya sering banget update manganya. Sayang, sejak kelas duabelas engga pernah update lagi *Lah ini malah curhat, fokus Di.. fokus*. Nah, karakternya Shinichi ini emang cuek. Cuek banget malahan. Ngga pernah peka sama apa yang Ran rasain #Eeeaaak. Shinichi ini emang bukan tipe anak bandel. Dia cerdas kok, saking cerdasnya dia kadang Cuma mengandalkan rasionalitasnya tanpa menggunakan hati *Ecieeh Diah*. Kasian Ran, doi sering dibikin nyesek sama Shinichi yang cuek dan ngga peka, hih! Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$
  
      2. Dira (Dealova)

Kalo yang ini sih ngga usah diceritain, hampir kebanyakan orang tahu gimana karakternya si Dira ini, galak, cuek, pendiam, ketus sama kara, tapi jago main basket. Kewwl :3. Novel karya Dian Nuranindya ini udah pernah diangkat ke layar lebar, sampe ke layar televisi juga. Ngga percaya? Tunggu aja tiap akhir taun/awal taun. Ini film pasti udah muncul di RCTI, haha. 

3.   Matahari Senja (Jingga dan Senja)


      Nah, kalo yang ini Tokoh fiksi dari Novel karangannya Mbak Esti Kinasih. Si tokoh namanya Matahari Senja, dipanggilnya Ari. Kenapa namanya gitu? Katanya doih lahir pas matahari mau tenggelam gitu. Kalo yang udah baca sih, pasti tau si Ari ini karakternya gimanaan. Namanya doang yang melankolis-puitis-romantis-gimana-gitu, tapi karakternya? Beuh, Cuek, bandel, kejam, hobi tawuran, nantang sana-sini, istilah sederhananya sih sengak lah. Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$. 

    4. Adri (Dilema)
Namanya Adri, anak kelas XI IPA. Karakter pertama yang dimunculkan dari si Penulis adalah pendiam, ngga punya temen, cuek abis pokoknya. Duduknya aja sendiri di pojok belakang, jarang masuk kelas, suka ngrokok pula. Nah kan keliatan bandelnya. Di novel ini diceritakan kalo si Adri ini ditaksir sama cewek namanya Kira *Kalo ngga salah, sumpah lupa :|*. Katanya kalo pakeannya udah ngga rapih sama rambutnya acak-acakan itu bikin si doih keliatan tambah cakep. *bayangin* *oke cukup*. Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$. 


Nah, segitu dulu kali yaa Tokoh fiksi yang cuek-bandel-dan-bikin-penasaran. Jujur nih, saya sendiri sukak banget sama tokoh-tokoh fiksi yang kayak gitu. Cool, kalem, bandel, keren aja gitu kesannya, hehehe.

Baca SelengkapnyaTokoh Fiksi Cowok Cuek-Bandel-Bikin-Penasaran

Cerpen dari Masa Lalu

Haloo~
Selamat pagi~


Postingan kali ini disponsori oleh kuliah kosong (/‾‾)/ #BahagiaItuSederhana #BiasalahMahasiswa.

Emm, jadi gini... semalem saya iseng-iseng buka folder 'note' di laptop saya. Semua cerita yang saya punya, sedih, seneng, galau, pokoknya yang saya banget semuanya ada di folder itu. Dari sekian banyak list yang ada, saya menemukan sebuah dokumen berjudul 'random'. Nah, saya sendiri lupa itu dokumen isinya apaan. Apakah yang saya tulis itu ke-random-an hidup saya? Apakah saya pernah ketemu sama orang yang random abis? Apakah itu semua ada hubungannya dengan Sm*sh makan sonais? Atau ada korelasi antara dokumen 'random' itu dengan ramalan suku Maya? who knows.

Ya udah, daripada penasaran, saya buka. Dan ternyata..... isinya.... ce....ce...ccccceee..... cccceeeerrr....... cccccccceeeeeeeeeerrrrrrrrppppppeeeeeeen! Iya, sebuah cerpen yang saya sendiri lupa pernah nulis cerpen yang dikasih judul 'random'. Random abis -______-. Well, ternyata ini cerpen belum selesai, seinget saya sih ini cerpen di buat pas SMA, soalnya ada scene dimana si Tokoh ngomongin masalah pernikahan Pangeran William. Dari pada dianggurin, mending langsung baca aja ya? Itupun kalo mau baca. Saya ngga maksa kok, sumpah!

***
            “kenapa? Aku salah apa sama kamu?” Tanya Putri. Lelaki yang ada di depannya diam sejenak sambil memalingkan wajahnya. Entah pria ini malu, takut atau memang tidak ingin menatap wajah Putri yang sampai hari ini masih menjadi pacarnya. “Raffi jawab!” tegas Putri sambil terus memegang tangan Raffi. “kamu ngga salah, sama sekali engga, aku Cuma ngrasa udah ngga cocok sama kamu, aku pengin sendiri” jawab Raffi sambil melepaskan tangan Putri. “tapi aku ngga mau, aku sayang sama kamu Raff,” jawab Putri. Raffi mendesah dan berkata “ya terserah, intinya aku lagi pengin sendiri, jadi jangan pernah berhubungan sama aku lagi”. Belum sempat Putri menjawab Raffi langsung pergi meninggalkan Putri di kolam depan sekolah. Layaknya wanita lain, tangis Putri pun pecah mendengar hal ini, dia tidak menyangka kalau ternyata pria yang disayanginya meniggalkannya tanpa alasan yang jelas. 

            Raffi memang seperti itu, begitu pasif, aneh, dan tak banyak bicara, bahkan pada pacarnya pun dia masih tertutup. Bisa dibilang, Raffi adalah satu-satunya siswa yang tak punya banyak teman, padahal sudah hampir dua tahun Raffi bersekolah di SMA itu. Setiap istirahat, jarang sekali Raffi terlihat di kantin. Dia lebih sering terlihat duduk di perpustakaan sambil membaca karangan Kahlil Gibran. Ya, Raffi memang terlihat seperti cowok yang romantis, karena buku bacaan favoritnya. Tapi tidak demikian, dia sama sekali tak romantis. Dia bisa berpacaran dengan Putri itu juga bukan karena dia menyatakan cintanya, tapi Putri lah yang menyatakan perasaannya, sampai akhirnya Raffi mau jadi pacar Putri, cewek yang paling dikagumi banyak cowo di sekolah ini. 

            “Cinta, cinta adalah satu-satunya kebebasan diatas dunia ini dia mengangkat jiwa begitu tinggi dan hukum-hukum manusia dan kenyataan alam tak akan dapat mengubah arahnya atau merintangi. Cinta hanyalah sebuah kemisterian, kita selalu mengagungkan cinta dan memberi arti akan cinta. Tapi tanpa kita sadari sebenarnya kita sendiri masih mencari jawaban akan arti cinta, bahwa sebenarnya kita juga belum begitu memahami apa arti cinta”.
 
            Itulah salah satu puisi cinta yang ditulis oleh Kahlil Gibran, begitu menyentuh, mendalam, dan sangat mengena di jiwa. Tak berbeda dengan Kahlil Gibran, semua manusia pasti merasakan cinta, begitu juga dengan Raffi. Dan, kisah cinta yang sebenarnya dimulai. 

            Tahun ajaran baru dimulai, sepatu baru, tas baru, buku baru, kelas baru, dan siswa baru, dan ya ini adalah hari pertama masa orientasi siswa dimana ada seorang gadis polos yang berlari karena terlambat masuk sekolah, dan ketika memasuki lobby pertemuan pertama itu dimulai. Brakk!! Gadis yang berlari dengan mengenakan pakaian SMP ini menabrak sesuatu, bukan tepatnya seseorang. Gadis ini menunduk karena takut. Dia hanya melihat sepatu kets hitam dan celana abu-abu yang dipakai seseorang itu. Ah, ini pasti kakak kelas, pikirannya buyar entah kemana, mungkinkah dia akan dimarahi? Atau jangan-jangan dia adalah senior yang menjadi panitia MOS. Tanpa pikir panjang gadis ini langsung meminta maaf, “maaf ka, aku ga sengaja, bener deh, soalnya lagi buru-buru, maaf ya ka, maaf banget?” akhirnya gadis ini memberanikan diri untuk melihat wajah pria di depannya. Ada apa ini, bukankah pangeran William sedang berbulan madu bersama istrinya? Tapi mengapa sekarang dia ada di depan mata. Bukan, dia lebih tepat mirip dengan….  Belum selesai fikirannya berbicara, pria yang ada di depannya berkata datar “kalau jalan hati-hati!”. Ah iya, mirip sekali, fikirnya dalam hati. Pria ini membenarkan tas yang dikenakannya kemudian berjalan meninggalkan gadis yang sedari tadi tak henti-hentinya memandang. Pandangannya kemudian tertuju pada jam yang ada di dinding lobby itu. Jarum  panjang menunjuk pukul tujuh kurang sepuluh menit, “ah, aku telat!” akhirnya dia langsung berlari menuju kelas baru yang ada di ujung dekat kolam. Ketika masuk, gadis ini terlihat bingung, karena dia tak punya teman lama yang satu kelas dengannya. Matanya tertuju pada semua arah untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Masih dalam keadaan bingung dan berdiri tiba-tiba, kringgg!! Bel masuk berbunyi, semua siswa yang sedang duduk santai langsung gaduh tak beraturan, mereka keluar dari kelas layaknya kelelawar yang keluar dari gua. Begitu rusuh sampai gadis ini tertabrak dan tasnya jatuh. Tiba-tiba seseorang mengambil tasnya dan menaruhnya di meja dan menarik tangan gadis ini. “ayo cepat, nanti kita terlambat ikut upacara, jangan sampai hari pertama ini kita dihukum”. Gadis ini masih saja terlihat bingung, tadinya dia mengira bahwa yang menggandengnya adalah pangeran William yang ia temui tadi, tapi setelah dia melihat dengan seksama ternyata ini adalah seseorang yang lain.

            Sampai di lapangan upacara, semua baris dan bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan MOS. “hai, maaf tadi memegang tanganmu terlalu keras, namaku Revan” sambil mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan gadis ini. “oh iya, ga papa, namaku Tasya” jawab gadis yang bernama Tasya ini, dia menyambut dengan baik jabatan dari Revan. “oke, mulai hari ini, kita teman ya?”. Akhirnya upacara pun dimulai, semua peserta upacara Nampak terlihat rapih di tiap barisannya, terutama siswa-siwa baru. Entah karena takut atau memang benar-benar hikmat dalam upacara, yang jelas tak ada satupun yang asik bermain dengan dirinya sendiri, tapi tidak dengan Tasya. Dia memang diam selama upacara berlangsung, namun yang sebenarnya, dia sedang asik bermain-main dengan fikirannya. Seseorang yang ia tabrak pagi tadi masih berputar-putar di otak Tasya. Saking asiknya, dia tak menyadari bahwa upacara telah selesai, tangan badannya masih berdiri dengan sikap sempurna. “hey Tasya, upacara sudah selesai, kenapa kamu masih diam di tempat begitu?” ucap Revan sambil menepuk bahu Tasya. “hah? E… aa…?” Tasya terkejut bukan main, dia hanya bisa celingukan dan masih bingung karena yang masih berada di lapangan hanya dia dan Revan. “lll….oooh, yyyaaangg lain ma… mana?” ujar Tasya dengan gugup. “teman-teman yang lain sudah masuk ke kelas, sebenarnya tadi aku juga sedang menuju ke sana, tapi aku liat kamu dari tadi masih berdiri di sini. Sepertinya kamu sedang ada masalah? Sampai-sampai kamu ngga sadar kalau upacara sudah selesai?” Tanya Revan heran. “oh, begitu yaa? Ah, masalah? Masalah apa? Ngga ada kok, jiwa nasionalisku kan terlalu tinggi, jadi saking seriusnya ikut upacara, aku ngga sadar kalau ternyata upacara sudah selesai, hehehe” jawab Tasya sambil garuk-garuk kepala. “hahaha… kamu aneh!! Ya sudahlah, ayo masuk kelas, sebentar lagi pemberian materi akan dimulai, jangan sampai kita kena hukum karena terlambat!” ujar Revan yang langsung meraih tangan Tasya untuk kedua kalinya. Akhirnya mereka sedikit berlari karena memang lapangan sudah sepi. Dan akhirnya sesuatu yang tidak diharapkan keduanya terjadi. “dari mana kalian? Pake acara pegangan tangan segala? Memangnya kalian ngga tau sekarang jadwalnya apa?”  Tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di depan mereka ketika mereka sampai di pintu kelas. Entahlah itu siapa, tapi yang jelas di saku kirinya terpancang sebuah co-card bertuliskan PANITIA!. Ah tidak salah lagi, ini pasti kakak panitia MOS! Fikir Tasya. “maaf ka, kami terlambat, tadi topi saya jatuh lalu…!” belum selesai Tasya menjawab, “bohong!"

To be continued...
                                                                            ***
Nah gimana? Terlalu mainstream ya? Yah, saya sendiri aja shock baca ini. Dan adegan yang paling disesalkan adalah tabrakan di lobby. Sumpah itu FTV banget (--,). Tapi ini beneran buatan saya dulu, ngga ada unsur penambahan/pengurangan sama sekali pas mau dipublish. Oh ya, ngomong-ngomong ini cerpen belum dikasih judul yak? hehe. Berhubung ngga tahu mau dikasih judul apa (karena lupa dulu alurnya mau dibuat kayak gimana) jadi biarlah cerpen ini tak berjudul. Kapan-kapan mau saya lanjutin ah ceritanya. Tungguin ya~

Hehehe,

Salam,
Diah Harni
Penulis (Amatir)

 





Baca SelengkapnyaCerpen dari Masa Lalu
Category: , 0 komentar