Follow Me on Twitter

HESITATE

Ada yang berbeda pada acara makan malam hari itu, sekadar basa-basi atau mengakrabkan diri di tengah kesibukan masing-masing memang sudah menjadi rutinitas keluarga kecil ini, namun agaknya konversasi malam itu masih terngiang-ngiang hingga saat menjelang tidur. Ya, perbincangan mengenai bagaimana prospek serta planning yang akan dilakukan nanti setelah resmi melepas seragam putih-abu-abu.

Akhirnya dari sebuah diskusi kecil, dapat ditarik kesimpulan, bahwa siapa yang akan menjalani, dialah yang akan mengambil pilihannya sendiri dan tentunya harus bertanggung jawab atas pilihan yang dia pilih. Senang rasanya mendengar hal yang demikian dari orang tua, itu artinya keluarga ini cukup demokratis. Tapi sejujurnya, rasa senang itu datang bersamaan dengan rasa cemas dan galau luar biasa, itu berarti apa yang harus aku pilih? Bisakah aku bertanggung jawab atas apa yang aku pilih nantinya?

Bicara soal pilihan, maka hal ini tak lepas dari yang namanya mimpi. Jadi, mimpi yang bagaimana yang aku inginkan? Mimpi yang seperti apa yang ingin aku raih? Orang bijak berkata “orang yang paling miskin adalah orang yang tidak punya mimpi” betapa kalimat itu menjadi warning yang luar biasa buatku. Huh, syukurlah aku tidak termasuk orang miskin seperti yang diucapkan orang bijak itu, karena aku punya mimpi.
”ada banyak jalan menuju Roma” maka ada banyak jalan juga menuju mimpi yang ingin diraih, salah satunya adalah dengan melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri. Sungguh, memilih sebuah jurusan dalam Perguruan Tinggi adalah hal yang sulit, karena perlu mempertimbangkan banyak hal, antara lain minat, bakat, dan peluang kerja. Sekali salah mengambil keputusan, sepertinya akan merasakan penyesalan dan kekecewaan yang berkelanjutan.

Kian hari, otak dan hatiku semakin menyinkronkan diri untuk sebuah piilhan yang akan aku pilih nantinya. Dan akhirnya, sebuah jurusan pendidikan dari program studi IPS telah dipilih. Betapa diri ini semangat untuk bisa mencapai angan tersebut, optimimisme pun muncul dengan sendirinya. Ah, rasanya keputusan ini sudah benar-benar mantap untuk aku ambil, dan orang tua pun setuju.

Waktu pun berjalan sesuai dengan kodratnya, lambat laun muncul kegelisahan baru datang, yakni mengenai bidang studi yang aku pilih benar-benar berlawanan dengan mata pelajaran yang kuampuh dua tahun ini. Bukankah itu sebuah keputusan yang ekstrim ketika seorang pelajar IPA mengambil keputusan untuk mengambil studi di bidang IPS?? Keputusan macam ini memang sudah banyak ditemui bagi pelajar lainnya, namun kebanyakan dari mereka adalah pelajar yang berkompeten. Ah, jika melihat keadaan diri sendiri dengan kemampuan yang biasa, rasanya rasa skeptis benar-benar cocok untuk kondisiku sekarang. Dan, dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri nantipun, rasanya peluang untuk lolos lebih kecil dibandingkan dengan pelajar jurusan IPS lainnya.

Untuk menghilangkan kecemasan ini, aku mencoba untuk mencari alternatif lain yakni dengan mencoba mencari jurusan IPA mana yang cocok untukku, yang sesuai dengan bakatku. Tapi rasanya, setelah mencari informasi di sana-sini, tak ada satupun bidang studi IPA yang menarik perhatianku. Jika memang memaksakan diri untuk mengambil bidang studi yang tidak disukai bukankah itu keputusan yang lebih ekstrim?
#PelajarGalau
Category: 0 komentar

0 komentar: