Follow Me on Twitter

Review Film Rectoverso: Cinta Yang Tak Terucap


Hai~
Hallo~
Ehem… check check *benerin mic*
Duh, setelah lama ngga ngeblog, kok rasanya canggung banget buat nulis, ya? Rasanya kayak lama ngga ketemu mantan, eh tiba-tiba ketemu di tempat yang ngga terduga, kan canggung. Ya, kan? Ya, kan? #Oke #Abaikan.

Entah, sudah berapa dekade saya ngga ngeblog, padahal dua bulan kemarin saya libur semester. Seharusnya sih, momen-momen seperti itu bisa dimanfaatkan buat ngeblog, itung-itung latihan nulis, tapi ya, entahlah. *ngomong uopoooh*

Sebenarnya, tanggal 22 kemarin saya dapat musibah. Ya,  Ayah saya meninggal *true sad story* karena penyakit jantung. Ada banyak hal yang ingin saya tuangkan di sini, mengenai firasat, dan segala rasa yang berkecamuk di sini *nunjuk hati* tapi, saya belum siap. Belum siap untuk cerita mengenai musibah 22 Januari itu, ya I’ll tell y’all someday. Sekarang, yang saya ingin ceritakan bukan itu.

Jadi, ceritanya seminggu yang lalu, saya sama @ashfiyanura nonton film terbarunya Mbak Dee: Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap. Sekarang saya mau latihan review filmnya, kalau agak-agak spoiler, maaf, ya? Kan baru latihan. Mehehehe… *nyengir-nyengir bidadari*



Rectoverso: Cinta Yang Tak Terucap, merupakan film yang diadaptasi dari novel karya Kak Dee yang berjudul sama: Rectoverso. Film ini mengangkat lima cerita pendek dari sebelas cerita yang ada di novel  tersebut menjadi sebuah film yang setting dan alurnya berbeda satu sama lain tapi memiliki benang merah, yaitu: cinta yang tak terucap. Aiiiih~ *kemudian galau*. Kelima cerita pendek itu disutradai oleh lima orang kakak-kakak (yang menurut saya) cantik dan keren dalam mengemas ceritanya. Here there are:

1.      Malaikat Juga Tahu (Marcella Zallianty)
Film ini bercerita tentang seseorang yang menderita autis bernama Abang (diperankan oleh Lukman Sardi) yang jatuh cinta dengan Leia (Prisia Nasution) yang kebetulan ngekost di tempat ibunya si Abang ini. Prisia ini satu-satunya orang yang paling dekat dan mengerti Abang, mungkin inilah yang membuat si Abang jatuh hati sama Leia. Tapi, secara tiba-tiba Hans (Adik dari Abang) pulang dari rantau *halah* *luar negeri maksudnya* dan mulai jatuh cinta juga sama Leia. Sayangnya, (entah sayangnya atau untungnya) Leia juga ngga bisa bohong kalau doi jatuh cinta juga sama Hans. Nah loh, terus gimana nasib Abang? Haruskah dia terluka?

2.     Firasat (Rachel  Maryam)
Cerita ini berkisah tentang Senja (Asmirandah) yang rutin mengikuti suatu klub ‘firasat’ setiap minggu. Semua berawal dari firasat buruk yang selalu menghantui setiap kali ia akan ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Sampai akhirnya, di klub firasat itu, Senja mulai menaruh hati pada Panca (Dwi Sasono), ketua dari klub tersebut. Tapi, firasat buruk yang selalu menghantuinya tentang Panca membuatnya merasa takut akan kehilangan lagi. Pada akhirnya, hal buruk memang terjadi. Apa itu? Nonton aja, Brooh~

3.      Curhat Buat Sahabat (Olga Lidya)
Dari judulnya aja, udah kelihatan kalau film ini bercerita tentang persahabatan. Yap, Amanda (Acha Septriasa) adalah orang yang sangat terbuka terhadap sahabatnya, Reggie (Indra Birowo). Setiap kisah cinta yang dilalui Amanda, selalu ia tumpahkan curhatannya ke Reggie. Reggie ini adalah tipikal orang yang pendiam atau, ya pendengar yang baik. Setiap kali Amanda ingin bercerita tentang pacarnya, Reggie selalu meluangkan waktunya untuk bisa mendengarkan. Sayangnya, semua pacar-pacar Amanda berlalu begitu saja. Kebanyakan dari mereka tak ada yang benar-benar tulus mencintai Amanda. hingga di sebuah kafe ia bercerita pada Reggie betapa sedihnya ia ketika ia sakit tapi tak ada yang memperhatikannya, bahkan pacarnya sekalipun, untuk sekadar datang dan membawakannya air putih+obat. Tanpa disadari, saat Amanda bercerita ia baru ingat, bahwa Reggielah satu-satunya orang yang rela hujan-hujanan dan datang ke rumahnya untuk membawakannya air putih+obat. Yaa, kita memang sering disibukkan dengan pencarian orang yang kita butuhkan, tanpa sadar kalau sebenarnya orang yang kita butuhkan itu sudah ada dari dulu. How sweet~ *anyway itu quotes sendiri, bukan dari filmnya*

4.      Hanya Isyarat (Happy Salma)
Cerita ini berkisah tentang lima backpackers yang bertemu di sebuah tempat, dan Al adalah satu-satunya cewek dari kelima backpackers tersebut. Dalam film ini diceritakan, bahwa Al secara diam-diam jatuh cinta sama Raga, tapi sayang Al Cuma bisa menikmati kegantengan *halah* sosok Raga dari kejauhan dan siluetnya aja, karena ia ngga berani mendekat dan selalu jaga jarak. Ya namanya juga secret admirer, malu-malu tapi kepo gitu~ Sampai di suatu malam di pinggir pantai, Al mau bergabung bersama 4 backpackers lainnya untuk bisa bercengkrama satu sama lain. Dalam obrolan mereka, mereka membuat perlombaan harus menceritakan kisah hidupnya yang paling sedih. Finally, Al dinobatkan sebagai pemenang, ia senang sekaligus sedih karena dari lomba itu ia tahu masa lalu dan kisah hidup Raga, dan ia juga tahu bahwa sosok Raga ini ngga bisa dimiliki, Cuma bisa ia pandangi aja. Fufufufu~ namanya juga secret admirer~

5.      Cicak di Dinding (Cathy Saron)
Bukan, film ini bukan film yang berkisah tentang cicak yang jatuh cinta, it’s totally not -____-. Kisahnya berawal dari Bram, seorang pelukis muda yang secara ngga sengaja bertemu dengan Saras (wanita penghibur dan lebih tua) di sebuah kafe. Pertemuan yang secara tidak sengaja itu membuat kesan—you-know-lah—yang ngga akan pernah dilupakan oleh Bram. Di lain hari, mereka secara ngga sengaja juga bertemu lagi, akhirnya mereka menghabiskan waktu berdua saat itu. Karena momen itu, Bram akhirnya jatuh cinta pada Saras, tapi setelah pertemuan mereka yang terakhir, Saras tiba-tiba menghilang begitu aja. Bram sedih dan benar-benar terpukul. Beberapa tahun kemudian Bram dan Saras bertemu lagi, namun dengan kondisi dimana Saras sudah punya calon yang ternyata calon itu adalah teman Bram sendiri. Meski berat, Bram mencoba untuk menerima kenyataan. Aiiih~ *Bosomu, Di*
 Terus, kenapa judulnya Cicak di Dinding? Shall I tell you? -____- jadi si Saras ini ceritanya suka banget sama Cicak, sampai dibuat tattoo di salah satu bagian tubuhnya. Dan Bram juga suka sama cicak (atau karena Saras suka jadi ikutan suka), menurutnya. Cicak itu melindungi manusia dari gigitan nyamuk, tapi sayang banyak manusia yang ngga menyadarinya *Duh, bukan gitu sih quotesnya, tapi lupa. Intinya itu*

Overall film ini saya kasih two thumbs up! *nyodorin jempol*. Kalau dilihat dari isi ceritanya, sebenarnya semuanya adalah cerita yang sederhana, ngga muluk-muluk, ngga terlalu drama. Tapi film ini sukses bikin saya nyesek dan ngena sampai ulu hati *halah*. Ya, mungkin karena cara pengemasannya yang apik, lagi pula film yang dibuat dari beberapa cerita pendek juga belum terlalu populer di Indonesia, jadi film ini bisa menjadi salah satu angin segar bagi penonton yang bosan dengan alur cerita di film yang itu-itu aja.  

Oh, ya, dari kelima cerita tersebut, saya pribadi paling suka dengan Malaikat Juga Tahu-nya Kak Marcella Zallianty. Kisah cinta yang ngga terlalu mainstream mungkin bisa jadi alasannya. Om Lukman Sardi ini juga totally perfect dalam memainkan perannya sebagai seorang autis, benar-benar menyentuh, lihat aja gimana dia sakit dan patah hati ketika tahu Leia pergi, ketika tahu cintanya sudah tidak akan pernah terbalas, cara dia berekspresi sebagai orang autis yang kehilangan orang terkasih, totally awesome! Peran Leia yang dimainkan oleh Kak Prisia Nasution ini juga pas banget. Terlihat natural dan sederhana.

Untuk ratting nomor dua, saya suka dengan Curhat Buat Sahabatnya Kak Olga Lidya. Entahlah, di luar sana banyak yang bilang kalau film ini biasa aja, tapi buat saya engga. Di film ini saya bisa lihat gimana setianya Reggie yang selalu ada buat Amanda. Mungkin karena friendzoned gitu, jadi Reggie ngga bisa mengungkapkannya dengan kata-kata kalau sebenarnya dialah orang yang selama ini Amanda cari. Peran Amanda yang dimainkan sama Acha Septriasa ini juga pas banget: supel dan ekspresif. Cara Acha menangis, bercerita, semua ngalir gitu aja, and I love it!

Untuk tiga film lainnya, bagus sih, Cuma saya merasa biasa aja dan kurang greget. Apalagi, film Hanya Isyarat, entah kenapa rasanya kurang mengena, mungkin karena sosok yang memerankan tokoh Raga kurang pas, jadi terlihat biasa aja.




Baca SelengkapnyaReview Film Rectoverso: Cinta Yang Tak Terucap
Category: 0 komentar