Follow Me on Twitter

Dear Bumi Hadiningrat...


Dear bumi Hadiningrat… Jogjakarta,

Setiap kali aku melewati Jogja dalam perjalanan Purwokerto-Surakarta atau sebaliknya aku selalu merasa istimewa. Meskipun, hanya mampir sebentar di bumimu itu.Tak pernah aku melewatkan sebuah senyuman ketika aku berada di bumimu. Setiap kali keretaku melintas di atas jembatan, aku selalu memperhatikan tata kota dari ketinggian. Hiruk pikuknya, suasanya, semuanya, aku merasa kau memang istimewa, sungguh.
Aku masih tidak mengerti, kenapa aku sebegitu inginnya menjadi bagian darimu… Jogja. Bahkan, ketika namaku tidak ada dalam daftar peserta yang diterima, dan sudah diterima di PTN lain. Ya, aku mengaku keistimewaanmu menjadi sebuah keistimewaan yang “plus plus” karena memang kampus impianku ada di situ, kampus fisipol…. Ah, aku tidak ingin menyebut namanya! Tidak ingin!

Taukah, sesekali mimpi-mimpi itu masih suka bersliweran di otakku. Sesekali otak nakalku masih mengingat bagaimana dulu sebuah mimpi mulai aku bangun. Mulai dari sebuah wallpaper yang hampir delapan bulan lebih selalu menjadi motivasi tersendiri buatku. Haha.. lucu ya :( .  


Begitu juga dengan layar handphone ku… sama…


Tak hanya itu, aku sudah sangat kepo terhadap kampusmu itu. Alamatnya, warna jas almamaternya, bagaimana proses ospek dan tugas-tugasnya, hingga sebuah mars fisipol yang aku simpan di sebuah folder, meskipun aku juga belum tahu bagaimana cara menyanyikannya.

Kadang, aku tersenyum miris mengingat imajinasi nakalku. Dulu, aku sempat membayangkan setiap hari berangkat ke kampusmu dengan menaiki sepeda fixie, dengan sepasang free handsat di telinga, dan sebuah kamera DSLR menggantung di leherku. Karena aku tahu, kampusmu itu tidak memperbolehkan mahasiswanya untuk membawa kendaraan bermotor. Bijak, sungguh bijak.

Hehe, tapi ternyata itu semua belum ada yang menjadi kenyataan. Tuhan belum memperbolehkanku untuk menghabiskan masa studiku di kampusmu itu. Mmm… mungkin, suatu saat, akan kucoba merealisasikan salah satunya. Ya, ingin rasanya bersepeda di kampusmu itu, meskipun aku bukan mahasiswa di bumimu itu. Boleh ya?

Dear bumi Hadiningrat… Surakarta,

Sebelumnya, terimakasih. Beribu terimakasih untukmu yang sudah mau menerimaku di sini. Dari dulu hingga sekarang, aku tak pernah tahu apa alasanku memilihmu sebagai tempat untuk studi. Ketika orang bertanya mengapa harus kau, aku memang bisa menjawab. Tapi sesungguhnya itu hanyalah sebuah dalih untuk menutupi ketidaktahuan ku tentangmu. Kau perlu tahu, aku tak pernah mengunjungimu sebelumnya. Dan parahnya, akupun tak pernah tahu bagaimana kondisi kampus pilihanku di bumimu ini. Bentuk fisiknya, prestasinya, alamatnya, bahkan hingga bagaimana design dan warna jas almamaternya pun aku tak tahu. Yang aku tahu hanya satu, akreditasi Program Studi pilihanku A, itu saja.

Ketika aku bermunajat kepada Tuhan tentang tempat mana yang baik untukku, aku tidak mendapatkan jawabannya secara jelas. Ya, mungkin saja, dialog-dialogku dengan Tuhanku tak begitu khusyu’ hingga hatiku tak begitu mantap untuk memilihmu. 

Kau perlu tahu, dulu kau adalah pilihan pertama lalu kemudian menjadi yang kedua. Ya, aku memang manusia yang begitu labil, hingga pada keputusan-keputusan penting dalam hidup. Saat pertama aku mendaftar untuk menjadi peserta SNMPTN tertulis, kampusmu inilah yang menjadi pilihanku, dan yang kedua adalah kampus di daerah asalku, Purwokerto. Saat itu, aku hanya mencoba realistis saja. Seorang pelajar biasa dengan prestasi pas-pasan apakah bisa menjadi bagian dari kampus Jogja? Slentingan-slentingan dari orang-orang sekitar tentang betapa sulitnya aku jika harus memilih Jogja semakin membuatku runtuh. Rasanya, semacam mendapat tamparan-tamparan agar sadar bahwa mimpi tak boleh tinggi. Sampai akhirnya, ketika mengetikkan nama perguruan tinggi saat pendaftaran, kucantumkan bumimu dan bumi kotaku. Tak ada Jogja, tak ada!

Sampai pada tanggal terakhir untuk pendaftaran, kelabilanku menggoncangkan semuanya.Mimpi yang kupendam dalam-dalam muncul lagi. Rasa penasaranku begitu kuat memberiku stimulus untuk tetap memilih Jogja. Ketika bertanya pada bapak ibuku, mereka bilang “Iya, coba saja… ngga papa beli lagi” Ya Tuhan, baiknya dua orang ini memang tak ada bandingan. Hingga akhirnya, keputusan extreme pun ku ambil. Membeli pin lagi, dan mengganti prioritas pertamaku menjadi Jogja, dan yang kedua… kau.

Sampai hari pengumuman itu tiba, waktu menjawab semuanya. Aku diterima ditempat yang tak pernah aku sangka-sangka. Bumimu, bumi hadiningrat Surakarta. Ada rasa sedih yang mendalam, tapi juga ada rasa senang luar biasa, setidaknya semua usahaku untuk berjibaku dengan ilmu sosial tidak sia-sia. 

Pengalaman ini sungguh luar biasa. Sebuah perjalanan hati yang begitu terkoyak-koyak akan sebuah pilihan. Tapi aku tak pernah menyesal, seandainya saja aku tak mencoba untuk membeli pin lagi, maka aku yakin rasa penasaranku terhadap Jogja tak akan pernah hilang.

Salam,
Diah Harni, Mahasiswa Ilmu Komunikasi S1
Di atas bumi Hadiningrat, Surakarta.
Baca SelengkapnyaDear Bumi Hadiningrat...
Category: 0 komentar

A Mini Farewell Party


#now playing: pas band-kesepian kita
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan
Memaksa kita memendam kepedihan
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan
Memaksa kita… merubah jadi tawa~

Rabu, 22 Agustus 2012
Pfffttt…. Waktuku kini tinggal beberapa hari lagi untuk menghirup udara Purwokerto sejak kepulanganku dari Solo 17 Agustus lalu. Rasanya…. Singkat banget. Tapi jadi tau sih, bahwa “gini toh rasanya jadi anak rantau.” Memang, sejak menyandang status sebagai ‘anak rantau’ waktu yang untuk berada di rumah itu jadi begitu berharga. Kumpul bareng keluarga, saudara, dan teman-teman juga jadi momen-momen yang lebih indah broo. Karena ngga ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, setelah lebaran dan silaturahmi sana-sini, sekarang saatnya memanjakan ‘kegaulan’ untuk ketemu teman-teman tercintaa <3 .=".">
lama banget ngga ketemu mereka. Dan kesan pertama pertemuan kemarin itu… tetep…. Kocak, gila, abnormal. Alhamdulilah, mereka ngga berubah. Mereka tetap gila. Ketemuan tanpa makan-makan itu bagai taman tak berbunga. Ngga lengkap. Jadilah kita makan di tempat biasa kita pesen konsumsi dulu buat rapat *duh, jadi inget dulu lagi*.

And here we are: *fotonya pake hape ninda.. dan saya nggak punya softcopynya -_____-*

Udah… anggap aja itu ada fotonya, bayangin ya: saya, upit, ninda, hani, jati, agung, dedo, momo, lagi makan mie ayam bareng-bareng (y). udah acaranya gitu aja? Iya. Simple tapi ngga sesimpel yang dirasa. Di kesempatan kayak gitu kita manfaatkan untuk ngobrol banyak hal. bicara tentang osis yang dulu, ngomongin alumnus osis, ngomongin osis adek angkatan, ngomongin Pembina *pliss semoga yang disebut ngga baca ini* dan masih banyak lagi. Disetiap pembicaraan ada rasa seneng di sana, ada rasa ‘kangen’ juga. Iya. Kangen… kapan kita begini lagi… kapan kita ketemu dan… kumpul lagi.

Hari berikutnya: Kamis malam, 23 Agustus 2012
Malam itu mama sengaja ngadain acara ‘bakar-bakaran’. Katanya sih semacam farewell party. “Nanti kan anak-anaknya mau pergi semua. Mas mba balik ke Jakarta, nah ini anak terakhir kan mau kuliah di Solo” ah, sedih. Bakar-bakaran yang sedih. Dan ini momen yang diabadikan:

  
Seneng, sedih, campur-campur deh pokoknya. Thankyou for the moment :-* . abis itu dapet sms: di, ke rumah bebeng yuk, besok pagi dia ke Semarang” . kaget juga dapet sms gitu. lah wong niatnya mau ngajak mereka ke rumah ninda besok buat perpisahan gitu, malah dianya mau berangkat duluan ( ._.) . akhirnya, malam itu juga saya sama upit cus ke rumah bebeng. Deket sih, ngga jauh-jauh amat. Dan, di rumah bebeng kita ngobrolin banyak hal. Semacam rasa ngga percaya besok kita udah harus menempuh jalan masing-masing. Kita yang selalu bareng dari kelas satu SMA. Ah… there were too much moment that I couldn’t explain :’(
And here we are:


Selain foto-foto, kita juga buat video tentang persahabatan atas nama USB. Apa itu USB? Ada diposting ini From USB With (Love) Laugh tapi sayang banget, lagi-lagi saya ngga punya softcopynya -____- next time deh.
Pas mau balik *sumpah itu udah malem* kita ada rencana mau ke rumah @nindariyana besok pagi jam 6. Kenapa? Karena Bebeng mau berangkat jam 7. Tapi ternyata, ngga jadi. Kita bertiga ngga boleh pergi sepagi itu sama orang tua masing-masing. Karena masih suasana lebaran,dan jalan masih ramai. Pffftt :’( jadilah a mini farewell party tanpa Ninda.

Terakhir: Sabtu Malam, 25 Agustus 2012
Sebuah catatan perjalanan: You must be the owner of your life
Bang Alitt dalam bukunya ‘SKRIPSHIT’ pernah bilang: life is a jorney. Hidup adalah sebuah perjalanan. Dan sebuah perjalanan bisa diawali dengan perpisahan dengan orang-orang terkasih. Sedih memang, pergi meninggalkan keluarga, sahabat, teman dan semua yang sudah ditemui di sini. Tapi inilah hidup, ke depan, siapa yang tahu aku bakal menetap di Solo, atau di Purwokerto, atau bahkan… di tempat yang lain lagi. Sebuah amanah ‘Kuliah yang bener ya!’ jadi beban tersendiri. Tapi, amanah tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berprestasi di kampus. Semoga….

You must be the owner of your life. Ya, kita harus menjadi pemilik hidup kita sendiri. Pun begitu denganku. Aku sudah memutuskan untuk kuliah di Solo, ya sudah. Titik. Apapun resikonya harus dijalani. Sekalipun resiko itu adalah… perpisahan….
Perpisahan bisa jadi berujung kesedihan, tapi dalam perpisahan tak selalu berujung penyesalan.


Diah Harni Saputri

Dalam perjalanan Purwokerto-Solo.
Baca SelengkapnyaA Mini Farewell Party
Category: 0 komentar