Follow Me on Twitter

Jika Itu Indah

Jika hijau itu damai,
maka kau adalah hijau yang selalu memberi kedamaian
jika malam itu hening,
maka kau adalah malam yang membuat hati selalu hening, kudus
jika hujan itu riuh,
maka kau adalah hujan yang selalu mengisi kesepian, membuat riuh hati tanpa gaduh
jika pelangi itu perbedaan,
maka kau dan aku adalah pelangi, yang menyatu dengan perbedaan
jika hidup itu sederhana
maka kau adalah…  hidupku…
Begitu sederhana….
Baca SelengkapnyaJika Itu Indah
Category: 0 komentar

Ketika Harus Menjadi 'Manusia Setengah Salmon'


“Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. kita hidup di antaranya.” (Raditya Dika dalam Manusia Setengah Salmon hal. 254)

Aku diam menatap kaca jendela bus yang terlihat meninggalkan pohon-pohon di luar sana. Satupersatu pohon-pohon tertinggal, seperti potongan-potongan hati yang aku tinggal di sepanjang perjalanan ini. entah apa yang membuatku mendadak galau begini. Terasa berat rasanya meninggalkan Purwokerto hanya untuk dua minggu saja. Iya, waktu yang terbilang cukup singkat dibandingkan dengan nanti saat masa-masa kuliahku. Tapi aku belum siap. Aku masih ingat saat mendapat informasi dari sebuah site yang mengharuskanku datang minggu-minggu ini, untuk mempersiapkan persiapan OSMARU (Ospek Mahasiswa Baru). Semua serba mendadak, tiket yang sudah kupesan untuk untuk berangkat ke Solo terpaksa hangus karena aku harus datang ke Solo lebih awal. Terlebih aku juga belum mempersiapkan satu pun tugas individu untuk OSMARU nanti. Memang aku sudah punya tempat kost di sana, tapi ini adalah kali pertamanya aku menginap di sana untuk beberapa waktu. Hal ini juga membuatku harus mempersiapkan banyak hal dalam waktu singkat! Ah, goddamn! Kenapa semua serba mendadak!

Satupersatu, potongan-potongan hati ini tertinggal di jalanan. Tertinggal membungkus bersama kenangan. Sekarang yang kubawa, hanya tinggal separuh hati ini saja. Kukira itupun bakal habis dimakan masa selama aku di Solo nanti. Dibalik kaca jendela ini,  kemarin, aku melewati jalan ini bersama teman-temanku. Rekam jejak suara kita masih terdengar riuh di telingaku. Di jalan ini kita tertawa bersama, bercerita semua, dan berteriak-teriak macam orang gila. Tentunya, hal paling bodoh adalah ketika berteriak-teriak di perempatan saat lampu merah. Geblek! Untung tak ada yang memperhatikan. Ah bodoh! Bodoh! Ada saja orang macam kita. Seharian penuh kemarin, adalah hal absurd yang semoga bukan terakhir… kawan…

***

“Ada perasaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah.Keduanya sama-sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan diri kita.Keduanya sama-sama memaksa kita untuk mengingat-ingat kenangan yang ada sebelumnya, disadari atau tidak dipaksa atau tidak “ (Raditya DIka)


Saus tartar! Sekarang aku benar-benar sendiri di sini. Semua terasa benar-benar asing. Meski ada manusia-manusia di sini. Tapi peduli apa! Mereka masih baru kukenal dan belum bisa menggantikan manusia-manusia di sana. Aku masih tak habis fikir, kenapa ini semua terjadi saat bulan ramadhan. Bulan yang seharusnya dijadikan momen untuk berkumpul bersama keluarga. Dan hari ini, kali pertamanya aku merasa benci dengan waktu berbuka puasa. Berbuka dengan hanya ditemani tembok putih seluas 4x3 meter. Terlebih, hari ini kawan-kawan baikku sedang mengadakan buka bersama di sebuah rumah makan, sedang bapak ibuku mereka bisa berbuka di rumah yang hangat . Ah, Ya Tuhan… that’s such as damn thing!

Sekarang aku tahu. Semua yang ada di dunia ini sejatinya adalah perpindahan. Electron yang berpindah mengelilingin inti atom, planet-planet yang berevolusi, waktu yang terus berpindah dari satu masa ke masa yang lainnya, begitu seterusnya. Semua pindah, semua berubah. Hanya dua saja yang tak akan pernah berubah: Perubahan itu sendiri dan Yang Maha Tetap. Sepertinya, siap tidak siap kita memang harus menjadi ‘Manusia Setengah Salmon’ yang harus bisa ‘pindah’. Pindah dari rahim ke dunia, pindah rumah, pindah suasasana, termasuk… pindah hati. Pun begitu denganku, harus bisa pindah. Harus bisa beradaptasi dengan semua yang serba asing ini. dan harus bisa membuat semua yang baru ini lebih baik dari yang dulu, karena masa lalu tak boleh lebih baik dari masa depan.




Baca SelengkapnyaKetika Harus Menjadi 'Manusia Setengah Salmon'
Category: 0 komentar

Ada Cerita... Lebarannya Beda...


Prolog:
*beberapa hari sebelum lebaran saat masih di Solo*
Mama: Diah cepet pulang yaa. Ini mama udah dapet parcel banyak loh. Sengaja ngga dibuka nunggu kamu aja.
Diah: iyaa ma :))
*saat sudah di rumah*
Diah: *nglirik parcel malem-malem* *pengin buka* *pas mau buka….*
Mama: Diah, parcelnya jangan dibuka dulu, nunggu keponakanmu pulang.
Diah:” …………………”

Halloo….
Assalamaualaikum semua.. minal aidzin walfaidzin yaa, maap lahir batin :)) *sebar ketupat*
Alhamdulilah ya tahun ini masih diberi kesempatan sama Yang Maha Penyayang untuk bisa merasakan dan merayakan lebaran. Semoga, semua amal ibadah kita bisa diterima Tuhan. Amin.
Ini adalah lebaran ke 18 yang pernah saya ikuti, semoga masih ke depan masih banyak lebaran-lebaran yang akan dilewati. Amin. Tentunya, di setiap lebaran ada banyak cerita yang bisa kita rasakan. Dan... begitu juga dengan lebaran kali ini, ada cerita… ada yang beda….

Pertama: Lebaran Perdana, dengan status mahasiswa.
Alhamdulilah, yang beda dari lebaran tahun ini dengan lebaran yang lain adalah status saya. Bukan, bukan status itu. Kalau itu sih.. masih... sing… ah lupakan.  Akhirnya jadi mahasiswa FISIP UNS 2012 loh *joget-joget* emang ada yang beda? Oh jelas… tentu saja, Tunjangan Hari raya yang diterima makin dikiiiittt -____-

Kedua: Status yang lain lagi
Maksudnya? | yaa itulah, masa ngga tau | seriusan ini ngga tau. | errr… lebaran taun lalu saya belum single sekarang…. Ah lupakan
#Singkat #UdahGituAja 

Ketiga: Wejangan dari Mbah
Jadi, hampir tiap lebaran, keluarga pasti sowan ke rumah tetangga, saudara, dan mbah buat sungkeman *kayaknya semua keluarga muslim gitu*. Seperti biasa, keluarga saya juga demikian sowan ke rumah Eyang, mbah Pertama, dan Mbah Kedua. Di rumah Eyang sih, acara berlangsung seperti biasa, sungkeman, ada acara mrebes mili sedikit. Di rumah mbah pertama, bentar-bentar, kenapa ada mbah pertama? Mbah kedua? Mbah pertama adalah mbah sebelum mbah kedua, dan mbah kedua adalah mbah sesudah mbah pertama. Errr… bukan, bukan gitu. mbah pertama adalah rumah mbah yang pertama kali di kunjungi, cukup dengan jalan aja sih kalau mau ke rumah mbah pertama. Nah mbah kedua, ya mbah yang kedua yang dikunjungi, Cuma rumahnya agak jauhan di cilacap sana *as simple as that* terus eyang? Eyang ya eyang aja, ngga masuk hitungan jadi mbah. *sumpah saya juga ngga mudeng barusan nulis apa*. 


                                                              







Yak. Oke lanjut. Sesuatu yang sangat ditunggu saat datang di rumah mbah pertama adalah lemper. Karena Cuma di rumah mbah pertama aja yang tiap lebaran pasti mau bikin lemper. Dan lempernya itu enak banget. Nah, seperti biasa, di rumah mbah pertama juga dikasih banyak wejangan, dan dikasih Tunjangan wooo… *guling-guling kesenengen* dan… berhubung udah dikasih duit, agak sedikit lupa sih wejangannya apa aja :p. intinya ya, yang bener kuliahnya, apalagi jauh sama orang tua. Gitu-gitu lah.


                                                               penampakan lemper

mbah Pertama

Pas udah di rumah mbah kedua. Itu suasananya beda dari rumah Eyang dan mbah pertama. Begitu masuk rumah mbah kedua, suasana mendadak hening. Iya, tiap ke situ pasti dikondisikan hening karena keluarga mau sungkeman. Sungkemannya aja beda, panjang banget kalimat yang diucap bapak sama mama, dan berlangsung khidmat. Kalau yang muda-muda sih (dalam hal ini Diah dan Mas Yudi) ngga bisa sepanjang itu. Untuk menyiasati, ngomongnya pake jeda yang agak lamaan:

“mbah… sugeng… riyadi… sedaya lepat… kulo nyuwun…. Pangapunten….nggih… mbah…”
Sungkeman selesai. Keheningan juga sudah pecah, ada banyak obrolan yang terjadi di sana. Lagi pula, jarang-jarang keluarga sowan ke rumah mbah kedua, malah mungkin emang tiap setaun sekali aja pas lebaran macam gini. Momen-momen kumpul kayak gini juga dimanfaatin sama mbah (kakung) kedua. Beliau juga kasih wejangan yang masih diinget banget:

Diah nanti kuliah yang pinter yaa, itu kayak mba Yanti, jadi mahasiswa yang paling berprestasi di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Yang prihatin ya? | iya mbah.
Mbah pengin loh, kalau Diah sudah sukses, dan Yudi mau nikah, mbah berharap masih bisa lihat kalian berdua | iya mbah, Amin.
Terus, kalau bisa, mbah pengin kalian dapat jodoh ya yang deket-deket aja ya, jangan jauh-jauh, paling jauh ya Banyumas lah | iya mbah, hehe *dalem hati: ada mbah di kebasen deket loh, tapi itu dulu… sekarang… ah lupakan* lagian saya masih lama mbah, itu loh mas yudii :p

Note: percakapan di atas telah ditranslate ke dalam bahasa gaul, mau jawaan takut roaming.
mbah kedua

Keempat: Lebaran tanpa keponakan, bagai taman tak berbunga.
Meskipun punya tiga keponakan yang resekkk abisss, jail, tengil, dan kepo tapi percayalah.. lebaran tanpa keponakan itu tingkat keramaian dan keceriaannya berkurang menjadi 60%. Biasanya tiap H-1 keponakan sama mbak & mas (orang tua keponakan) udah sampe rumah. Tapi kali ini, mereka lebarannya di kebumen, tempatnya si Mas. Mungkin ke sininya mereka 2-3 hari pascalebaran. Aaaaaakkkkk…. Suer deh, sepi nih rumah. Biasanya, ada yang rusuh rebutan laptop, remote tv, dan berantakin kamar. Tapi sekarang, laptop nganggur, remote jarang kebanting karena ngga ada yang rebutin, dan kamar masih tetep (ngga) rapih. dan tentunya… Parcel belum dibuka…

Ya udah sih. Itu aja cerita lebaranku, bagaimana dengan kamu?





Baca SelengkapnyaAda Cerita... Lebarannya Beda...
Category: 0 komentar

Di Balik Kacamata Abi


Nama         : Diah Harni Saputri
Jurusan      : Ilmu Komunikasi
Kelompok  : Integritas

Di Balik Kacamata Abi
Untuk kesekian kailnya, pagi ini datang. Pagi yang selalu berselimut kabut, yang sesekali ditemani suara tetesan-tetesan embun yang meluncur dari pucuk daun ke tanah basah. Embun yang pecah menjadi partikel yang lebih kecil ketika jatuh menyentuh apapun. Sang fajar juga sepertinya enggan untuk muncul terlebih dahulu, ia masih ingin bersembunyi di balik sejuknya pagi. Manusia-manusia yang sejatinya harus memulai kehidupan pun masih nyaman berada dalam buaian mimpi. Sepertinya, mereka masih belum siap ketika harus berhadapan dengan dunia nyata. Dunia yang terkadang atau bahkan seringkali tak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Apa yang terjadi pada mansuia-manusia pagi ini tak terjadi pada Abi. Seusai shalat subuh, Abi sudah siap dengan ham berwarna krem yang dibalut rompi coklat. Celana jeans hitam beserta sepatu kets yang dominan berwarna coklat juga semakin membuatnya good looking. Tak lupa, kacamata dengan bingkai yang lagi-lagi berwarna coklat juga tak lupa ia kenakan. Memang, siapa saja yang melihat sosok Abi pasti akan menganggap bahwa coklat adalah warna favoritnya. Dan memang benar, menurut Abi, warna coklat adalah warna yang terkesan kalem dan lebih humble. Tak seperti warna mereak yang klop dengan keberanian, dan hitam yang melambangkan watak keras. Casual, adalah kata yang paling tepat untuk mewakili penampilan Abi pagi ini.

Abi bergegas. Ia merasa, ada sebuah kewajiban yang harus ia kerjakan . tanpa piker panjang ia meraih shoulder bag-nya kemudian pergi dari rumahnya. Di sebuah warung makan, Abi menghentikan langkahnya. “beli nasi bungkusnya bu?” “seperti biasa?” “iya” jawab Abi. Hampir setiap hari Abi memang mampir di warung makan ini, sehingga si pemilik warung pun tak heran dengan kedatangan Abi dan tahu apa yang akan Abi pesan. Tak lama kemudian, 16 bungkus nasi sudah siap untuk dibawa. Setelah transaksi, buru-buru Abi mengejar angkutan umum yang lewat. Sepuluh menit berada dalam bus, Abi berhenti di sebuah perempatan lampu merah. Masih pagi benar memang, sehingga jalanan belum begitu ramai. Tak lama kemudian abi turun. Ia berjalan memasuki gang kecil. Langkah kecilnya membawa Abi pada sebuah rumah panggung bertuliskan “rumah singgah”. Sesampainya di sana Abi disambut oleh segerombol anak-anak yang mungkin sedari tadi memang sudah menunggunya. Senyum Abipun mengembang untuk mereka. “Abang datengnya pagi banget, tumben nih?” Tanya salah satu dari mereka. “Iya, Abang hari ini ada kerjaan pagi, jadi abang dateng lebih pagi deh kesini. Tapi kalian seneng kan? Gimana udah lengkap belum?” “seneng banget dong bang, apalagi bungkusan yang abang bawa itu buat kita, hehe. Udah lengkap kok 16 orang, itung aja nih” jawab seorang anak lain dengan polosnya sambil melirik teman-temannya, memastikan bahwa mereka memang benar-benar lengkap berenambelas orang. Abi tersenyum lagi sambil memberikan bungkusan yang memang sengaja ia bawa untuk mereka. Satu-persatu dari mereka membuka bungkusan itu, dan memakan isinya dengan lahap. Abi menatap mereka dalam-dalam. Dari kacamatanya, Abi menyaksikan kilasan balik dari apa yang sudah anak-anak lakukan di rumah ini. belajar membaca, menulis, berhitung, bernyanyi, bermain theater, dan banyak lagi. Senyum, canda, dan tawa, semuanya ada di sini. Di rumah singgah ini. abi tak bisa membayangkan kalau-kalau… ah sudahlah. Abi bergumam dalam hati.

“Ada apa bang? Kok pagi-pagi sudah melamun?” sejurus kemudian Abi tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke samping dan kaget melihat sesosok pemuda yang ternyata sudah berada di sampingnya tanpa Abi sadari. “engga kok. Ngga ada apa-apa. Oh ya, hari ini jangan lupa ngajar anak-anak ya?” “jelas dong bang aku ngga lupa. Aku pengin anak-anak di sini jangan seperti aku, putus sekolah Cuma sampai SMA. Setidaknya dari rumah singgah ini, mereka bisa belajar, biar nggak dibodohi orang kalau mereka besar nanti.” Ujar seorang yang sering disapa Galih itu. Abi menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya bersama masalah yang ada difikirannya sekarang. Ya, anak-anak ini…
***
“Saya sudah menghubungi pihak desa setempat. Sebenarnya tidak ada masalah kita membangun proyek di sana. Toh itu lahan kosong, hanya saja di dekat lahan itu ada sebuah rumah singgah. Katanya, kita tinggal minta izin dengan yang punya wewenang, tapi saya belum tahu siapa. Gampanglah, itu bisa diatur Bi.” Ucap salah seorang atasan Abi di kantornya. “bukannya, pihak desa setempat sudah menolak ya pak? Kenapa tiba-tiba jadi luluh begitu?” Tanya Abi. Atasan Abi hanya tersenyum sembari mengencangkan dasi dilehernya “memang, tapi kamu tahulah, semua terasa seperti mudah ketika uang berbicara.” Mendadak hati Abi serasa terkena sembilu. Sakit. Sakit sekali. Dari dulu, Abi sudah berusaha meminta agar proyek itu dialihkan ke tempat lain, tapi ternyata gagal. Kini yang bisa ia lakukan adalah mencoba untuk meyakinkan pihak desa agar menolaknya, tapi ternyata semua sia-sia. Uang telah membuat perangkat desa berubah pikiran.

Abi merasa kalut. Pikiran dan hatinya sama-sama tak tenang. Dari kacamatanya, bayang-bayang anak-anak jalanan ini serasa bolak-balik di depannya. Entah apa yang akan terjadi jika rumah singgah itu benar-benar tergusur. Rumah itu bukan sekadar rumah. Susunan kayu yang dibangung bersama-sama menjadi saksi bisu betapa semangatnya mereka ingin hidup dan belajar di rumah itu. Lagipula, dimana lagi? Dimana lagi mereka harus tinggal kalau bukan di situ? Dulu mereka hanyalah segerombolan anak-anak kurang ajar, tak punya kompas moral sama sekali. Hidup sekenanya. Bisa makan ya sukur, kalau ngga ya  nyopet. Rumah mereka? Hanyalah potongan-potongan kardus sisa milik toko-toko yang mereka sulap menjadi istana.  Bahkan, dulu mereka binal, liar. Masih jelas benar ingatan Abi ketika pertama kali ia mengajak mereka untuk belajar. Abi hanya mendapat umpatan-umpatan dari anak-anak ini. sungguh tak ada tata kramanya sama sekali. Tapi Abi pantang menyerah. Ia terus mencoba mengajak anak-anak ini untuk belajar, sampai akhirnya mereka mau, bahkan sekarang mereka semua menyayangi Abi. Bersandar pada Abi.

Pada akhirnya… Abi menceritakan semua kepada atasannya. Ya, mau tak mau Abi harus bercerita bahwa ialah pemilik tanah dan rumah singgah tersebut, meskipun… meskipun besar risikonya. Ternyata benar, atasan Abi marah besar padanya, bahkan mengancam akan memecat Abi secara tidak hormat. Namun, Abi masih diberi kesempatan, jika ia mau menyetujui permintaan atasannya, ia akan diberi sejumlah uang, bahkan gajinya akan dinaikkan. Abi tak tahu lagi harus berkata apa. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi kemelut hidupnya ini. Di satu sisi, Abi tak mau kehilangan pekerjaan ini. Ia belum lama bekerja di sini, sehingga tabungannya pun masih belum bisa untuk menanggung beban hidupnya nanti. Apalagi, Abi masih memiliki tanggungan seorang Adik perempuan yang baru masuk kuliah tahun ini di Jogja. Abi tak tega membiarkan adiknya bekerja part time untuk memenuhi biaya kuliahnya, karena itu pasti akan mengganggu waktu kuliahnya. Di sisi lain, ada 16 bocah yang menggantungkan hidupnya pada rumah singgah milik Abi itu. Hati Abi carut-marut. Rancau sekali.

Kali ini idelisme Abi berbicara. Sudah ia putuskan, untuk mempertahankan rumah itu. Dan tentu saja, Abi dipecat secara tidak hormat. Kenyataan pahit ini mati-matian ia coba telan. Pihak desa pun seakan membenci Abi karena hal ini. Mereka mulai acuh dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan rumah singgah itu, bahkan terkesan dipersulit. Tentu saja, Abi tak ambil diam. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa menghidupi 16 bocah ini dan menanggung biaya kuliah adiknya. Akhirnya, jalan hidup yang dipilih Abi adalah wirausaha. Ia mencoba untuk membuka usaha budidaya jamur kecil-kecilan yang ia pelajari secara otodidak. Ia sudah muak dengan transaksi-transaksi suap yang ada di kantornya. Di kantornya, tak hanya kali ini saja Abi ditawari “uang tambahan,” tapi ia selalu menolaknya.

Itulah Abi. Sesosok manusia yang berbeda dari kebanyakan manusia lainnya. dibalik kacamata Abi, ada seorang Abi yang memiliki idealisme, tanggung jawab, dan jujur dalam segala hal.

*tamat*



Baca SelengkapnyaDi Balik Kacamata Abi