Follow Me on Twitter

Review Film Rectoverso: Cinta Yang Tak Terucap


Hai~
Hallo~
Ehem… check check *benerin mic*
Duh, setelah lama ngga ngeblog, kok rasanya canggung banget buat nulis, ya? Rasanya kayak lama ngga ketemu mantan, eh tiba-tiba ketemu di tempat yang ngga terduga, kan canggung. Ya, kan? Ya, kan? #Oke #Abaikan.

Entah, sudah berapa dekade saya ngga ngeblog, padahal dua bulan kemarin saya libur semester. Seharusnya sih, momen-momen seperti itu bisa dimanfaatkan buat ngeblog, itung-itung latihan nulis, tapi ya, entahlah. *ngomong uopoooh*

Sebenarnya, tanggal 22 kemarin saya dapat musibah. Ya,  Ayah saya meninggal *true sad story* karena penyakit jantung. Ada banyak hal yang ingin saya tuangkan di sini, mengenai firasat, dan segala rasa yang berkecamuk di sini *nunjuk hati* tapi, saya belum siap. Belum siap untuk cerita mengenai musibah 22 Januari itu, ya I’ll tell y’all someday. Sekarang, yang saya ingin ceritakan bukan itu.

Jadi, ceritanya seminggu yang lalu, saya sama @ashfiyanura nonton film terbarunya Mbak Dee: Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap. Sekarang saya mau latihan review filmnya, kalau agak-agak spoiler, maaf, ya? Kan baru latihan. Mehehehe… *nyengir-nyengir bidadari*



Rectoverso: Cinta Yang Tak Terucap, merupakan film yang diadaptasi dari novel karya Kak Dee yang berjudul sama: Rectoverso. Film ini mengangkat lima cerita pendek dari sebelas cerita yang ada di novel  tersebut menjadi sebuah film yang setting dan alurnya berbeda satu sama lain tapi memiliki benang merah, yaitu: cinta yang tak terucap. Aiiiih~ *kemudian galau*. Kelima cerita pendek itu disutradai oleh lima orang kakak-kakak (yang menurut saya) cantik dan keren dalam mengemas ceritanya. Here there are:

1.      Malaikat Juga Tahu (Marcella Zallianty)
Film ini bercerita tentang seseorang yang menderita autis bernama Abang (diperankan oleh Lukman Sardi) yang jatuh cinta dengan Leia (Prisia Nasution) yang kebetulan ngekost di tempat ibunya si Abang ini. Prisia ini satu-satunya orang yang paling dekat dan mengerti Abang, mungkin inilah yang membuat si Abang jatuh hati sama Leia. Tapi, secara tiba-tiba Hans (Adik dari Abang) pulang dari rantau *halah* *luar negeri maksudnya* dan mulai jatuh cinta juga sama Leia. Sayangnya, (entah sayangnya atau untungnya) Leia juga ngga bisa bohong kalau doi jatuh cinta juga sama Hans. Nah loh, terus gimana nasib Abang? Haruskah dia terluka?

2.     Firasat (Rachel  Maryam)
Cerita ini berkisah tentang Senja (Asmirandah) yang rutin mengikuti suatu klub ‘firasat’ setiap minggu. Semua berawal dari firasat buruk yang selalu menghantui setiap kali ia akan ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Sampai akhirnya, di klub firasat itu, Senja mulai menaruh hati pada Panca (Dwi Sasono), ketua dari klub tersebut. Tapi, firasat buruk yang selalu menghantuinya tentang Panca membuatnya merasa takut akan kehilangan lagi. Pada akhirnya, hal buruk memang terjadi. Apa itu? Nonton aja, Brooh~

3.      Curhat Buat Sahabat (Olga Lidya)
Dari judulnya aja, udah kelihatan kalau film ini bercerita tentang persahabatan. Yap, Amanda (Acha Septriasa) adalah orang yang sangat terbuka terhadap sahabatnya, Reggie (Indra Birowo). Setiap kisah cinta yang dilalui Amanda, selalu ia tumpahkan curhatannya ke Reggie. Reggie ini adalah tipikal orang yang pendiam atau, ya pendengar yang baik. Setiap kali Amanda ingin bercerita tentang pacarnya, Reggie selalu meluangkan waktunya untuk bisa mendengarkan. Sayangnya, semua pacar-pacar Amanda berlalu begitu saja. Kebanyakan dari mereka tak ada yang benar-benar tulus mencintai Amanda. hingga di sebuah kafe ia bercerita pada Reggie betapa sedihnya ia ketika ia sakit tapi tak ada yang memperhatikannya, bahkan pacarnya sekalipun, untuk sekadar datang dan membawakannya air putih+obat. Tanpa disadari, saat Amanda bercerita ia baru ingat, bahwa Reggielah satu-satunya orang yang rela hujan-hujanan dan datang ke rumahnya untuk membawakannya air putih+obat. Yaa, kita memang sering disibukkan dengan pencarian orang yang kita butuhkan, tanpa sadar kalau sebenarnya orang yang kita butuhkan itu sudah ada dari dulu. How sweet~ *anyway itu quotes sendiri, bukan dari filmnya*

4.      Hanya Isyarat (Happy Salma)
Cerita ini berkisah tentang lima backpackers yang bertemu di sebuah tempat, dan Al adalah satu-satunya cewek dari kelima backpackers tersebut. Dalam film ini diceritakan, bahwa Al secara diam-diam jatuh cinta sama Raga, tapi sayang Al Cuma bisa menikmati kegantengan *halah* sosok Raga dari kejauhan dan siluetnya aja, karena ia ngga berani mendekat dan selalu jaga jarak. Ya namanya juga secret admirer, malu-malu tapi kepo gitu~ Sampai di suatu malam di pinggir pantai, Al mau bergabung bersama 4 backpackers lainnya untuk bisa bercengkrama satu sama lain. Dalam obrolan mereka, mereka membuat perlombaan harus menceritakan kisah hidupnya yang paling sedih. Finally, Al dinobatkan sebagai pemenang, ia senang sekaligus sedih karena dari lomba itu ia tahu masa lalu dan kisah hidup Raga, dan ia juga tahu bahwa sosok Raga ini ngga bisa dimiliki, Cuma bisa ia pandangi aja. Fufufufu~ namanya juga secret admirer~

5.      Cicak di Dinding (Cathy Saron)
Bukan, film ini bukan film yang berkisah tentang cicak yang jatuh cinta, it’s totally not -____-. Kisahnya berawal dari Bram, seorang pelukis muda yang secara ngga sengaja bertemu dengan Saras (wanita penghibur dan lebih tua) di sebuah kafe. Pertemuan yang secara tidak sengaja itu membuat kesan—you-know-lah—yang ngga akan pernah dilupakan oleh Bram. Di lain hari, mereka secara ngga sengaja juga bertemu lagi, akhirnya mereka menghabiskan waktu berdua saat itu. Karena momen itu, Bram akhirnya jatuh cinta pada Saras, tapi setelah pertemuan mereka yang terakhir, Saras tiba-tiba menghilang begitu aja. Bram sedih dan benar-benar terpukul. Beberapa tahun kemudian Bram dan Saras bertemu lagi, namun dengan kondisi dimana Saras sudah punya calon yang ternyata calon itu adalah teman Bram sendiri. Meski berat, Bram mencoba untuk menerima kenyataan. Aiiih~ *Bosomu, Di*
 Terus, kenapa judulnya Cicak di Dinding? Shall I tell you? -____- jadi si Saras ini ceritanya suka banget sama Cicak, sampai dibuat tattoo di salah satu bagian tubuhnya. Dan Bram juga suka sama cicak (atau karena Saras suka jadi ikutan suka), menurutnya. Cicak itu melindungi manusia dari gigitan nyamuk, tapi sayang banyak manusia yang ngga menyadarinya *Duh, bukan gitu sih quotesnya, tapi lupa. Intinya itu*

Overall film ini saya kasih two thumbs up! *nyodorin jempol*. Kalau dilihat dari isi ceritanya, sebenarnya semuanya adalah cerita yang sederhana, ngga muluk-muluk, ngga terlalu drama. Tapi film ini sukses bikin saya nyesek dan ngena sampai ulu hati *halah*. Ya, mungkin karena cara pengemasannya yang apik, lagi pula film yang dibuat dari beberapa cerita pendek juga belum terlalu populer di Indonesia, jadi film ini bisa menjadi salah satu angin segar bagi penonton yang bosan dengan alur cerita di film yang itu-itu aja.  

Oh, ya, dari kelima cerita tersebut, saya pribadi paling suka dengan Malaikat Juga Tahu-nya Kak Marcella Zallianty. Kisah cinta yang ngga terlalu mainstream mungkin bisa jadi alasannya. Om Lukman Sardi ini juga totally perfect dalam memainkan perannya sebagai seorang autis, benar-benar menyentuh, lihat aja gimana dia sakit dan patah hati ketika tahu Leia pergi, ketika tahu cintanya sudah tidak akan pernah terbalas, cara dia berekspresi sebagai orang autis yang kehilangan orang terkasih, totally awesome! Peran Leia yang dimainkan oleh Kak Prisia Nasution ini juga pas banget. Terlihat natural dan sederhana.

Untuk ratting nomor dua, saya suka dengan Curhat Buat Sahabatnya Kak Olga Lidya. Entahlah, di luar sana banyak yang bilang kalau film ini biasa aja, tapi buat saya engga. Di film ini saya bisa lihat gimana setianya Reggie yang selalu ada buat Amanda. Mungkin karena friendzoned gitu, jadi Reggie ngga bisa mengungkapkannya dengan kata-kata kalau sebenarnya dialah orang yang selama ini Amanda cari. Peran Amanda yang dimainkan sama Acha Septriasa ini juga pas banget: supel dan ekspresif. Cara Acha menangis, bercerita, semua ngalir gitu aja, and I love it!

Untuk tiga film lainnya, bagus sih, Cuma saya merasa biasa aja dan kurang greget. Apalagi, film Hanya Isyarat, entah kenapa rasanya kurang mengena, mungkin karena sosok yang memerankan tokoh Raga kurang pas, jadi terlihat biasa aja.




Baca SelengkapnyaReview Film Rectoverso: Cinta Yang Tak Terucap
Category: 0 komentar

Tokoh Fiksi Cowok Cuek-Bandel-Bikin-Penasaran


Hyak! Salam Blogger semuanyaaaaah!

Saya kembali datang buat nulis topik baru, hehehe.
Akhir-akhir ini saya lagi sering banget maen ke Gramedia. Engga, saya ke Gramedia bukan beli buku/novel kok, Cuma numpang baca aja di sana. Kan lumayan tuh, banyak novel-novel yang segelnya udah kebuka, udah ngga perawan lagi *Perawan! Bosomu Di…*

Sebenernya tujuannya ke Gramedia ngga harus baca novel sih, yang penting yang enak dibaca aja, dan tetep yang segelnya udah kebuka #AkuCintaGratisan. Cuma kebeneran aja, gegara nongkrongnya di rak bagian novel ya yang dibaca ujung-ujungnya novel juga *lah :|*

Sering ngga sih temen-temen nemuin Tokoh fiksi cowok yang cuek, cool, kalem, ngga banyak omong, dan yang jelas jadi pujaan banyak cewek? Dari novel-novel yang udah saya baca dari dulu sampe sekarang *ngga banyak sih* banyak nih Tokoh fiksi cowok yang karakternya cuek-bandel-dan-bikin-penasaran, . Dan biasanya tokoh yang kayak gitu malah yang jadi favorit pembaca, yee ngga? Nah, gegara itu jadi kepikiran buat nulis tentang siapa aja Tokoh cowok-fiksi-yang-cuek-bandel-dan-bikin-penasaran yang udah pernah saya baca. 

Here there are:
1. Kudou Shinichi (Detective Conan)



     Duilee, siapa yang ngga tau sama Shinichi. Kalo emang ada, kebangetan -______-. Kalo Shinichi ini Tokoh fiksi dari manga terkenal Detective Conan. Dulu saya sering banget update manganya. Sayang, sejak kelas duabelas engga pernah update lagi *Lah ini malah curhat, fokus Di.. fokus*. Nah, karakternya Shinichi ini emang cuek. Cuek banget malahan. Ngga pernah peka sama apa yang Ran rasain #Eeeaaak. Shinichi ini emang bukan tipe anak bandel. Dia cerdas kok, saking cerdasnya dia kadang Cuma mengandalkan rasionalitasnya tanpa menggunakan hati *Ecieeh Diah*. Kasian Ran, doi sering dibikin nyesek sama Shinichi yang cuek dan ngga peka, hih! Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$
  
      2. Dira (Dealova)

Kalo yang ini sih ngga usah diceritain, hampir kebanyakan orang tahu gimana karakternya si Dira ini, galak, cuek, pendiam, ketus sama kara, tapi jago main basket. Kewwl :3. Novel karya Dian Nuranindya ini udah pernah diangkat ke layar lebar, sampe ke layar televisi juga. Ngga percaya? Tunggu aja tiap akhir taun/awal taun. Ini film pasti udah muncul di RCTI, haha. 

3.   Matahari Senja (Jingga dan Senja)


      Nah, kalo yang ini Tokoh fiksi dari Novel karangannya Mbak Esti Kinasih. Si tokoh namanya Matahari Senja, dipanggilnya Ari. Kenapa namanya gitu? Katanya doih lahir pas matahari mau tenggelam gitu. Kalo yang udah baca sih, pasti tau si Ari ini karakternya gimanaan. Namanya doang yang melankolis-puitis-romantis-gimana-gitu, tapi karakternya? Beuh, Cuek, bandel, kejam, hobi tawuran, nantang sana-sini, istilah sederhananya sih sengak lah. Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$. 

    4. Adri (Dilema)
Namanya Adri, anak kelas XI IPA. Karakter pertama yang dimunculkan dari si Penulis adalah pendiam, ngga punya temen, cuek abis pokoknya. Duduknya aja sendiri di pojok belakang, jarang masuk kelas, suka ngrokok pula. Nah kan keliatan bandelnya. Di novel ini diceritakan kalo si Adri ini ditaksir sama cewek namanya Kira *Kalo ngga salah, sumpah lupa :|*. Katanya kalo pakeannya udah ngga rapih sama rambutnya acak-acakan itu bikin si doih keliatan tambah cakep. *bayangin* *oke cukup*. Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$. 


Nah, segitu dulu kali yaa Tokoh fiksi yang cuek-bandel-dan-bikin-penasaran. Jujur nih, saya sendiri sukak banget sama tokoh-tokoh fiksi yang kayak gitu. Cool, kalem, bandel, keren aja gitu kesannya, hehehe.

Baca SelengkapnyaTokoh Fiksi Cowok Cuek-Bandel-Bikin-Penasaran

Cerpen dari Masa Lalu

Haloo~
Selamat pagi~


Postingan kali ini disponsori oleh kuliah kosong (/‾‾)/ #BahagiaItuSederhana #BiasalahMahasiswa.

Emm, jadi gini... semalem saya iseng-iseng buka folder 'note' di laptop saya. Semua cerita yang saya punya, sedih, seneng, galau, pokoknya yang saya banget semuanya ada di folder itu. Dari sekian banyak list yang ada, saya menemukan sebuah dokumen berjudul 'random'. Nah, saya sendiri lupa itu dokumen isinya apaan. Apakah yang saya tulis itu ke-random-an hidup saya? Apakah saya pernah ketemu sama orang yang random abis? Apakah itu semua ada hubungannya dengan Sm*sh makan sonais? Atau ada korelasi antara dokumen 'random' itu dengan ramalan suku Maya? who knows.

Ya udah, daripada penasaran, saya buka. Dan ternyata..... isinya.... ce....ce...ccccceee..... cccceeeerrr....... cccccccceeeeeeeeeerrrrrrrrppppppeeeeeeen! Iya, sebuah cerpen yang saya sendiri lupa pernah nulis cerpen yang dikasih judul 'random'. Random abis -______-. Well, ternyata ini cerpen belum selesai, seinget saya sih ini cerpen di buat pas SMA, soalnya ada scene dimana si Tokoh ngomongin masalah pernikahan Pangeran William. Dari pada dianggurin, mending langsung baca aja ya? Itupun kalo mau baca. Saya ngga maksa kok, sumpah!

***
            “kenapa? Aku salah apa sama kamu?” Tanya Putri. Lelaki yang ada di depannya diam sejenak sambil memalingkan wajahnya. Entah pria ini malu, takut atau memang tidak ingin menatap wajah Putri yang sampai hari ini masih menjadi pacarnya. “Raffi jawab!” tegas Putri sambil terus memegang tangan Raffi. “kamu ngga salah, sama sekali engga, aku Cuma ngrasa udah ngga cocok sama kamu, aku pengin sendiri” jawab Raffi sambil melepaskan tangan Putri. “tapi aku ngga mau, aku sayang sama kamu Raff,” jawab Putri. Raffi mendesah dan berkata “ya terserah, intinya aku lagi pengin sendiri, jadi jangan pernah berhubungan sama aku lagi”. Belum sempat Putri menjawab Raffi langsung pergi meninggalkan Putri di kolam depan sekolah. Layaknya wanita lain, tangis Putri pun pecah mendengar hal ini, dia tidak menyangka kalau ternyata pria yang disayanginya meniggalkannya tanpa alasan yang jelas. 

            Raffi memang seperti itu, begitu pasif, aneh, dan tak banyak bicara, bahkan pada pacarnya pun dia masih tertutup. Bisa dibilang, Raffi adalah satu-satunya siswa yang tak punya banyak teman, padahal sudah hampir dua tahun Raffi bersekolah di SMA itu. Setiap istirahat, jarang sekali Raffi terlihat di kantin. Dia lebih sering terlihat duduk di perpustakaan sambil membaca karangan Kahlil Gibran. Ya, Raffi memang terlihat seperti cowok yang romantis, karena buku bacaan favoritnya. Tapi tidak demikian, dia sama sekali tak romantis. Dia bisa berpacaran dengan Putri itu juga bukan karena dia menyatakan cintanya, tapi Putri lah yang menyatakan perasaannya, sampai akhirnya Raffi mau jadi pacar Putri, cewek yang paling dikagumi banyak cowo di sekolah ini. 

            “Cinta, cinta adalah satu-satunya kebebasan diatas dunia ini dia mengangkat jiwa begitu tinggi dan hukum-hukum manusia dan kenyataan alam tak akan dapat mengubah arahnya atau merintangi. Cinta hanyalah sebuah kemisterian, kita selalu mengagungkan cinta dan memberi arti akan cinta. Tapi tanpa kita sadari sebenarnya kita sendiri masih mencari jawaban akan arti cinta, bahwa sebenarnya kita juga belum begitu memahami apa arti cinta”.
 
            Itulah salah satu puisi cinta yang ditulis oleh Kahlil Gibran, begitu menyentuh, mendalam, dan sangat mengena di jiwa. Tak berbeda dengan Kahlil Gibran, semua manusia pasti merasakan cinta, begitu juga dengan Raffi. Dan, kisah cinta yang sebenarnya dimulai. 

            Tahun ajaran baru dimulai, sepatu baru, tas baru, buku baru, kelas baru, dan siswa baru, dan ya ini adalah hari pertama masa orientasi siswa dimana ada seorang gadis polos yang berlari karena terlambat masuk sekolah, dan ketika memasuki lobby pertemuan pertama itu dimulai. Brakk!! Gadis yang berlari dengan mengenakan pakaian SMP ini menabrak sesuatu, bukan tepatnya seseorang. Gadis ini menunduk karena takut. Dia hanya melihat sepatu kets hitam dan celana abu-abu yang dipakai seseorang itu. Ah, ini pasti kakak kelas, pikirannya buyar entah kemana, mungkinkah dia akan dimarahi? Atau jangan-jangan dia adalah senior yang menjadi panitia MOS. Tanpa pikir panjang gadis ini langsung meminta maaf, “maaf ka, aku ga sengaja, bener deh, soalnya lagi buru-buru, maaf ya ka, maaf banget?” akhirnya gadis ini memberanikan diri untuk melihat wajah pria di depannya. Ada apa ini, bukankah pangeran William sedang berbulan madu bersama istrinya? Tapi mengapa sekarang dia ada di depan mata. Bukan, dia lebih tepat mirip dengan….  Belum selesai fikirannya berbicara, pria yang ada di depannya berkata datar “kalau jalan hati-hati!”. Ah iya, mirip sekali, fikirnya dalam hati. Pria ini membenarkan tas yang dikenakannya kemudian berjalan meninggalkan gadis yang sedari tadi tak henti-hentinya memandang. Pandangannya kemudian tertuju pada jam yang ada di dinding lobby itu. Jarum  panjang menunjuk pukul tujuh kurang sepuluh menit, “ah, aku telat!” akhirnya dia langsung berlari menuju kelas baru yang ada di ujung dekat kolam. Ketika masuk, gadis ini terlihat bingung, karena dia tak punya teman lama yang satu kelas dengannya. Matanya tertuju pada semua arah untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Masih dalam keadaan bingung dan berdiri tiba-tiba, kringgg!! Bel masuk berbunyi, semua siswa yang sedang duduk santai langsung gaduh tak beraturan, mereka keluar dari kelas layaknya kelelawar yang keluar dari gua. Begitu rusuh sampai gadis ini tertabrak dan tasnya jatuh. Tiba-tiba seseorang mengambil tasnya dan menaruhnya di meja dan menarik tangan gadis ini. “ayo cepat, nanti kita terlambat ikut upacara, jangan sampai hari pertama ini kita dihukum”. Gadis ini masih saja terlihat bingung, tadinya dia mengira bahwa yang menggandengnya adalah pangeran William yang ia temui tadi, tapi setelah dia melihat dengan seksama ternyata ini adalah seseorang yang lain.

            Sampai di lapangan upacara, semua baris dan bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan MOS. “hai, maaf tadi memegang tanganmu terlalu keras, namaku Revan” sambil mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan gadis ini. “oh iya, ga papa, namaku Tasya” jawab gadis yang bernama Tasya ini, dia menyambut dengan baik jabatan dari Revan. “oke, mulai hari ini, kita teman ya?”. Akhirnya upacara pun dimulai, semua peserta upacara Nampak terlihat rapih di tiap barisannya, terutama siswa-siwa baru. Entah karena takut atau memang benar-benar hikmat dalam upacara, yang jelas tak ada satupun yang asik bermain dengan dirinya sendiri, tapi tidak dengan Tasya. Dia memang diam selama upacara berlangsung, namun yang sebenarnya, dia sedang asik bermain-main dengan fikirannya. Seseorang yang ia tabrak pagi tadi masih berputar-putar di otak Tasya. Saking asiknya, dia tak menyadari bahwa upacara telah selesai, tangan badannya masih berdiri dengan sikap sempurna. “hey Tasya, upacara sudah selesai, kenapa kamu masih diam di tempat begitu?” ucap Revan sambil menepuk bahu Tasya. “hah? E… aa…?” Tasya terkejut bukan main, dia hanya bisa celingukan dan masih bingung karena yang masih berada di lapangan hanya dia dan Revan. “lll….oooh, yyyaaangg lain ma… mana?” ujar Tasya dengan gugup. “teman-teman yang lain sudah masuk ke kelas, sebenarnya tadi aku juga sedang menuju ke sana, tapi aku liat kamu dari tadi masih berdiri di sini. Sepertinya kamu sedang ada masalah? Sampai-sampai kamu ngga sadar kalau upacara sudah selesai?” Tanya Revan heran. “oh, begitu yaa? Ah, masalah? Masalah apa? Ngga ada kok, jiwa nasionalisku kan terlalu tinggi, jadi saking seriusnya ikut upacara, aku ngga sadar kalau ternyata upacara sudah selesai, hehehe” jawab Tasya sambil garuk-garuk kepala. “hahaha… kamu aneh!! Ya sudahlah, ayo masuk kelas, sebentar lagi pemberian materi akan dimulai, jangan sampai kita kena hukum karena terlambat!” ujar Revan yang langsung meraih tangan Tasya untuk kedua kalinya. Akhirnya mereka sedikit berlari karena memang lapangan sudah sepi. Dan akhirnya sesuatu yang tidak diharapkan keduanya terjadi. “dari mana kalian? Pake acara pegangan tangan segala? Memangnya kalian ngga tau sekarang jadwalnya apa?”  Tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di depan mereka ketika mereka sampai di pintu kelas. Entahlah itu siapa, tapi yang jelas di saku kirinya terpancang sebuah co-card bertuliskan PANITIA!. Ah tidak salah lagi, ini pasti kakak panitia MOS! Fikir Tasya. “maaf ka, kami terlambat, tadi topi saya jatuh lalu…!” belum selesai Tasya menjawab, “bohong!"

To be continued...
                                                                            ***
Nah gimana? Terlalu mainstream ya? Yah, saya sendiri aja shock baca ini. Dan adegan yang paling disesalkan adalah tabrakan di lobby. Sumpah itu FTV banget (--,). Tapi ini beneran buatan saya dulu, ngga ada unsur penambahan/pengurangan sama sekali pas mau dipublish. Oh ya, ngomong-ngomong ini cerpen belum dikasih judul yak? hehe. Berhubung ngga tahu mau dikasih judul apa (karena lupa dulu alurnya mau dibuat kayak gimana) jadi biarlah cerpen ini tak berjudul. Kapan-kapan mau saya lanjutin ah ceritanya. Tungguin ya~

Hehehe,

Salam,
Diah Harni
Penulis (Amatir)

 





Baca SelengkapnyaCerpen dari Masa Lalu
Category: , 0 komentar

Ibu Lebih dari Segelas Susu Coklat Hangat: Lebih Menguatkan


Akhir-akhir ini hariku benar-benar sibuk. Dampak dari kuliah di Ilmu Komunikasi adalah Take Home Examination. Ya, aku jarang mengikuti ujian tertulis. Karena memang dengan semua mata kuliah yang non eksak, adalah sebuah tidak mungkin ketika harus diuji hanya dengan waktu dua jam. Banyak yang bilang enak memang, bisa dikerjakan di rumah sambil santai dan bisa Tanya teman. Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Karena sebagian besar tugas tersebut butuh pemikiran murni dari otakmu. Ketika ada jawaban yang mirip dengan temanmu, maka bersiaplah untuk nilai D atau mungkin E.

Hampir tiap malam aku begadang, bahkan sampai jam dua pagi. Bergulat dengan tugas yang rasanya tidak ada habis-habisnya dan itu-itu saja. Jenuh. Aku jenuh ketika harus berkutat dengan artikel. Aku jenuh dengan makalah. Aku jenuh dengan politik. Aku jenuh mengerjakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dalam satu kali duduk. Jika kau bertanya, apa yang menjadi sahabat setia mahasiswa Ilmu Komunikasi di saat harus bergulat dengan tugas, internet adalah jawabannya. 

Jam tujuh malam lebih aku ditelfon Ibu, bertanya tentang bagaimana hariku. Ya, itu adalah sebuah “ritual” yang setiap malam ibuku lakukan. Menelfon anaknya hanya untuk bertanya seputar hal yang sama: hari ini pulang jam berapa, sudah makan berapa kali, dan sekarang sedang apa. Aku sampai hafal dengan tiga pertanyaan itu. Sampai terkadang aku malas menjawab. Aku bosan ditelfon Ibu terus. 

Tapi malam itu beda. Nada suaraku memang terkesan malas untuk menjawab, sampai beliau Tanya, “baru bangun ya? Beli susu sana, biar ngga lemes.” Yah, beliau memang (masih) selalu menyarankan anaknya untuk beli susu, beliau percaya susu bisa bikin anaknya kuat. Aku menjawab sambil duduk di depan laptop, dimana ada tiga tab Ms. Word yang aku buka, salah satunya sudah kuberi judul “Makalah Komunikasi”. Masih dalam nada malas (atau memelas) aku menjawab semuanya,

“Aku ngga tidur Bu, aku masih berkutat dengan tugas. Aku capek dengan tugas yang tak kunjung selesai ini, Aku kangen Bapak Ibu, Aku pengin pulang”

Semua mengalir begitu saja, dua kalimat terakhir adalah apa yang paling aku rasakan sekarang. Aku pengin pulang, bertemu Bapak Ibu. Aku ingin berada di tengah keluarga yang hangat. Aku masih ingat, dulu setiap aku belajar, Ibuku selalu membuatkan segelas susu coklat hangat. Selalu mengelus kepala sambil menyemangati aku yang sedang belajar. 

Berbeda dengan sekarang. Aku hanya duduk saling berhadapan dengan benda digital yang hampir aku bosan menyentuhnya. Berada dalam kamar yang dikelilingi tembok putih. Aku memang bisa main ke kamar sebelah, agar bisa ada teman. Tapi bukan itu yang aku butuhkan. Aku butuh Ibuku di sini. Aku butuh lebih dari segelas susu coklat yang Ibu bilang bisa bikin kuat. Aku butuh Ibuku yang bisa menguatkan. 

Seperti biasa, Ibuku Cuma bisa berdoa agar tugas cepat selesai, dan memberi kalimat-kalimat motivasi, “ngga papa prihatin, jauh dari orang tua. Kamu pulangnya besok sekalian libur semester saja. Bulan ini ngga ada tanggal merah, kasian kamu nanti kalau pulang Cuma dua hari, kamu capek di jalan.” Begitu kira-kira kata Ibu untuk menjawab pernyataanku, bu aku pengin pulang. Telfon sudah ditutup. Aku menghela nafas panjang, bergumul lagi dengan tugas yang mau tak mau harus dikerjakan. 

Jam sepuluh lebih handphone-ku bunyi lagi. Dengan ringtone dari Maroon 5-One more night, kulihat siapa yang menelfon, ternyata Ibuku telfon lagi. Beliau Tanya apa aku masih mengerjakan tugas, saat kujawab “ya, masih banyak, mungkin begadang sampai tengah malam nanti.” Ibuku langsung bicara panjang, memotivasi anaknya agar tugasnya selesai. Aku tersenyum sambil jawab sekenanya, saat aku Tanya mengapa beliau belum tidur, beliau bilang ngga bisa tidur kepikiran anaknya yang terakhir. Ya aku. Aku diam untuk beberapa detik, masih duduk dengan posisi yang sama saat Ibu telfon jam tujuh malam tadi. Masih didepan halaman Ms. Word dengan judul yang sama. Hanya satu yang berbeda, dari sudut kedua mata ada yang menetes. Semakin banyak…. Semakin banyak…. 

Aku terharu Ibu sampai ngga bisa tidur, bahkan telfon sampai dua kali. Aku jawab semua pernyataaan Ibu sambil mengatur nafas, agar beliau tidak tahu apa yang terjadi. Nanti malah jadi kepikiran, dan beliau tambah ngga bisa tidur, pikirku. Aku tidak tahu Ibu tahu atau tidak aku menangis, semoga tidak. 

Percakapan di telefon sudah selesai. Aku duduk lemas termenung atas semua ucapan Ibu tadi. Betapa beliau begitu menyayangi anaknya. Betapa kasih sayang beliau memang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dan karena Ibu lebih dari segelas susu coklat hangat, lebih menguatkan. 

 Hatiku sudah tenang di telfon Ibu dua kali. Aku merasa lebih kuat sekarang, meskipun rasa kangen untuk pulang ke rumah belum terlampiaskan. Kini kuatur nafas kembali, melemaskan jari tangan, membiarkannya menari di atas keyboard, untuk sebuah misi: menyelesaikan tugas.
Baca SelengkapnyaIbu Lebih dari Segelas Susu Coklat Hangat: Lebih Menguatkan

Gajah Mati Meninggalkan Gading, Kamu Mati Meninggalkan Apa...?


Halloo~
Selamat pagi~

Ehem *check sound*. Setelah agak lamaan ngga ngeblog, akhirnya sekarang ngeblog juga, yeay! Yak, FYI, saya lama ngga ngeblog karena sibuk *sok sibuk* *dikeplak*. Iyes, sibuk karena ngerjain tugas-tugas dosen yang kadang tidak berperikemahasiswaan. *semoga ngga ada dosen yang baca*

Nah, posting kali ini disponsori oleh acara begadang tadi malem. Jadi, tadi malem itu saya mantengin Youtube dari jam sepuluh sampe jam setengah satuan *eh buseet*. Ngga sih, begadang semalem bukan bagian dari tugas. Berawal dari iseng-iseng nulis keyword “warkop DKI” di tab search, ternyata banyak loh yang upload film-film para comedian legendaris tersebut. Ya udah, saya pilih satu film yang judulnya “Saya Suka Kamu Punya” *kemudian hening*.... 

No! Saya milih bukan berdasarkan judulnya yang agak gimana. Tapi saya pilih judul itu karena keliatannya itu film paling jadul diantara judul lain yang saya temui. Bukan, saya tau itu film paling lama bukan karena hafal judul dan isi ceritanya, tapi itu dilihat dari gambarnya yang jadul banget.

Saya bener-bener nyimak film itu sampe akhir. Meskipun mengeluh ditengah-tengah film “yah, ini sih udah pernah nonton”, tapi nyatanya saya tetep masih bisa menikmati film tersebut. Lucu, penuh dengan dialog khas mereka. Padahal, lelucon yang mereka bawakan itu terjadi di tahun dimana saya belum lahir. Dan semakin ke sini, konsep lawakan tiap comedian itu kan berubah seiring berjalannya waktu.Tapi ini ngga berlaku untuk mereka (Warkop DKI:red). Buat saya, lawakan khas mereka itu Ngga ada matinya. Meskipun sudah berkali-kali nonton (bahkan sampe hafal beberapa dialognya) mereka berhasil membuat saya tertawa, dan itu ngga ngebosenin. 

Setelah film selesai, saya scroll mouse laptop ke bawah untuk lihat komentar dari para Youtube-ers *mbuh opo jenenge*, dan di situ ada yang komen, “Sayang ya, Dono dan Kasinonya sudah Almarhum, kalau mereka masih hidup, mungkin mereka masih ngelucu sampe sekarang.” Terus saya mikir, Iya juga ya, dua diantara mereka sudah meninggal, tapi karya mereka masih bisa dinikmati orang.
Saya langsung inget sama pepatah:

“ Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”

Dua dari WARKOP DKI memang sudah meninggal. Tapi, mereka mati tak hanya sekedar meninggalkan nama, tapi karya. Iya, sampai kapanpun karya mereka masih bisa dinikmati banyak orang, masih bisa bikin orang terhibur, dan yang jelas mereka masih bermanfaat untuk orang lain meski mereka sudah ngga ada.

Saya pun berkontemplasi dan bertanya pada diri sendiri, kalau saya mati mau meninggalkan apa…? Sebenarnya saya sudah ada niat dari dulu, saya ingin jadi penulis, entah itu personal literature atau novel fiksi... Tapi terkadang niat itu hilang karena saya males nulis, dan sering menyalahkan keadaan dengan bilang “aku ngga punya waktu”. Niat dan semangat saya akan muncul kembali kalau saya baca novel, dan bilang, “saya harus nulis!”.

Tapi, semakin ke sini, saya mau memantapkan diri untuk menulis. Mungkin teman-teman pernah baca status saya yang ini:



Iya, itu target kalau tulisan saya harus selesai Juli 2013. Padahal, sampai sekarang saya belum nulis sama sekali -______-. Kemarin, saya juga baru mencatat daftar mimpi saya di buku, dan ‘menulis’ menjadi bagian dari daftar tersebut. Yah, mungkin saya terlalu idealis untuk bilang Juli mendatang tulisan saya harus selesai. Saya sendiri masih ragu, dan suka ngomong sama diri sendiri, Hae Mahasiswa, nulis itu ngga segampang yang kamu kira, yakin delapan bulan lagi selesai?

Ya, kapanpun itu saya harus mulai nulis! Pun seandainya target saya belum tercapai, yang penting saya sudah mencoba untuk menulis. Karena  saya ingin punya ‘sesuatu’ yang bisa membuat orang bergumam, jadi ini karyanya Diah Harni. Dan yang jelas, saat saya meninggal nanti, saya tak hanya sekadar meninggalkan nama, tapi juga sebuah karya.

*Semoga Tuhan memberi saya panjang umur, Amin.*
 

Baca SelengkapnyaGajah Mati Meninggalkan Gading, Kamu Mati Meninggalkan Apa...?
Category: 2 komentar