Follow Me on Twitter

Sebuah Sanjungan Sekaligus Ujian (dari Tuhan)

Tanpa terasa, 6 bulan sudah melewati hari dengan mengecap status sebagai “siswa kelas XII”. Sungguh berbeda rasanya tidak seperti masa-masa dua tahun lalu. Ada beban tersendiri yang terpatri di pundak, ada pula rasa tanggung jawab akan masa depan yang bagaimana yang akan dicapai. Bahkan, kondisi tubuh yang semakin kurus pun menjadi fakta menyedihkan betapa aku terlihat seperti seorang pesakitan, Damn! Tidak ingin mengatakan ini sebenarnya!. Dan akhirnya, sampailah pada hari itu, hari dimana proses dan hasil belajar selama 6 bulan dilukiskan pada sebuah buku. Angka-angka yang tersusun rapi di dalamnya menjadi sebuah bukti autentik seberapa besar perkembangan yang dilakukannya selama ini. Apakah meningkat? Menurun? Atau justru stasioner?

Malam sebelumnya, kuceritakan semua pada mereka. Kuceritakan betapa sulitnya berkompetisi dengan orang-orang yang sungguh berkompeten di lingkunganku. Ya, ini adalah salah satu smart negotiation bagi seorang pelajar bodoh yang ingin mengambil hati orang tua terlebih dahulu sebelum kemungkinan buruk terjadi. Mereka memang tersenyum dan mengiyakan, namun tetap saja, terlihat guratan-guratan harapan pada wajah mereka yang tak bisa mereka tutupi. Harapan agar putrinya bisa masuk ke dalam deret orang-orang yang diberi kesempatan untuk sebuah pencapaian. Oh, Tuhan, aku tau kemampuanku, akupun tak berharap lebih untuk hal yang satu ini. Namun, yang kuharapkan adalah mendapat senyum bahagia dari mereka, jadi kumohon jika berkenan, kabulkan permintaan mereka, dan aku akan memanfaatkan sebaik-baiknya.

Aku tau doaku didengar, tapi aku tak tau Kau sepakat dengan doaku ini atau tidak. Sampai pada akhirnya, Kau menjawab doaku. Saat bapak keluar dari pintu kelas, terlihat senyum merekah darinya, kusambut senyum itu dengan pandangan kosong. Aku pun masih tidak mengerti arti dari senyum berbalas yang kulakukan ini dengan bapak. Tapi akhirnya, bapak mengatakan bahwa aku masuk dalam deret yang Ia harapkan. Aku tersenyum kembali, berbeda dari sebelumnya, senyum yang penuh makna. Terimakasih Tuhan, senang rasanya kali ini Kau berada di pihakku.

Aku bersyukur pada-Mu Tuhan, namun aku tak ingin kufur. Aku tak ingin hanyut dalam kebahagiaan ini. Kuanggap ini adalah sanjungan sekaligus ujian yang Kau beri. Karena kutau, ini semua adalah awal dari mimpiku, aku masih memiliki berjuta kemungkinan untuk gagal dan sepersekian juta kemungkinan untuk berhasil. Kuanggap ini ujian, karena aku takut. Aku takut karena kesempatan ini aku akan menengadahkan kepalaku ke atas dan meremehkan. Sungguh, aku tidak ingin itu terjadi.

Aku hanya berharap, ini semua adalah awal yang baik untukku. Akupun selalu mengharapkan campurtangan-Mu dalam setiap keputusan yang kuambil. Jika aku salah, Kau bisa menjadi Supervisor untukku, menjadi Manager dalam alur kehidupanku, dan menjadi Psikolog dalam setiap masalah yang aku curahkan pada-Mu
Category: 0 komentar

0 komentar: