Akhir-akhir ini
hariku benar-benar sibuk. Dampak dari kuliah di Ilmu Komunikasi adalah Take
Home Examination. Ya, aku jarang mengikuti ujian tertulis. Karena memang dengan
semua mata kuliah yang non eksak, adalah sebuah tidak mungkin ketika harus
diuji hanya dengan waktu dua jam. Banyak yang bilang enak memang, bisa
dikerjakan di rumah sambil santai dan bisa Tanya teman. Tapi itu tidak
sepenuhnya benar. Karena sebagian besar tugas tersebut butuh pemikiran murni
dari otakmu. Ketika ada jawaban yang mirip dengan temanmu, maka bersiaplah
untuk nilai D atau mungkin E.
Hampir tiap
malam aku begadang, bahkan sampai jam dua pagi. Bergulat dengan tugas yang
rasanya tidak ada habis-habisnya dan itu-itu saja. Jenuh. Aku jenuh ketika
harus berkutat dengan artikel. Aku jenuh dengan makalah. Aku jenuh dengan
politik. Aku jenuh mengerjakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dalam satu
kali duduk. Jika kau bertanya, apa yang menjadi sahabat setia mahasiswa Ilmu
Komunikasi di saat harus bergulat dengan tugas, internet adalah jawabannya.
Jam tujuh malam
lebih aku ditelfon Ibu, bertanya tentang bagaimana hariku. Ya, itu adalah
sebuah “ritual” yang setiap malam ibuku lakukan. Menelfon anaknya hanya untuk
bertanya seputar hal yang sama: hari ini pulang jam berapa, sudah makan berapa
kali, dan sekarang sedang apa. Aku sampai hafal dengan tiga pertanyaan itu.
Sampai terkadang aku malas menjawab. Aku bosan ditelfon Ibu terus.
Tapi malam itu
beda. Nada suaraku memang terkesan malas untuk menjawab, sampai beliau Tanya,
“baru bangun ya? Beli susu sana, biar ngga lemes.” Yah, beliau memang (masih)
selalu menyarankan anaknya untuk beli susu, beliau percaya susu bisa bikin
anaknya kuat. Aku menjawab sambil duduk di depan laptop, dimana ada tiga tab
Ms. Word yang aku buka, salah satunya sudah kuberi judul “Makalah Komunikasi”.
Masih dalam nada malas (atau memelas) aku menjawab semuanya,
“Aku ngga tidur
Bu, aku masih berkutat dengan tugas. Aku capek dengan tugas yang tak kunjung
selesai ini, Aku kangen Bapak Ibu, Aku pengin pulang”
Semua mengalir
begitu saja, dua kalimat terakhir adalah apa yang paling aku rasakan sekarang.
Aku pengin pulang, bertemu Bapak Ibu. Aku ingin berada di tengah keluarga yang
hangat. Aku masih ingat, dulu setiap aku belajar, Ibuku selalu membuatkan
segelas susu coklat hangat. Selalu mengelus kepala sambil menyemangati aku yang
sedang belajar.
Berbeda dengan
sekarang. Aku hanya duduk saling berhadapan dengan benda digital yang hampir
aku bosan menyentuhnya. Berada dalam kamar yang dikelilingi tembok putih. Aku
memang bisa main ke kamar sebelah, agar bisa ada teman. Tapi bukan itu yang aku
butuhkan. Aku butuh Ibuku di sini.
Aku butuh lebih dari segelas susu coklat yang Ibu bilang bisa bikin kuat. Aku
butuh Ibuku yang bisa menguatkan.
Seperti biasa,
Ibuku Cuma bisa berdoa agar tugas cepat selesai, dan memberi kalimat-kalimat
motivasi, “ngga papa prihatin, jauh dari orang tua. Kamu pulangnya besok
sekalian libur semester saja. Bulan ini ngga ada tanggal merah, kasian kamu
nanti kalau pulang Cuma dua hari, kamu capek di jalan.” Begitu kira-kira kata
Ibu untuk menjawab pernyataanku, bu aku
pengin pulang. Telfon sudah ditutup. Aku menghela nafas panjang, bergumul
lagi dengan tugas yang mau tak mau harus dikerjakan.
Jam sepuluh
lebih handphone-ku bunyi lagi. Dengan
ringtone dari Maroon 5-One more night, kulihat siapa yang menelfon, ternyata
Ibuku telfon lagi. Beliau Tanya apa aku masih mengerjakan tugas, saat kujawab
“ya, masih banyak, mungkin begadang sampai tengah malam nanti.” Ibuku langsung
bicara panjang, memotivasi anaknya agar tugasnya selesai. Aku tersenyum sambil
jawab sekenanya, saat aku Tanya mengapa beliau belum tidur, beliau bilang ngga
bisa tidur kepikiran anaknya yang terakhir. Ya aku. Aku diam untuk beberapa
detik, masih duduk dengan posisi yang sama saat Ibu telfon jam tujuh malam
tadi. Masih didepan halaman Ms. Word dengan judul yang sama. Hanya satu yang
berbeda, dari sudut kedua mata ada yang menetes. Semakin banyak…. Semakin
banyak….
Aku terharu Ibu
sampai ngga bisa tidur, bahkan telfon sampai dua kali. Aku jawab semua
pernyataaan Ibu sambil mengatur nafas, agar beliau tidak tahu apa yang terjadi.
Nanti malah jadi kepikiran, dan beliau
tambah ngga bisa tidur, pikirku. Aku tidak tahu Ibu tahu atau tidak aku
menangis, semoga tidak.
Percakapan di
telefon sudah selesai. Aku duduk lemas termenung atas semua ucapan Ibu tadi.
Betapa beliau begitu menyayangi anaknya. Betapa kasih sayang beliau memang
tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dan
karena Ibu lebih dari segelas susu coklat hangat, lebih menguatkan.
Hatiku sudah tenang di telfon Ibu dua kali.
Aku merasa lebih kuat sekarang, meskipun rasa kangen untuk pulang ke rumah
belum terlampiaskan. Kini kuatur nafas kembali, melemaskan jari tangan,
membiarkannya menari di atas keyboard, untuk sebuah misi: menyelesaikan tugas.

