Setelah penat dan begitu tergesa-gesa mengerjakan soal akuntansi yang berlatar belakang syariah, kuputuskan untuk main sebentar ke perpustakaan. Ah ya, rasanya sejak semester 2 datang, aku belum sempat menggauli tempat itu. Entah sejak kapan hobbi dadakan ini datang, yang jelas saat ini aku sedang nyaman dengan membaca. Bukan, bukan membaca materi UN atau mata pelajaran yang lainnya, karena membaca materi UN adalah sebuah “keharusan” bukan “kenyamanan.”
Saat masuk ke perpustakaan, tempat pertama yang selalu kukunjungi adalah lemari referensi. Di sana ada banyak buku-buku pengembangan diri yang cukup menarik perhatian. Sebuah buku berukuran standar dengan ketebalan kira-kira 3 cm tiba-tiba saja memaksaku untuk mengambilnya. Dalam sampulnya tertulis “Remaja Revo.” Tanpa pikir panjang kubaca buku itu halaman demi halaman, ada banyak kata motivasi di sana, atau lebih tepat disebut sugesti untuk para remaja yang ingin meraih mimpi. Hingga dari sekian halaman, kutemukan sebuah Quotes yang sedikit banyak membangkitkan semangat:
“Harapan adalah kewajiban, dia bukan suatu kemewahan. Harapan bukan sebuah impian, tapi harapan adalah kekuatan untuk mengubah impian menjadi sebuah kenyataan.” (Dr. Henry Viscardi dalam Remaja Revo).
Quotes itu kembali mengingatkanku akan sebuah mimpi yang kupunya. Mimpi yang sempat menguap bersama dengan waktu dan kejenuhan. Sepertinya mimpi itu kini mulai berkondensasi lagi, membentuk molekul-molekul kekuatan baru untuk bisa menjadikannya menjadi sebuah realita.
Ya, mari bermain-main sebentar dengan dunia impian dan sejenak meninggalkan dunia nyata, kenapa? Karena seringkali mimpimu berbenturan dengan realita dan itu menyakitkan, maka tinggalkanlah untuk sejenak saja. Bayangkan ada seorang perempuan muda, yang belum lama memiliki KTP (bukan berarti tua, tapi dewasa), dan perawakannya bisa dibilang cukup kurus bersepeda menggunakan sepeda fixie menuju kampus fisipol. Tak kurang, sepasang handsfree melekat pada sepasang telinganya, pakaian yang necis dibalut dengan jas almamater kampus “biru.” Ah ya, intermezzo yang sempurna! Tunggu, itu belum selesai. Sesampainya di kampus fisipol dia mengeluarkan kamera SRLnya dan mengambil gambar apa saja yang bisa dijadikannya sebagai objek, haha aku gila!
“bermimpi itu gratis, jadi bermimpilah yang sebesar-besarnya!” begitulah sebuah kalimat di halaman selanjutnya dalam buku itu. Benarkah kalimat itu? Entahlah, kurasa tidak sepenuhnya. Tak ada yang gratis di dunia ini, bagitu juga mimpimu. Kau harus bisa mengubahnya menjadi sebuah realita, dan itulah harga yang harus kau bayar! Bahkan, komentar dan tanggapan negative dari orang-orang disekitarmu pun harus kau terima sebagai harga yang harus kau bayar akan mimpimu itu.
Pernah suatu ketika, ngga sengaja baca status orang:
XY: Semoga bisa masuk di ilmu Gizi di Institut Bla Bla Bla, Amin
XX: wuidih keren, tapi saingannya ketat loh? Harus mapan di biologi juga, apalagi di Institut itu? Saingannya berat!!
XY: Iya Insya Alloh mau ambil itu. (mungkin mbatin=asem dikacangin!)
Di lain waktu, ngga sengaja lagi baca note orang, mengenai mimpinya yang ingin masuk sastra Inggris namun banyak yang memprotesnya. “emang nanti mau kerja apa? Emang bisa disitu?” dalem ya? Lain lagi kisah seorang XX’ yang satu ini:
XX: mau ambil apa kuliah nanti?
XX’: pengin ambil jurusan Ikom, di Universitas blablabla
XX: wah kalo undangan ngga takut apa saingannya banyak?
XX’: bukan kok, bukan undangan, tapi tertulis.
XX: wah, apalagi tertulis, quotanya kan sedikit yang bisa diterima
XX’: haha, ngga papa, bismillah aja deh (untung lagi ngga pegang benda tajem)
Ya, mungkin 3 orang di atas adalah sekelompok orang yang mungkin dianggap “remeh” oleh orang lain. Mimpinya terlalu tinggi, terlalu gila, atau bahkan terlalu nekad. Ada banyak hal yang mendasari mereka berkata demikian, bisa jadi salah satu faktornya adalah karena 3 orang ini punya mimpi yang tak sesuai latar belakang mereka, bahkan terpaut sangat jauh. Atau mungkin juga, “slentingan-slentingan” yang didengar 3 orang ini adalah sebuah warning untuk dijadikan sebagai bahan instropeksi diri. Tak salah memang, apapun itu yang jelas biarkan saja komentar-komentar datang mengalir. Dengarkanlah, resapi, dan cukup sampai di situ saja. Jangan biarkan mereka mengobrak-abrik mimpimu yang suci. Karena sejatinya, yang berhak bergelut dan ikut campur dalam pencapaian mimpi adalah Tuhan. Sekalipun kau dianggap gila. Ya, aku gila, kau gila, kita semua gila, lalu apa? Biarkanlah kita berada dalam koridor kegilaan ini, toh kita yang menjalani. Lagi pula apa yang salah dengan pungguk yang merindukan bulan? Tak ada. Seorang Neil Amstrong bisa mematahkan teori itu, karena dia sudah pernah menjajakan kakinya di bulan. Begitu juga dengan mimpimu, mimpiku, mimpi kita. Apa yang salah dengan mimpi seorang anak IPA ingin masuk di jurusan IPS di Ilmu Komunikasi? Apa yang salah dengan mimpi seseorang yang ingin menjadi ahli gizi? Apa yang salah dengan mimpimu ingin bergelut di dunia sastra Inggris? Adakah yang bisa memberikan jawaban?
Ya, mungkin aku gila, ilmuku dua tahun ini tak terpakai, sia-sia, terlalu nekad, begitu kata mereka. Lalu apa? Ah, kukira itu hanya sebuah prestise. Segala sesuatu yang bersifat baik tak akan sia-sia. Dan karena “menanam kebaikan adalah investasi jangka panjang” (Bu Luthfi). Apakah aku harus meninggalkan kegilaan ini, dan mensubstitusi mimpiku sesuai dengan apa yang kupelajari dua tahun ini tapi jiwaku sama sekali tak berada di situ? Jadi mana yang lebih gila? Mempertahankan sebuah kegilaan ataukah harus menceburkan diri dalam dunia kewarasan yang sejatinya lebih gila buatku? Ah aku gila.
Tak ada yang tahu memang kemana kaki ini berhenti melangkahkan kaki untuk 4 tahun mendatang. Mungkin saja di daerah Bulaksumur sana, mungkin di daerah utara sana, mungkin di sekitar keraton Surakarta, atau bahkan mungkin berhenti di kota Purwokerto tercinta. Ah, aku tak tahu. Aku tak ingin lelah menebak-nebak rahasia Tuhan, biarlah Dia yang menuntunku atas kegilaan ini. semoga aku, kau, kita yang gila serta mereka yang waras senantiasa diridhoi dalam setiap jalan yang kita tempuh masing-masing! Amin…
Baca Selengkapnya → Aku Gila, Kau Gila, Kita Gila! (Kecuali Mereka)
Saat masuk ke perpustakaan, tempat pertama yang selalu kukunjungi adalah lemari referensi. Di sana ada banyak buku-buku pengembangan diri yang cukup menarik perhatian. Sebuah buku berukuran standar dengan ketebalan kira-kira 3 cm tiba-tiba saja memaksaku untuk mengambilnya. Dalam sampulnya tertulis “Remaja Revo.” Tanpa pikir panjang kubaca buku itu halaman demi halaman, ada banyak kata motivasi di sana, atau lebih tepat disebut sugesti untuk para remaja yang ingin meraih mimpi. Hingga dari sekian halaman, kutemukan sebuah Quotes yang sedikit banyak membangkitkan semangat:
“Harapan adalah kewajiban, dia bukan suatu kemewahan. Harapan bukan sebuah impian, tapi harapan adalah kekuatan untuk mengubah impian menjadi sebuah kenyataan.” (Dr. Henry Viscardi dalam Remaja Revo).
Quotes itu kembali mengingatkanku akan sebuah mimpi yang kupunya. Mimpi yang sempat menguap bersama dengan waktu dan kejenuhan. Sepertinya mimpi itu kini mulai berkondensasi lagi, membentuk molekul-molekul kekuatan baru untuk bisa menjadikannya menjadi sebuah realita.
Ya, mari bermain-main sebentar dengan dunia impian dan sejenak meninggalkan dunia nyata, kenapa? Karena seringkali mimpimu berbenturan dengan realita dan itu menyakitkan, maka tinggalkanlah untuk sejenak saja. Bayangkan ada seorang perempuan muda, yang belum lama memiliki KTP (bukan berarti tua, tapi dewasa), dan perawakannya bisa dibilang cukup kurus bersepeda menggunakan sepeda fixie menuju kampus fisipol. Tak kurang, sepasang handsfree melekat pada sepasang telinganya, pakaian yang necis dibalut dengan jas almamater kampus “biru.” Ah ya, intermezzo yang sempurna! Tunggu, itu belum selesai. Sesampainya di kampus fisipol dia mengeluarkan kamera SRLnya dan mengambil gambar apa saja yang bisa dijadikannya sebagai objek, haha aku gila!
“bermimpi itu gratis, jadi bermimpilah yang sebesar-besarnya!” begitulah sebuah kalimat di halaman selanjutnya dalam buku itu. Benarkah kalimat itu? Entahlah, kurasa tidak sepenuhnya. Tak ada yang gratis di dunia ini, bagitu juga mimpimu. Kau harus bisa mengubahnya menjadi sebuah realita, dan itulah harga yang harus kau bayar! Bahkan, komentar dan tanggapan negative dari orang-orang disekitarmu pun harus kau terima sebagai harga yang harus kau bayar akan mimpimu itu.
Pernah suatu ketika, ngga sengaja baca status orang:
XY: Semoga bisa masuk di ilmu Gizi di Institut Bla Bla Bla, Amin
XX: wuidih keren, tapi saingannya ketat loh? Harus mapan di biologi juga, apalagi di Institut itu? Saingannya berat!!
XY: Iya Insya Alloh mau ambil itu. (mungkin mbatin=asem dikacangin!)
Di lain waktu, ngga sengaja lagi baca note orang, mengenai mimpinya yang ingin masuk sastra Inggris namun banyak yang memprotesnya. “emang nanti mau kerja apa? Emang bisa disitu?” dalem ya? Lain lagi kisah seorang XX’ yang satu ini:
XX: mau ambil apa kuliah nanti?
XX’: pengin ambil jurusan Ikom, di Universitas blablabla
XX: wah kalo undangan ngga takut apa saingannya banyak?
XX’: bukan kok, bukan undangan, tapi tertulis.
XX: wah, apalagi tertulis, quotanya kan sedikit yang bisa diterima
XX’: haha, ngga papa, bismillah aja deh (untung lagi ngga pegang benda tajem)
Ya, mungkin 3 orang di atas adalah sekelompok orang yang mungkin dianggap “remeh” oleh orang lain. Mimpinya terlalu tinggi, terlalu gila, atau bahkan terlalu nekad. Ada banyak hal yang mendasari mereka berkata demikian, bisa jadi salah satu faktornya adalah karena 3 orang ini punya mimpi yang tak sesuai latar belakang mereka, bahkan terpaut sangat jauh. Atau mungkin juga, “slentingan-slentingan” yang didengar 3 orang ini adalah sebuah warning untuk dijadikan sebagai bahan instropeksi diri. Tak salah memang, apapun itu yang jelas biarkan saja komentar-komentar datang mengalir. Dengarkanlah, resapi, dan cukup sampai di situ saja. Jangan biarkan mereka mengobrak-abrik mimpimu yang suci. Karena sejatinya, yang berhak bergelut dan ikut campur dalam pencapaian mimpi adalah Tuhan. Sekalipun kau dianggap gila. Ya, aku gila, kau gila, kita semua gila, lalu apa? Biarkanlah kita berada dalam koridor kegilaan ini, toh kita yang menjalani. Lagi pula apa yang salah dengan pungguk yang merindukan bulan? Tak ada. Seorang Neil Amstrong bisa mematahkan teori itu, karena dia sudah pernah menjajakan kakinya di bulan. Begitu juga dengan mimpimu, mimpiku, mimpi kita. Apa yang salah dengan mimpi seorang anak IPA ingin masuk di jurusan IPS di Ilmu Komunikasi? Apa yang salah dengan mimpi seseorang yang ingin menjadi ahli gizi? Apa yang salah dengan mimpimu ingin bergelut di dunia sastra Inggris? Adakah yang bisa memberikan jawaban?
Ya, mungkin aku gila, ilmuku dua tahun ini tak terpakai, sia-sia, terlalu nekad, begitu kata mereka. Lalu apa? Ah, kukira itu hanya sebuah prestise. Segala sesuatu yang bersifat baik tak akan sia-sia. Dan karena “menanam kebaikan adalah investasi jangka panjang” (Bu Luthfi). Apakah aku harus meninggalkan kegilaan ini, dan mensubstitusi mimpiku sesuai dengan apa yang kupelajari dua tahun ini tapi jiwaku sama sekali tak berada di situ? Jadi mana yang lebih gila? Mempertahankan sebuah kegilaan ataukah harus menceburkan diri dalam dunia kewarasan yang sejatinya lebih gila buatku? Ah aku gila.
Tak ada yang tahu memang kemana kaki ini berhenti melangkahkan kaki untuk 4 tahun mendatang. Mungkin saja di daerah Bulaksumur sana, mungkin di daerah utara sana, mungkin di sekitar keraton Surakarta, atau bahkan mungkin berhenti di kota Purwokerto tercinta. Ah, aku tak tahu. Aku tak ingin lelah menebak-nebak rahasia Tuhan, biarlah Dia yang menuntunku atas kegilaan ini. semoga aku, kau, kita yang gila serta mereka yang waras senantiasa diridhoi dalam setiap jalan yang kita tempuh masing-masing! Amin…
