Sungguh, sebenarnya sudah tidak ada keinginan untuk menulis ini lagi. Rasanya sia-sia dan hanya membuang-buang waktu saja, ketika seseorang tak bisa lepas dari sebuah kegalauan. Ya, sebuah kata yang sudah muak untuk ia dengar dari mulutnya sendiri. Tapi ia tak bisa berbohong, rasa itu agaknya masih betah untuk tetap tinggal di dalam dirinya. Kian hari, berjibaku dengan kegalauan yang satu ini memang tak ada habisnya, ditambah lagi dengan semakin banyaknya inhibitor yang datang untuk menghambat pencapaian keputusannya ini.
Karena hidup adalah pilihan, dan sebuah pilihan tak lepas dari mimpi. Ketika seseorang berkata “gapailah mimpimu setinggi langit” maka tak ada yang salah bukan jika seseorang biasa punya mimpi yang tinggi? Sebuah mimpi yang bisa merubah keadaan menjadi lebih baik. Sebuah mimpi yang bisa membuat orang tua tersenyum dan berkata “aku bangga!”. Ya, hal itu memang akan benar-benar terjadi jika sebuah mimpi ini terealisasi. Namun secara bersamaan selalu saja muncul pertanyaan “bisakah kau menggapainya? Mampukah orang sepertimu mendapatkan hal yang demikian? Ah, sial entah siapa yang berbicara seperti itu, ingin rasanya membunuhnya! Tapi mungkin sulit, karena suara itu muncul dari hati. Saat ini ada dua hal kontras yang sekarang bergelut dalam dirinya, antara nekat dan tekad. Sungguh, nekat dan tekad adalah dua hal yang berbeda tipis.
Pernah suatu ketika, berbicara dengan seorang Ibu yang baru dikenal. Entah karena tak ada bahan konversasi, atau karena ingin lebih dekat dengannya, tiba-tiba saja memulai sebuah perbincangan mengenai masa depan . Dan sungguh, pernyataan yang dia berikan di luar dugaan “jaman sekarang, pintar dan tidak pintar bukanlah sebuah parameter yang bisa dijadikan acuan mimpimu boleh tinggi atau tidak. Tapi jaman sekarang hanya mempertimbangkan BERANI atau TIDAKnya kamu untuk menggapai mimpi tersebut”. Perkataannya memang diselingi candaan, namun memiliki makna yang sangat dalam dan cukup memotivasi. Terimakasih atas wisdomnya yang berharga bu.
Maka, ketika galau ini memuncak, siapa lagi yang hendak menjadi peraduan dalam berkeluh kesah kecuali Tuhan? Karena, Tuhan lah yang menghendaki segalanya, dan keputusan-Nya adalah yang terbaik bagi umat-Nya. Maka, mengadu kepada-Nya adalah jalan utama untuk menentukan sebuah keputusan. Mungkin, diantara angka-angka yang lain, Tuhan menyukai angka 2 (dua), hingga Ia menciptakan apapun yang ada selalu memiliki dua sisi, hitam-putih, siang-malam, lelaki-perempuan, kaya-miskin, dan baik-buruk. Begitu juga dengan yang dirasakan seseorang saat ini, antara optimis dan skeptis. Di satu sisi, ia optimis untuk bisa meraih mimpi yang ia punya, di sisi lain, terkadang ia merasa skeptis akan mimpi yang dia punya. Merasa hal itu terlalu tinggi, hingga ia takut dan belum siap untuk jatuh dari ketinggian dan merasakan sakit.
Mengingat akan mimpi seseorang ini, maka hal ini tak lepas dari peran serta dua orang luar biasa yang sudah mengantarkannya hingga berusia 17 tahun sekarang. Karena demi siapa dia memiliki mimpi? Tentu saja demi dua orang yang sangat ia cintai ini. Betapa ia merasa sudah menjadi beban bagi kedua orang tuanya dan ingin sekali membalas kebaikan kedua malaikatnya itu. Untuknya, satu-satunya cara untuk membalas kebaikan adalah dengan membuat mereka bangga akan dirinya, bahkan mungkin itu belum cukup. Karena kemuliaan yang mereka berikan adalah tak akan pernah terbalaskan. Sungguh, sebuah harapan agar kedua orang tuanya bangga bisa memilikinya adalah satu-satunya doa yang dipanjatkannya untuk Tuhan.
Ya, mungkin ini adalah sebuah uji coba dari Tuhan, apakah makhluk-Nya yang satu ini mampu menjadi the best chooser dalam hidupnya sendiri. Karena sesungguhnya pengambilan sebuah keputusan yang tepat adalah satu bukti bahwa seseorang dapat dianggap dewasa dari sebelumnya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar