Follow Me on Twitter

STOP USING “AUTIS” FOR A JOKES!!

Haloo~

*ciyeee nongol lagi, baru beberapa hari yang lalu bikin entri sekarang udah bikin yang baru aja ciyee*

beklah, itu tadi suara hati yang ngomong, abaikan ya~
langsung tancap aja ya, males basa-basi *lagian ngga tau juga harus basa-basi yang gimanaan (--,)*

Jadi ceritanya nih, saya lagi pengin ikut LPM VISI. Nah apa itu LPM VISI? LPM adalah lembaga pers mahasiswa, macam ukm yang bikin news gitu, nah kalo di FISIP namanya LPM VISI. Salah satu syarat untuk bisa screening adalah dengan membuat sebuah karya. Iyes, we have to choose tho one, pilih salah satu aja, ada artikel, cerpen, Iklan Layanan Masyarakat, karikatur, dan layout desain. Berhubung belum pede untuk bikin cerpen, belum bisa bikin Iklan Layanan Masyarakat, dan ngga bisa bikin karikatur sama layout desain, jadilah saya pilih untuk bikin artikel.

Nah di bawah ini adalah artikel buatan saya. Serius deh bikinan sendiri, kecuali ada beberapa emang sih yang ngutip dari internet *lah* tapi saya cantumin sumbernya kok, lagian yang disadur bukan bagian dari isi artikelnya, cuma tambahan sebagai penguat argumen aja. Let's check this out:

 ***


Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi normal. akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repeyiive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen 1993). Pengertian lain menyebutkan, autisme adalah perilaku anak-anak yang terlalu asik dengan dunianya sendiri, sehingga tidak mempedulikan apa yang terjadi di luar “keasikannya”. Autis bukanlah gangguan kejiwaan, bukan juga keterbelakangan mental. Anak-anak yang autis hanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, sehingga ia bisa melakukan hal-hal aneh di luar kebiasaan anak-anak seusianya.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kata autis mulai dikenal masyarakat umum. Sayangnya, banyak orang yang menggunakan kata autis sebagai guyonan atau lelucon untuk mereka. Misalnya, ketika ada seseorang yang asik bermain dengan handhphonenya sambil tertawa sendiri, maka temannya yang lain akan berkata. “dasar anak autis! Hahaha!”. Mungkin, tak ada masalah bagi orang dianggap autis tersebut diejek demikian. Begitu juga dengan orang yang berkata autis tersebut, karena tujuannya hanya untuk bercanda. Tetapi, bagi mereka yang salah satu anggota keluarganya mengidap autis, tentu akan menyakitkan. Bahkan secara kemanusiaan, hal ini sudah dianggap sangat keterlaluan.

Tak hanya itu, penggunaan kata autis semakin terkenal ketika banyak penulis, entertainer, dan aktifis-aktifis lainnya yang menggunakan kata autis dengan tidak semestinya. Sehingga merebaklah kata autis sebagai kata yang merujuk pada keanehan, dan sikap anti sosial. Di Indonesia sendiri, sudah banyak contoh tulisan-tulisan yang bertujuan menyindir seseorang atau komunitas tertentu dengan menggunakan kata autis, seperti 
  1. "Autisme Sosial: "Penyakit" Ketidakpedulian di Kalangan Masyarakat" (Mohamad Soerjani, 2003)
  2. "Parpol dan Parlemen yang Autis" (Dedi Haryadi, 2005)
  3. "Parpol dan Parlemen yang Autis" (Dedi Haryadi, 2005)
Sungguh memprihatinkan, orang-orang yang tergolong kaum intelektual pun masih saja menggunakan kata autis sebagai bahan sindiran. Sebagai orang yang terlahir normal, tak sepantasnya kita menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan. Seharusnya kita sadar, betapa memprihatinkannya kondisi seorang anak yang autis. Betapa sulitnya merawat anak yang autis. Mereka yang autis mungkin tak akan pernah merasa sakit hati dengan penggunaan kata autis sebagai bahan sindirian atau bercanda. Tetapi, bagi keluarga yang merawatnya tentu akan merasa sakit hati dan terpukul.

Di bawah ini adalah contoh kisah yang disadur dari internet, yang mungkin bisa menjadi bahan renungan untuk kita:

“Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, Anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah? anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.
 
Ditangan sebelah kiri, ada buku Food diary anakku yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat berisi apa saja yang dia cocok untuk tubuhnya, reaksi alergynya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?
 
Diusia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku, Eh, gak lama kemudian dia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuh ULAT BULU. Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant anakku malah jingkrak2, Mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila!!! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah, dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam. 

Ahhh, sudahlah life must go on anyway. Kulirik sekali lagi food diarynya.. hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yg lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini. 

Baru saja hendak memasak, tiba-tiba kudengar jeritannya. Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.
Aku keruang setrika dan disana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh BS-nya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih nempel di atas punggung tangan kirinya.!!! 

Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel dihidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel dibalik gosokan panas itu. Sumpah kalau saja ini bukan anakku, aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan. Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu. Itu sudah berubah menjadi putih kekuningan. Dan luka di tangannya juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang.
 
Aku menjerit sekencang-kencangnya. Kupanggil Baby sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur lalu dengan kesetanan, ku kebut mobilku ke UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif. Begitu anakku segera tertangani tiba2 aku kehilangan seluruh tenagaku. AKU PINGSAN! 

Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku. Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku. Damn. Oh Tuhan. Lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan. Dan sambil berjalan, dia menggaruk luka di kepalanya yang bocor? Sementara darahnya terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya. 

Tangannya berlumuran darah? Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi dia tidak menangis? Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya. Aku menjeritttt sekuat2nya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang. 

Tapi itupun gak lama? karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik, "mbak, minta handuk... CEPATTTT!! Dan lagi-lagi kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku. 

Dia tidak menangis hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan Hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar lagi-lagi aku PINGSAN. 

Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri” (forum.indogamers.com)

Jadi, masihkah kita tega untuk menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan? Semoga saja, dengan adanya cerita di atas, bisa menjadi bahan renungan agar kita lebih berhati-hati dalam bercanda. Terutama saat menggunakan kata-kata autis yang tidak seharusnya diucapkan. Peduli autis tak melulu harus dilakukan dengan langsung terjun ke lapangan. Dengan mencoba menghargai mereka yang terkena autis dan tidak menggunakan kata autis sebagai bahan candaan pun bisa menjadi salah satu indikasi bahwa kita respect dan peduli terhadap penderita autis.
 
***
Demikian artikel yang saya buat. Oh ya, menyambung dengan isi artikel di atas, bisa kali ya kita belajar untuk tidak menggunakan kata "autis" sebagai bahan candaan. Jujur saya sering mainin kata autis buat candaan, tapi gara-gara artikel yang saya buat sendiri dan baca cerita yang saya sadur dari internet tadi bikin hati saya miris. Betapa susahnya ngurus anak autis. Dan betapa anak autis itu, benar-benar butuh perlakuan khusus. Yang masih nyantol di otak saya itu pas si anak tadi kepalanya berdarah-darah tapi dia ngga nangis, tapi malah garuk-garuk kepala. Ya Allah ngga bisa membayangkan.

Nah karena itu, yuk kita sama-sama hilangkan kata autis sebagai bahan becandaan :)



Salam,


Baca SelengkapnyaSTOP USING “AUTIS” FOR A JOKES!!

Aku, Kau, dan Hujan


“Karena hujan adalah tangisan langit. Entah tangis bahagia. Entah tangis duka. Karena hujan sarat akan makna.”

Hujan memang selalu sarat akan makna. Rindu, sedih, senang, cinta, sayang, semua bisa direpresentasikan oleh hujan. Semua orang punya definisi tersendiri tentang hujan. Ada yang suka hujan. Ada yang cinta hujan. Ada yang benci dengan hujan. Ada yang biasa saja. Terserah… terserah….

Pun aku juga begitu. Kadang aku suka hujan. Kadang aku benci dengan hujan. Kadang aku suka gerimis tapi tak suka hujan. Kadang aku tak suka gerimis lebih suka hujan. Kadang aku suka bau tanah basah karena hujan. Kadang aku memuji hujan. Kadang aku menghujat hujan. Kadang biasa saja. Terserah… terserah….

Sekarang aku mau cerita tentang hujan. Betapa hujan sekarang menjadi satu-satunya sahabat yang aku punya. Menjadi satu-satunya yang paling dekat. Saat aku benci kebisingan, hujan membuat semuanya diam. Hening. Aku suka hujan mengerti. Aku suka hujan sepakat denganku.

“karena hujan, bisa membuatmu jatuh terpeleset, tersungkur, dan lemah”

Tapi aku tak suka, saat hujan mengingatkanku akan seonggok manusia. Aku ingat kau. Saat pertengkaran bodoh melalui media komunikasi dikala hujan, membuatmu tak focus dan hampir celaka, maaf ya? Saat hujan membuatmu sakit. Saat hujan melemahkanmu. Aku tak suka hujan membuatmu basah. Membuatmu ringkih.

“jika Pelangi adalah tujuan akhirmu. Mau tak mau kau harus bertemu hujan terlebih dahulu. Kadangkala, petir dan badai ikut terlibat di dalamnya juga”

Mungkin. Hujan saat ini adalah representasi dari kesendirianku. Saat ini hujan membuatku basah, dingin, dan sendiri. Tapi suatu saat, aku berharap akan ada tujuh bias warna bersatu yang aku temui. Ya. pelangi. Pelangi yang seharusnya lebih indah dari bayanganku.

Baca SelengkapnyaAku, Kau, dan Hujan
Category: 0 komentar

Serba-serbi Miss di Solo


Haloo Minna-San :)
Haloo blog walkers~
Haloo Jod (yang entah ada dimana)

Seneng rasanya, nulis lagi disela-sela kesibukan tugas *ditampar dosen*. Iya, saya emang lagi pengin konsisten nge-blog biarpun sampe sekarang mungkin ngga ada yang baca *kemudian lari ke pojok kamar, dan jongkok-tertunduk*. Yaaa kali aja, bisa bermanfaat gitu, sekalian latian nulis-nulis juga, kan pengen jadi Jurnalis *Amin Amin Amin*.

Baeklah, posting kali ini disponsori oleh kejadian sarapan pagi tadi yang salah pesen makanan di warung makan *yaiyalah masa di tukang tambal ban!*. Iya, jadi saya di sini mau bahas serba-serbi miss-nya di Solo. FYI, miss yang satu ini bukan yang kayak miss Indonesia, miss world, miss universe, apalagi miss you so much *halah*. Tapi, berhubung saya anak komunikasi, miss yang mau dibahas adalah miss komunikasi yang terjadi antara saya (sebagai anak rantau dari Purwokerto kota ngapak)  dengan orang-orang Solo.

Hampir dua bulan penuh saya menjalani hidup di Solo. Banyak banget kejadian seru, rame, sedih, seneng yang saya alami, terutama ketika berinteraksi dengan orang-orang di sini. Iyes, saya sering banget miss kalo ngomong sama orang sini. Maklum, saya dari Purwokerto yang notabene bahasanya ngapak yang ngga kayak bahasa sini. Dan dibawah ini adalah miss-miss yang sering saya temui: 
  1. Makanan
Ini yang paling sering saya temui. Masih inget banget dulu pas awal-awal di sini saya coba ke warung makan dan Tanya. 

bu ada nasi rames ngga? | *si ibu diam sambil mengerutkan dahi, dan terlihat bingung* | gimana bu? Ada ngga? | di sini jualnya nasi bungkus ii mbak? | -_____-

Saya kaget, bukannya nasi bungkus itu ya nasi rames kan? Kayaknya nasi rames juga bahasa yang universal buat orang Indonesia gitu, tapi kenapa si Ibu ini ngga ngerti? Saya mikir, mungkin Cuma Ibu ini doang yang ngga ngerti. Tapi, dilain waktu dan di lain warung makan, saya coba Tanya hal yang sama, ternyata sama orangnya juga ngga ngerti. Sampe sekarang saya masih ngga ngerti kenapa orang sini ngga tau apa itu nasi rames -____-

Yang ini cerita tentang Soto. Oh ya, saya itu Soto-ayam-holic-banget (dalam catatan ini soto banyumas bukan soto-soto lainnya) nah saya kira Soto Solo ya ngga beda jauh sama soto khas daerah saya. Eh ternyata beda jauh banget. Ekspetasi saya, waktu pesen soto di sini bentuknya kayak gini





 Tapi sesudah pesen jadinya…





Ternyata beda banget, kayak aku sama kamu~ *kemudian galau*. Kalo soto di Banyumas lebih berisi, pake ketupat, ayam, krupuk, bumbu kacang, kecambah, ahhhh enak bangett :9. Tapi kalo soto solo ngga pake ketupat, isinya Cuma bihun, ayam, sama kecambah doang, dan kuahnya beda ngga ada bumbu kacangnya juga :(

Dan, cerita yang ini baru saya alami pagi tadi. Sekitar jam sembilanan, saya pergi naik motor buat cari jodoh makan. Iya, saya ngga ngerti sama daerah kost saya kenapa tiap Sabtu-Minggu banyak warung makan tutup, kan libur kuliah ngga mesti libur makan juga (--,). Pas sampe di daerah Ngoresan, saya mampir di warung makan. Di situ ada menu semacam nasi pecel, gado-gado, sama ketropak. Nah akhirnya ketemu sama ketoprak. Ngga lama saya langsung pesen aja, dan ini bikin saya shock banget, yang dihidangkan bukan ketoprak yang khas betawi itu tapi malah…






Pertanyaan pertama yang muncul adalah: SEJAK KAPAN KETOPRAK BERKUAH?! Pffft, miss lagi miss lagi. FYI, ketoprak yang satu ini isinya ada mie kuning, potongan tahu, potongan daging sapi, kacang, sama kuah. Dan setelah diicip-icip, rasanya lebih kayak baso tapi ngga ada baksonya -____-

Padahal tadi, saya niatnya pengin ketoprak yang begini 



Iya, ketoprak khas betawi yang pake bihun, ketupat/lontong, potongan tahu, dan bumbu kacang plus krupuknya. Padahal, di Purwokerto jualnya juga gitu kok. Sebenernya tadi agak nyesel juga ngga Tanya-tanya dulu ketopraknya yang gimanaan, tapi ya sudahlah. 

2.        Bahasa
Kalau yang ini sih wajar ya, saya dari Purwokerto dan tinggal di lingkungan orang Solo, ya jelas bakal sering roaming. Kadang saya ketawa sendiri kalo ngobrol sama temen, pura-pura mudeng padahal ngga ngerti, haha. Tapi saya kagum sama orang Solo, mereka punya kosakata gaul yang orang purwokerto ngga punya. Kayak missal pacar. Kalo di Purwokerto sih pacar ya pacar aja, di sini disebutnya Yange *aneh*. Terus ada juga ngentul. Demi apapun, pertama kali saya denger kata itu pikiran saya langsung terbang kemana-mana. Ternyata, setelah diselidiki ngentul itu ternyata ngrayu/ngegombal, Yaa salaam -______- . terus ada lagi, istilah PDKT atau nyepik-nya anak sini: mbribik. Kan, aneh lagi, di tempat saya sih adanya bribik, semacam bubuk kayu yang udah rapuh gitu (._.)a 

Sekian dulu ceritanya ya~. Mungkin ke depan aka nada banyak miss-miss yang lain lagi, dan pasti akan saya posting.
Salam.
Diah Harni
Anak rantau

p.s.: catatan ini dibuat tidak untuk merendahkan makanan, budaya, dan unsur SARA lainnya di Solo. ini Cuma pendapat saya aja kok.







Baca SelengkapnyaSerba-serbi Miss di Solo
Category: 0 komentar