Follow Me on Twitter

Ibu Lebih dari Segelas Susu Coklat Hangat: Lebih Menguatkan


Akhir-akhir ini hariku benar-benar sibuk. Dampak dari kuliah di Ilmu Komunikasi adalah Take Home Examination. Ya, aku jarang mengikuti ujian tertulis. Karena memang dengan semua mata kuliah yang non eksak, adalah sebuah tidak mungkin ketika harus diuji hanya dengan waktu dua jam. Banyak yang bilang enak memang, bisa dikerjakan di rumah sambil santai dan bisa Tanya teman. Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Karena sebagian besar tugas tersebut butuh pemikiran murni dari otakmu. Ketika ada jawaban yang mirip dengan temanmu, maka bersiaplah untuk nilai D atau mungkin E.

Hampir tiap malam aku begadang, bahkan sampai jam dua pagi. Bergulat dengan tugas yang rasanya tidak ada habis-habisnya dan itu-itu saja. Jenuh. Aku jenuh ketika harus berkutat dengan artikel. Aku jenuh dengan makalah. Aku jenuh dengan politik. Aku jenuh mengerjakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dalam satu kali duduk. Jika kau bertanya, apa yang menjadi sahabat setia mahasiswa Ilmu Komunikasi di saat harus bergulat dengan tugas, internet adalah jawabannya. 

Jam tujuh malam lebih aku ditelfon Ibu, bertanya tentang bagaimana hariku. Ya, itu adalah sebuah “ritual” yang setiap malam ibuku lakukan. Menelfon anaknya hanya untuk bertanya seputar hal yang sama: hari ini pulang jam berapa, sudah makan berapa kali, dan sekarang sedang apa. Aku sampai hafal dengan tiga pertanyaan itu. Sampai terkadang aku malas menjawab. Aku bosan ditelfon Ibu terus. 

Tapi malam itu beda. Nada suaraku memang terkesan malas untuk menjawab, sampai beliau Tanya, “baru bangun ya? Beli susu sana, biar ngga lemes.” Yah, beliau memang (masih) selalu menyarankan anaknya untuk beli susu, beliau percaya susu bisa bikin anaknya kuat. Aku menjawab sambil duduk di depan laptop, dimana ada tiga tab Ms. Word yang aku buka, salah satunya sudah kuberi judul “Makalah Komunikasi”. Masih dalam nada malas (atau memelas) aku menjawab semuanya,

“Aku ngga tidur Bu, aku masih berkutat dengan tugas. Aku capek dengan tugas yang tak kunjung selesai ini, Aku kangen Bapak Ibu, Aku pengin pulang”

Semua mengalir begitu saja, dua kalimat terakhir adalah apa yang paling aku rasakan sekarang. Aku pengin pulang, bertemu Bapak Ibu. Aku ingin berada di tengah keluarga yang hangat. Aku masih ingat, dulu setiap aku belajar, Ibuku selalu membuatkan segelas susu coklat hangat. Selalu mengelus kepala sambil menyemangati aku yang sedang belajar. 

Berbeda dengan sekarang. Aku hanya duduk saling berhadapan dengan benda digital yang hampir aku bosan menyentuhnya. Berada dalam kamar yang dikelilingi tembok putih. Aku memang bisa main ke kamar sebelah, agar bisa ada teman. Tapi bukan itu yang aku butuhkan. Aku butuh Ibuku di sini. Aku butuh lebih dari segelas susu coklat yang Ibu bilang bisa bikin kuat. Aku butuh Ibuku yang bisa menguatkan. 

Seperti biasa, Ibuku Cuma bisa berdoa agar tugas cepat selesai, dan memberi kalimat-kalimat motivasi, “ngga papa prihatin, jauh dari orang tua. Kamu pulangnya besok sekalian libur semester saja. Bulan ini ngga ada tanggal merah, kasian kamu nanti kalau pulang Cuma dua hari, kamu capek di jalan.” Begitu kira-kira kata Ibu untuk menjawab pernyataanku, bu aku pengin pulang. Telfon sudah ditutup. Aku menghela nafas panjang, bergumul lagi dengan tugas yang mau tak mau harus dikerjakan. 

Jam sepuluh lebih handphone-ku bunyi lagi. Dengan ringtone dari Maroon 5-One more night, kulihat siapa yang menelfon, ternyata Ibuku telfon lagi. Beliau Tanya apa aku masih mengerjakan tugas, saat kujawab “ya, masih banyak, mungkin begadang sampai tengah malam nanti.” Ibuku langsung bicara panjang, memotivasi anaknya agar tugasnya selesai. Aku tersenyum sambil jawab sekenanya, saat aku Tanya mengapa beliau belum tidur, beliau bilang ngga bisa tidur kepikiran anaknya yang terakhir. Ya aku. Aku diam untuk beberapa detik, masih duduk dengan posisi yang sama saat Ibu telfon jam tujuh malam tadi. Masih didepan halaman Ms. Word dengan judul yang sama. Hanya satu yang berbeda, dari sudut kedua mata ada yang menetes. Semakin banyak…. Semakin banyak…. 

Aku terharu Ibu sampai ngga bisa tidur, bahkan telfon sampai dua kali. Aku jawab semua pernyataaan Ibu sambil mengatur nafas, agar beliau tidak tahu apa yang terjadi. Nanti malah jadi kepikiran, dan beliau tambah ngga bisa tidur, pikirku. Aku tidak tahu Ibu tahu atau tidak aku menangis, semoga tidak. 

Percakapan di telefon sudah selesai. Aku duduk lemas termenung atas semua ucapan Ibu tadi. Betapa beliau begitu menyayangi anaknya. Betapa kasih sayang beliau memang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dan karena Ibu lebih dari segelas susu coklat hangat, lebih menguatkan. 

 Hatiku sudah tenang di telfon Ibu dua kali. Aku merasa lebih kuat sekarang, meskipun rasa kangen untuk pulang ke rumah belum terlampiaskan. Kini kuatur nafas kembali, melemaskan jari tangan, membiarkannya menari di atas keyboard, untuk sebuah misi: menyelesaikan tugas.
Baca SelengkapnyaIbu Lebih dari Segelas Susu Coklat Hangat: Lebih Menguatkan

Gajah Mati Meninggalkan Gading, Kamu Mati Meninggalkan Apa...?


Halloo~
Selamat pagi~

Ehem *check sound*. Setelah agak lamaan ngga ngeblog, akhirnya sekarang ngeblog juga, yeay! Yak, FYI, saya lama ngga ngeblog karena sibuk *sok sibuk* *dikeplak*. Iyes, sibuk karena ngerjain tugas-tugas dosen yang kadang tidak berperikemahasiswaan. *semoga ngga ada dosen yang baca*

Nah, posting kali ini disponsori oleh acara begadang tadi malem. Jadi, tadi malem itu saya mantengin Youtube dari jam sepuluh sampe jam setengah satuan *eh buseet*. Ngga sih, begadang semalem bukan bagian dari tugas. Berawal dari iseng-iseng nulis keyword “warkop DKI” di tab search, ternyata banyak loh yang upload film-film para comedian legendaris tersebut. Ya udah, saya pilih satu film yang judulnya “Saya Suka Kamu Punya” *kemudian hening*.... 

No! Saya milih bukan berdasarkan judulnya yang agak gimana. Tapi saya pilih judul itu karena keliatannya itu film paling jadul diantara judul lain yang saya temui. Bukan, saya tau itu film paling lama bukan karena hafal judul dan isi ceritanya, tapi itu dilihat dari gambarnya yang jadul banget.

Saya bener-bener nyimak film itu sampe akhir. Meskipun mengeluh ditengah-tengah film “yah, ini sih udah pernah nonton”, tapi nyatanya saya tetep masih bisa menikmati film tersebut. Lucu, penuh dengan dialog khas mereka. Padahal, lelucon yang mereka bawakan itu terjadi di tahun dimana saya belum lahir. Dan semakin ke sini, konsep lawakan tiap comedian itu kan berubah seiring berjalannya waktu.Tapi ini ngga berlaku untuk mereka (Warkop DKI:red). Buat saya, lawakan khas mereka itu Ngga ada matinya. Meskipun sudah berkali-kali nonton (bahkan sampe hafal beberapa dialognya) mereka berhasil membuat saya tertawa, dan itu ngga ngebosenin. 

Setelah film selesai, saya scroll mouse laptop ke bawah untuk lihat komentar dari para Youtube-ers *mbuh opo jenenge*, dan di situ ada yang komen, “Sayang ya, Dono dan Kasinonya sudah Almarhum, kalau mereka masih hidup, mungkin mereka masih ngelucu sampe sekarang.” Terus saya mikir, Iya juga ya, dua diantara mereka sudah meninggal, tapi karya mereka masih bisa dinikmati orang.
Saya langsung inget sama pepatah:

“ Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”

Dua dari WARKOP DKI memang sudah meninggal. Tapi, mereka mati tak hanya sekedar meninggalkan nama, tapi karya. Iya, sampai kapanpun karya mereka masih bisa dinikmati banyak orang, masih bisa bikin orang terhibur, dan yang jelas mereka masih bermanfaat untuk orang lain meski mereka sudah ngga ada.

Saya pun berkontemplasi dan bertanya pada diri sendiri, kalau saya mati mau meninggalkan apa…? Sebenarnya saya sudah ada niat dari dulu, saya ingin jadi penulis, entah itu personal literature atau novel fiksi... Tapi terkadang niat itu hilang karena saya males nulis, dan sering menyalahkan keadaan dengan bilang “aku ngga punya waktu”. Niat dan semangat saya akan muncul kembali kalau saya baca novel, dan bilang, “saya harus nulis!”.

Tapi, semakin ke sini, saya mau memantapkan diri untuk menulis. Mungkin teman-teman pernah baca status saya yang ini:



Iya, itu target kalau tulisan saya harus selesai Juli 2013. Padahal, sampai sekarang saya belum nulis sama sekali -______-. Kemarin, saya juga baru mencatat daftar mimpi saya di buku, dan ‘menulis’ menjadi bagian dari daftar tersebut. Yah, mungkin saya terlalu idealis untuk bilang Juli mendatang tulisan saya harus selesai. Saya sendiri masih ragu, dan suka ngomong sama diri sendiri, Hae Mahasiswa, nulis itu ngga segampang yang kamu kira, yakin delapan bulan lagi selesai?

Ya, kapanpun itu saya harus mulai nulis! Pun seandainya target saya belum tercapai, yang penting saya sudah mencoba untuk menulis. Karena  saya ingin punya ‘sesuatu’ yang bisa membuat orang bergumam, jadi ini karyanya Diah Harni. Dan yang jelas, saat saya meninggal nanti, saya tak hanya sekadar meninggalkan nama, tapi juga sebuah karya.

*Semoga Tuhan memberi saya panjang umur, Amin.*
 

Baca SelengkapnyaGajah Mati Meninggalkan Gading, Kamu Mati Meninggalkan Apa...?
Category: 2 komentar