Bel masuk sekolah berbunyi, waktu saat itu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Itu artinya, seluruh siswa harus menyudahi masa istirahat mereka dan siap untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran. Seketika penghuni kelas itu segera duduk manis di bangku masing-masing. Tidak seperti jam-jam lainnya, biasanya bel tanda masuk tidak pernah dihiraukan, namun agaknya seseorang yang akan masuk ke kelas ini cukup special di mata mereka, hingga mereka benar-benar disiplin mengikuti aturan sekolah.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, sosoknya yang penuh charisma makin terlihat jelas. Kacamata dengan “tali penggantung” ciri khasnya semakin meyakinkan bahwa beliaulah orang yang ditunggu. Pembawaannya begitu tenang, dan penuh wibawa menunjukkan bahwa beliau merupakan sosok yang disegani. Langkahnya kian terdengar seiring suasana kelas yang semakin hening.
Selalu dan selalu, tak ada basa-basi, tak ada kata pengantar, ataupun sapaan yang biasa ditunjukkan oleh guru lain. Entahlah, mungkin beliau adalah tipikal orang yang tak suka basa-basi, atau bahkan menganggap bahwa basa-basi merupakan hal yang hanya akan membuang-buang waktu saja. Mengajar dengan menatap wajah siswa-siswinya adalah hal jarang dilakukan. Biasanya, mengajar sambil membaca buku menulis di papan tulis menjadi pilihannya. Sesekali, ketika kelas terlihat begitu serius mengikuti pelajarannya, tiba-tiba beliau membuat lelucon yang tak diduga-duga. Ah, sedikit aneh memang, orang yang seserius itu suka becanda juga. Lelucon yang dikeluarkan memang terkesan garing namun, karena pembawaannya yang biasa serius itulah yang membuat seisi kelas tertawa. Rasanya, ikut bahagia ketika melihat beliau begitu bahagia mengeluarkan joke garingnya itu.
Sesekali, beliau juga bercerita mengenai kehidupan pribadinya. Biasa saja memang, namun jika dicermati, ada banyak nasihat-nasihat bijak di sana. Dari ceritanya, terlihat jelas memang bahwa beliau adalah sosok yang berpegang teguh pada prinsip. Hingga akhirnya, cerita hidupnya mengingatkan seseorang akan kejadian dua tahun silam, dimana ada sekelumit kisah pahit yang ia alami bersama beliau. jika mengingat kejadian itu, sungguh tidak pernah membayangkan akan ada orang yang begitu antagonis memaksa seseorang untuk mengundurkan diri dari sekolah karena hal yang kekanak-kanakan. Betapa permintaan tersebut terlihat seperti shock terapy yang mengakibatkan trauma berkepanjangan. Tapi setidaknya, shock terapy tersebut membuat seseorang ini terlihat sedikit lebih dewasa dari sebelumnya.
Ah memang, sosoknya yang tenang, kharismatik dan berwibawa akan selalu teringat. Dan sebuah kalimat bijak yang pernah beliau tuturkan pun tak akan pernah terlupakan bahwa “hiduplah seperti lebah, yang bisa bermanfaat bagi bunga-bunga yang ia hinggapi, namun dapat menyengat siapapun yang mengganggunya”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar