Follow Me on Twitter

Tokoh Fiksi Cowok Cuek-Bandel-Bikin-Penasaran


Hyak! Salam Blogger semuanyaaaaah!

Saya kembali datang buat nulis topik baru, hehehe.
Akhir-akhir ini saya lagi sering banget maen ke Gramedia. Engga, saya ke Gramedia bukan beli buku/novel kok, Cuma numpang baca aja di sana. Kan lumayan tuh, banyak novel-novel yang segelnya udah kebuka, udah ngga perawan lagi *Perawan! Bosomu Di…*

Sebenernya tujuannya ke Gramedia ngga harus baca novel sih, yang penting yang enak dibaca aja, dan tetep yang segelnya udah kebuka #AkuCintaGratisan. Cuma kebeneran aja, gegara nongkrongnya di rak bagian novel ya yang dibaca ujung-ujungnya novel juga *lah :|*

Sering ngga sih temen-temen nemuin Tokoh fiksi cowok yang cuek, cool, kalem, ngga banyak omong, dan yang jelas jadi pujaan banyak cewek? Dari novel-novel yang udah saya baca dari dulu sampe sekarang *ngga banyak sih* banyak nih Tokoh fiksi cowok yang karakternya cuek-bandel-dan-bikin-penasaran, . Dan biasanya tokoh yang kayak gitu malah yang jadi favorit pembaca, yee ngga? Nah, gegara itu jadi kepikiran buat nulis tentang siapa aja Tokoh cowok-fiksi-yang-cuek-bandel-dan-bikin-penasaran yang udah pernah saya baca. 

Here there are:
1. Kudou Shinichi (Detective Conan)



     Duilee, siapa yang ngga tau sama Shinichi. Kalo emang ada, kebangetan -______-. Kalo Shinichi ini Tokoh fiksi dari manga terkenal Detective Conan. Dulu saya sering banget update manganya. Sayang, sejak kelas duabelas engga pernah update lagi *Lah ini malah curhat, fokus Di.. fokus*. Nah, karakternya Shinichi ini emang cuek. Cuek banget malahan. Ngga pernah peka sama apa yang Ran rasain #Eeeaaak. Shinichi ini emang bukan tipe anak bandel. Dia cerdas kok, saking cerdasnya dia kadang Cuma mengandalkan rasionalitasnya tanpa menggunakan hati *Ecieeh Diah*. Kasian Ran, doi sering dibikin nyesek sama Shinichi yang cuek dan ngga peka, hih! Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$
  
      2. Dira (Dealova)

Kalo yang ini sih ngga usah diceritain, hampir kebanyakan orang tahu gimana karakternya si Dira ini, galak, cuek, pendiam, ketus sama kara, tapi jago main basket. Kewwl :3. Novel karya Dian Nuranindya ini udah pernah diangkat ke layar lebar, sampe ke layar televisi juga. Ngga percaya? Tunggu aja tiap akhir taun/awal taun. Ini film pasti udah muncul di RCTI, haha. 

3.   Matahari Senja (Jingga dan Senja)


      Nah, kalo yang ini Tokoh fiksi dari Novel karangannya Mbak Esti Kinasih. Si tokoh namanya Matahari Senja, dipanggilnya Ari. Kenapa namanya gitu? Katanya doih lahir pas matahari mau tenggelam gitu. Kalo yang udah baca sih, pasti tau si Ari ini karakternya gimanaan. Namanya doang yang melankolis-puitis-romantis-gimana-gitu, tapi karakternya? Beuh, Cuek, bandel, kejam, hobi tawuran, nantang sana-sini, istilah sederhananya sih sengak lah. Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$. 

    4. Adri (Dilema)
Namanya Adri, anak kelas XI IPA. Karakter pertama yang dimunculkan dari si Penulis adalah pendiam, ngga punya temen, cuek abis pokoknya. Duduknya aja sendiri di pojok belakang, jarang masuk kelas, suka ngrokok pula. Nah kan keliatan bandelnya. Di novel ini diceritakan kalo si Adri ini ditaksir sama cewek namanya Kira *Kalo ngga salah, sumpah lupa :|*. Katanya kalo pakeannya udah ngga rapih sama rambutnya acak-acakan itu bikin si doih keliatan tambah cakep. *bayangin* *oke cukup*. Tapi justru karena sifatnya ini, bikin saya penasaran. Kamu iya ngga? Kalo aku iya banget :$. 


Nah, segitu dulu kali yaa Tokoh fiksi yang cuek-bandel-dan-bikin-penasaran. Jujur nih, saya sendiri sukak banget sama tokoh-tokoh fiksi yang kayak gitu. Cool, kalem, bandel, keren aja gitu kesannya, hehehe.

Baca SelengkapnyaTokoh Fiksi Cowok Cuek-Bandel-Bikin-Penasaran

Cerpen dari Masa Lalu

Haloo~
Selamat pagi~


Postingan kali ini disponsori oleh kuliah kosong (/‾‾)/ #BahagiaItuSederhana #BiasalahMahasiswa.

Emm, jadi gini... semalem saya iseng-iseng buka folder 'note' di laptop saya. Semua cerita yang saya punya, sedih, seneng, galau, pokoknya yang saya banget semuanya ada di folder itu. Dari sekian banyak list yang ada, saya menemukan sebuah dokumen berjudul 'random'. Nah, saya sendiri lupa itu dokumen isinya apaan. Apakah yang saya tulis itu ke-random-an hidup saya? Apakah saya pernah ketemu sama orang yang random abis? Apakah itu semua ada hubungannya dengan Sm*sh makan sonais? Atau ada korelasi antara dokumen 'random' itu dengan ramalan suku Maya? who knows.

Ya udah, daripada penasaran, saya buka. Dan ternyata..... isinya.... ce....ce...ccccceee..... cccceeeerrr....... cccccccceeeeeeeeeerrrrrrrrppppppeeeeeeen! Iya, sebuah cerpen yang saya sendiri lupa pernah nulis cerpen yang dikasih judul 'random'. Random abis -______-. Well, ternyata ini cerpen belum selesai, seinget saya sih ini cerpen di buat pas SMA, soalnya ada scene dimana si Tokoh ngomongin masalah pernikahan Pangeran William. Dari pada dianggurin, mending langsung baca aja ya? Itupun kalo mau baca. Saya ngga maksa kok, sumpah!

***
            “kenapa? Aku salah apa sama kamu?” Tanya Putri. Lelaki yang ada di depannya diam sejenak sambil memalingkan wajahnya. Entah pria ini malu, takut atau memang tidak ingin menatap wajah Putri yang sampai hari ini masih menjadi pacarnya. “Raffi jawab!” tegas Putri sambil terus memegang tangan Raffi. “kamu ngga salah, sama sekali engga, aku Cuma ngrasa udah ngga cocok sama kamu, aku pengin sendiri” jawab Raffi sambil melepaskan tangan Putri. “tapi aku ngga mau, aku sayang sama kamu Raff,” jawab Putri. Raffi mendesah dan berkata “ya terserah, intinya aku lagi pengin sendiri, jadi jangan pernah berhubungan sama aku lagi”. Belum sempat Putri menjawab Raffi langsung pergi meninggalkan Putri di kolam depan sekolah. Layaknya wanita lain, tangis Putri pun pecah mendengar hal ini, dia tidak menyangka kalau ternyata pria yang disayanginya meniggalkannya tanpa alasan yang jelas. 

            Raffi memang seperti itu, begitu pasif, aneh, dan tak banyak bicara, bahkan pada pacarnya pun dia masih tertutup. Bisa dibilang, Raffi adalah satu-satunya siswa yang tak punya banyak teman, padahal sudah hampir dua tahun Raffi bersekolah di SMA itu. Setiap istirahat, jarang sekali Raffi terlihat di kantin. Dia lebih sering terlihat duduk di perpustakaan sambil membaca karangan Kahlil Gibran. Ya, Raffi memang terlihat seperti cowok yang romantis, karena buku bacaan favoritnya. Tapi tidak demikian, dia sama sekali tak romantis. Dia bisa berpacaran dengan Putri itu juga bukan karena dia menyatakan cintanya, tapi Putri lah yang menyatakan perasaannya, sampai akhirnya Raffi mau jadi pacar Putri, cewek yang paling dikagumi banyak cowo di sekolah ini. 

            “Cinta, cinta adalah satu-satunya kebebasan diatas dunia ini dia mengangkat jiwa begitu tinggi dan hukum-hukum manusia dan kenyataan alam tak akan dapat mengubah arahnya atau merintangi. Cinta hanyalah sebuah kemisterian, kita selalu mengagungkan cinta dan memberi arti akan cinta. Tapi tanpa kita sadari sebenarnya kita sendiri masih mencari jawaban akan arti cinta, bahwa sebenarnya kita juga belum begitu memahami apa arti cinta”.
 
            Itulah salah satu puisi cinta yang ditulis oleh Kahlil Gibran, begitu menyentuh, mendalam, dan sangat mengena di jiwa. Tak berbeda dengan Kahlil Gibran, semua manusia pasti merasakan cinta, begitu juga dengan Raffi. Dan, kisah cinta yang sebenarnya dimulai. 

            Tahun ajaran baru dimulai, sepatu baru, tas baru, buku baru, kelas baru, dan siswa baru, dan ya ini adalah hari pertama masa orientasi siswa dimana ada seorang gadis polos yang berlari karena terlambat masuk sekolah, dan ketika memasuki lobby pertemuan pertama itu dimulai. Brakk!! Gadis yang berlari dengan mengenakan pakaian SMP ini menabrak sesuatu, bukan tepatnya seseorang. Gadis ini menunduk karena takut. Dia hanya melihat sepatu kets hitam dan celana abu-abu yang dipakai seseorang itu. Ah, ini pasti kakak kelas, pikirannya buyar entah kemana, mungkinkah dia akan dimarahi? Atau jangan-jangan dia adalah senior yang menjadi panitia MOS. Tanpa pikir panjang gadis ini langsung meminta maaf, “maaf ka, aku ga sengaja, bener deh, soalnya lagi buru-buru, maaf ya ka, maaf banget?” akhirnya gadis ini memberanikan diri untuk melihat wajah pria di depannya. Ada apa ini, bukankah pangeran William sedang berbulan madu bersama istrinya? Tapi mengapa sekarang dia ada di depan mata. Bukan, dia lebih tepat mirip dengan….  Belum selesai fikirannya berbicara, pria yang ada di depannya berkata datar “kalau jalan hati-hati!”. Ah iya, mirip sekali, fikirnya dalam hati. Pria ini membenarkan tas yang dikenakannya kemudian berjalan meninggalkan gadis yang sedari tadi tak henti-hentinya memandang. Pandangannya kemudian tertuju pada jam yang ada di dinding lobby itu. Jarum  panjang menunjuk pukul tujuh kurang sepuluh menit, “ah, aku telat!” akhirnya dia langsung berlari menuju kelas baru yang ada di ujung dekat kolam. Ketika masuk, gadis ini terlihat bingung, karena dia tak punya teman lama yang satu kelas dengannya. Matanya tertuju pada semua arah untuk mencari tempat duduk yang masih kosong. Masih dalam keadaan bingung dan berdiri tiba-tiba, kringgg!! Bel masuk berbunyi, semua siswa yang sedang duduk santai langsung gaduh tak beraturan, mereka keluar dari kelas layaknya kelelawar yang keluar dari gua. Begitu rusuh sampai gadis ini tertabrak dan tasnya jatuh. Tiba-tiba seseorang mengambil tasnya dan menaruhnya di meja dan menarik tangan gadis ini. “ayo cepat, nanti kita terlambat ikut upacara, jangan sampai hari pertama ini kita dihukum”. Gadis ini masih saja terlihat bingung, tadinya dia mengira bahwa yang menggandengnya adalah pangeran William yang ia temui tadi, tapi setelah dia melihat dengan seksama ternyata ini adalah seseorang yang lain.

            Sampai di lapangan upacara, semua baris dan bersiap untuk mengikuti upacara pembukaan MOS. “hai, maaf tadi memegang tanganmu terlalu keras, namaku Revan” sambil mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan gadis ini. “oh iya, ga papa, namaku Tasya” jawab gadis yang bernama Tasya ini, dia menyambut dengan baik jabatan dari Revan. “oke, mulai hari ini, kita teman ya?”. Akhirnya upacara pun dimulai, semua peserta upacara Nampak terlihat rapih di tiap barisannya, terutama siswa-siwa baru. Entah karena takut atau memang benar-benar hikmat dalam upacara, yang jelas tak ada satupun yang asik bermain dengan dirinya sendiri, tapi tidak dengan Tasya. Dia memang diam selama upacara berlangsung, namun yang sebenarnya, dia sedang asik bermain-main dengan fikirannya. Seseorang yang ia tabrak pagi tadi masih berputar-putar di otak Tasya. Saking asiknya, dia tak menyadari bahwa upacara telah selesai, tangan badannya masih berdiri dengan sikap sempurna. “hey Tasya, upacara sudah selesai, kenapa kamu masih diam di tempat begitu?” ucap Revan sambil menepuk bahu Tasya. “hah? E… aa…?” Tasya terkejut bukan main, dia hanya bisa celingukan dan masih bingung karena yang masih berada di lapangan hanya dia dan Revan. “lll….oooh, yyyaaangg lain ma… mana?” ujar Tasya dengan gugup. “teman-teman yang lain sudah masuk ke kelas, sebenarnya tadi aku juga sedang menuju ke sana, tapi aku liat kamu dari tadi masih berdiri di sini. Sepertinya kamu sedang ada masalah? Sampai-sampai kamu ngga sadar kalau upacara sudah selesai?” Tanya Revan heran. “oh, begitu yaa? Ah, masalah? Masalah apa? Ngga ada kok, jiwa nasionalisku kan terlalu tinggi, jadi saking seriusnya ikut upacara, aku ngga sadar kalau ternyata upacara sudah selesai, hehehe” jawab Tasya sambil garuk-garuk kepala. “hahaha… kamu aneh!! Ya sudahlah, ayo masuk kelas, sebentar lagi pemberian materi akan dimulai, jangan sampai kita kena hukum karena terlambat!” ujar Revan yang langsung meraih tangan Tasya untuk kedua kalinya. Akhirnya mereka sedikit berlari karena memang lapangan sudah sepi. Dan akhirnya sesuatu yang tidak diharapkan keduanya terjadi. “dari mana kalian? Pake acara pegangan tangan segala? Memangnya kalian ngga tau sekarang jadwalnya apa?”  Tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di depan mereka ketika mereka sampai di pintu kelas. Entahlah itu siapa, tapi yang jelas di saku kirinya terpancang sebuah co-card bertuliskan PANITIA!. Ah tidak salah lagi, ini pasti kakak panitia MOS! Fikir Tasya. “maaf ka, kami terlambat, tadi topi saya jatuh lalu…!” belum selesai Tasya menjawab, “bohong!"

To be continued...
                                                                            ***
Nah gimana? Terlalu mainstream ya? Yah, saya sendiri aja shock baca ini. Dan adegan yang paling disesalkan adalah tabrakan di lobby. Sumpah itu FTV banget (--,). Tapi ini beneran buatan saya dulu, ngga ada unsur penambahan/pengurangan sama sekali pas mau dipublish. Oh ya, ngomong-ngomong ini cerpen belum dikasih judul yak? hehe. Berhubung ngga tahu mau dikasih judul apa (karena lupa dulu alurnya mau dibuat kayak gimana) jadi biarlah cerpen ini tak berjudul. Kapan-kapan mau saya lanjutin ah ceritanya. Tungguin ya~

Hehehe,

Salam,
Diah Harni
Penulis (Amatir)

 





Baca SelengkapnyaCerpen dari Masa Lalu
Category: , 0 komentar

Ibu Lebih dari Segelas Susu Coklat Hangat: Lebih Menguatkan


Akhir-akhir ini hariku benar-benar sibuk. Dampak dari kuliah di Ilmu Komunikasi adalah Take Home Examination. Ya, aku jarang mengikuti ujian tertulis. Karena memang dengan semua mata kuliah yang non eksak, adalah sebuah tidak mungkin ketika harus diuji hanya dengan waktu dua jam. Banyak yang bilang enak memang, bisa dikerjakan di rumah sambil santai dan bisa Tanya teman. Tapi itu tidak sepenuhnya benar. Karena sebagian besar tugas tersebut butuh pemikiran murni dari otakmu. Ketika ada jawaban yang mirip dengan temanmu, maka bersiaplah untuk nilai D atau mungkin E.

Hampir tiap malam aku begadang, bahkan sampai jam dua pagi. Bergulat dengan tugas yang rasanya tidak ada habis-habisnya dan itu-itu saja. Jenuh. Aku jenuh ketika harus berkutat dengan artikel. Aku jenuh dengan makalah. Aku jenuh dengan politik. Aku jenuh mengerjakan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dalam satu kali duduk. Jika kau bertanya, apa yang menjadi sahabat setia mahasiswa Ilmu Komunikasi di saat harus bergulat dengan tugas, internet adalah jawabannya. 

Jam tujuh malam lebih aku ditelfon Ibu, bertanya tentang bagaimana hariku. Ya, itu adalah sebuah “ritual” yang setiap malam ibuku lakukan. Menelfon anaknya hanya untuk bertanya seputar hal yang sama: hari ini pulang jam berapa, sudah makan berapa kali, dan sekarang sedang apa. Aku sampai hafal dengan tiga pertanyaan itu. Sampai terkadang aku malas menjawab. Aku bosan ditelfon Ibu terus. 

Tapi malam itu beda. Nada suaraku memang terkesan malas untuk menjawab, sampai beliau Tanya, “baru bangun ya? Beli susu sana, biar ngga lemes.” Yah, beliau memang (masih) selalu menyarankan anaknya untuk beli susu, beliau percaya susu bisa bikin anaknya kuat. Aku menjawab sambil duduk di depan laptop, dimana ada tiga tab Ms. Word yang aku buka, salah satunya sudah kuberi judul “Makalah Komunikasi”. Masih dalam nada malas (atau memelas) aku menjawab semuanya,

“Aku ngga tidur Bu, aku masih berkutat dengan tugas. Aku capek dengan tugas yang tak kunjung selesai ini, Aku kangen Bapak Ibu, Aku pengin pulang”

Semua mengalir begitu saja, dua kalimat terakhir adalah apa yang paling aku rasakan sekarang. Aku pengin pulang, bertemu Bapak Ibu. Aku ingin berada di tengah keluarga yang hangat. Aku masih ingat, dulu setiap aku belajar, Ibuku selalu membuatkan segelas susu coklat hangat. Selalu mengelus kepala sambil menyemangati aku yang sedang belajar. 

Berbeda dengan sekarang. Aku hanya duduk saling berhadapan dengan benda digital yang hampir aku bosan menyentuhnya. Berada dalam kamar yang dikelilingi tembok putih. Aku memang bisa main ke kamar sebelah, agar bisa ada teman. Tapi bukan itu yang aku butuhkan. Aku butuh Ibuku di sini. Aku butuh lebih dari segelas susu coklat yang Ibu bilang bisa bikin kuat. Aku butuh Ibuku yang bisa menguatkan. 

Seperti biasa, Ibuku Cuma bisa berdoa agar tugas cepat selesai, dan memberi kalimat-kalimat motivasi, “ngga papa prihatin, jauh dari orang tua. Kamu pulangnya besok sekalian libur semester saja. Bulan ini ngga ada tanggal merah, kasian kamu nanti kalau pulang Cuma dua hari, kamu capek di jalan.” Begitu kira-kira kata Ibu untuk menjawab pernyataanku, bu aku pengin pulang. Telfon sudah ditutup. Aku menghela nafas panjang, bergumul lagi dengan tugas yang mau tak mau harus dikerjakan. 

Jam sepuluh lebih handphone-ku bunyi lagi. Dengan ringtone dari Maroon 5-One more night, kulihat siapa yang menelfon, ternyata Ibuku telfon lagi. Beliau Tanya apa aku masih mengerjakan tugas, saat kujawab “ya, masih banyak, mungkin begadang sampai tengah malam nanti.” Ibuku langsung bicara panjang, memotivasi anaknya agar tugasnya selesai. Aku tersenyum sambil jawab sekenanya, saat aku Tanya mengapa beliau belum tidur, beliau bilang ngga bisa tidur kepikiran anaknya yang terakhir. Ya aku. Aku diam untuk beberapa detik, masih duduk dengan posisi yang sama saat Ibu telfon jam tujuh malam tadi. Masih didepan halaman Ms. Word dengan judul yang sama. Hanya satu yang berbeda, dari sudut kedua mata ada yang menetes. Semakin banyak…. Semakin banyak…. 

Aku terharu Ibu sampai ngga bisa tidur, bahkan telfon sampai dua kali. Aku jawab semua pernyataaan Ibu sambil mengatur nafas, agar beliau tidak tahu apa yang terjadi. Nanti malah jadi kepikiran, dan beliau tambah ngga bisa tidur, pikirku. Aku tidak tahu Ibu tahu atau tidak aku menangis, semoga tidak. 

Percakapan di telefon sudah selesai. Aku duduk lemas termenung atas semua ucapan Ibu tadi. Betapa beliau begitu menyayangi anaknya. Betapa kasih sayang beliau memang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dan karena Ibu lebih dari segelas susu coklat hangat, lebih menguatkan. 

 Hatiku sudah tenang di telfon Ibu dua kali. Aku merasa lebih kuat sekarang, meskipun rasa kangen untuk pulang ke rumah belum terlampiaskan. Kini kuatur nafas kembali, melemaskan jari tangan, membiarkannya menari di atas keyboard, untuk sebuah misi: menyelesaikan tugas.
Baca SelengkapnyaIbu Lebih dari Segelas Susu Coklat Hangat: Lebih Menguatkan

Gajah Mati Meninggalkan Gading, Kamu Mati Meninggalkan Apa...?


Halloo~
Selamat pagi~

Ehem *check sound*. Setelah agak lamaan ngga ngeblog, akhirnya sekarang ngeblog juga, yeay! Yak, FYI, saya lama ngga ngeblog karena sibuk *sok sibuk* *dikeplak*. Iyes, sibuk karena ngerjain tugas-tugas dosen yang kadang tidak berperikemahasiswaan. *semoga ngga ada dosen yang baca*

Nah, posting kali ini disponsori oleh acara begadang tadi malem. Jadi, tadi malem itu saya mantengin Youtube dari jam sepuluh sampe jam setengah satuan *eh buseet*. Ngga sih, begadang semalem bukan bagian dari tugas. Berawal dari iseng-iseng nulis keyword “warkop DKI” di tab search, ternyata banyak loh yang upload film-film para comedian legendaris tersebut. Ya udah, saya pilih satu film yang judulnya “Saya Suka Kamu Punya” *kemudian hening*.... 

No! Saya milih bukan berdasarkan judulnya yang agak gimana. Tapi saya pilih judul itu karena keliatannya itu film paling jadul diantara judul lain yang saya temui. Bukan, saya tau itu film paling lama bukan karena hafal judul dan isi ceritanya, tapi itu dilihat dari gambarnya yang jadul banget.

Saya bener-bener nyimak film itu sampe akhir. Meskipun mengeluh ditengah-tengah film “yah, ini sih udah pernah nonton”, tapi nyatanya saya tetep masih bisa menikmati film tersebut. Lucu, penuh dengan dialog khas mereka. Padahal, lelucon yang mereka bawakan itu terjadi di tahun dimana saya belum lahir. Dan semakin ke sini, konsep lawakan tiap comedian itu kan berubah seiring berjalannya waktu.Tapi ini ngga berlaku untuk mereka (Warkop DKI:red). Buat saya, lawakan khas mereka itu Ngga ada matinya. Meskipun sudah berkali-kali nonton (bahkan sampe hafal beberapa dialognya) mereka berhasil membuat saya tertawa, dan itu ngga ngebosenin. 

Setelah film selesai, saya scroll mouse laptop ke bawah untuk lihat komentar dari para Youtube-ers *mbuh opo jenenge*, dan di situ ada yang komen, “Sayang ya, Dono dan Kasinonya sudah Almarhum, kalau mereka masih hidup, mungkin mereka masih ngelucu sampe sekarang.” Terus saya mikir, Iya juga ya, dua diantara mereka sudah meninggal, tapi karya mereka masih bisa dinikmati orang.
Saya langsung inget sama pepatah:

“ Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”

Dua dari WARKOP DKI memang sudah meninggal. Tapi, mereka mati tak hanya sekedar meninggalkan nama, tapi karya. Iya, sampai kapanpun karya mereka masih bisa dinikmati banyak orang, masih bisa bikin orang terhibur, dan yang jelas mereka masih bermanfaat untuk orang lain meski mereka sudah ngga ada.

Saya pun berkontemplasi dan bertanya pada diri sendiri, kalau saya mati mau meninggalkan apa…? Sebenarnya saya sudah ada niat dari dulu, saya ingin jadi penulis, entah itu personal literature atau novel fiksi... Tapi terkadang niat itu hilang karena saya males nulis, dan sering menyalahkan keadaan dengan bilang “aku ngga punya waktu”. Niat dan semangat saya akan muncul kembali kalau saya baca novel, dan bilang, “saya harus nulis!”.

Tapi, semakin ke sini, saya mau memantapkan diri untuk menulis. Mungkin teman-teman pernah baca status saya yang ini:



Iya, itu target kalau tulisan saya harus selesai Juli 2013. Padahal, sampai sekarang saya belum nulis sama sekali -______-. Kemarin, saya juga baru mencatat daftar mimpi saya di buku, dan ‘menulis’ menjadi bagian dari daftar tersebut. Yah, mungkin saya terlalu idealis untuk bilang Juli mendatang tulisan saya harus selesai. Saya sendiri masih ragu, dan suka ngomong sama diri sendiri, Hae Mahasiswa, nulis itu ngga segampang yang kamu kira, yakin delapan bulan lagi selesai?

Ya, kapanpun itu saya harus mulai nulis! Pun seandainya target saya belum tercapai, yang penting saya sudah mencoba untuk menulis. Karena  saya ingin punya ‘sesuatu’ yang bisa membuat orang bergumam, jadi ini karyanya Diah Harni. Dan yang jelas, saat saya meninggal nanti, saya tak hanya sekadar meninggalkan nama, tapi juga sebuah karya.

*Semoga Tuhan memberi saya panjang umur, Amin.*
 

Baca SelengkapnyaGajah Mati Meninggalkan Gading, Kamu Mati Meninggalkan Apa...?
Category: 2 komentar

STOP USING “AUTIS” FOR A JOKES!!

Haloo~

*ciyeee nongol lagi, baru beberapa hari yang lalu bikin entri sekarang udah bikin yang baru aja ciyee*

beklah, itu tadi suara hati yang ngomong, abaikan ya~
langsung tancap aja ya, males basa-basi *lagian ngga tau juga harus basa-basi yang gimanaan (--,)*

Jadi ceritanya nih, saya lagi pengin ikut LPM VISI. Nah apa itu LPM VISI? LPM adalah lembaga pers mahasiswa, macam ukm yang bikin news gitu, nah kalo di FISIP namanya LPM VISI. Salah satu syarat untuk bisa screening adalah dengan membuat sebuah karya. Iyes, we have to choose tho one, pilih salah satu aja, ada artikel, cerpen, Iklan Layanan Masyarakat, karikatur, dan layout desain. Berhubung belum pede untuk bikin cerpen, belum bisa bikin Iklan Layanan Masyarakat, dan ngga bisa bikin karikatur sama layout desain, jadilah saya pilih untuk bikin artikel.

Nah di bawah ini adalah artikel buatan saya. Serius deh bikinan sendiri, kecuali ada beberapa emang sih yang ngutip dari internet *lah* tapi saya cantumin sumbernya kok, lagian yang disadur bukan bagian dari isi artikelnya, cuma tambahan sebagai penguat argumen aja. Let's check this out:

 ***


Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi normal. akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repeyiive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen 1993). Pengertian lain menyebutkan, autisme adalah perilaku anak-anak yang terlalu asik dengan dunianya sendiri, sehingga tidak mempedulikan apa yang terjadi di luar “keasikannya”. Autis bukanlah gangguan kejiwaan, bukan juga keterbelakangan mental. Anak-anak yang autis hanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, sehingga ia bisa melakukan hal-hal aneh di luar kebiasaan anak-anak seusianya.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kata autis mulai dikenal masyarakat umum. Sayangnya, banyak orang yang menggunakan kata autis sebagai guyonan atau lelucon untuk mereka. Misalnya, ketika ada seseorang yang asik bermain dengan handhphonenya sambil tertawa sendiri, maka temannya yang lain akan berkata. “dasar anak autis! Hahaha!”. Mungkin, tak ada masalah bagi orang dianggap autis tersebut diejek demikian. Begitu juga dengan orang yang berkata autis tersebut, karena tujuannya hanya untuk bercanda. Tetapi, bagi mereka yang salah satu anggota keluarganya mengidap autis, tentu akan menyakitkan. Bahkan secara kemanusiaan, hal ini sudah dianggap sangat keterlaluan.

Tak hanya itu, penggunaan kata autis semakin terkenal ketika banyak penulis, entertainer, dan aktifis-aktifis lainnya yang menggunakan kata autis dengan tidak semestinya. Sehingga merebaklah kata autis sebagai kata yang merujuk pada keanehan, dan sikap anti sosial. Di Indonesia sendiri, sudah banyak contoh tulisan-tulisan yang bertujuan menyindir seseorang atau komunitas tertentu dengan menggunakan kata autis, seperti 
  1. "Autisme Sosial: "Penyakit" Ketidakpedulian di Kalangan Masyarakat" (Mohamad Soerjani, 2003)
  2. "Parpol dan Parlemen yang Autis" (Dedi Haryadi, 2005)
  3. "Parpol dan Parlemen yang Autis" (Dedi Haryadi, 2005)
Sungguh memprihatinkan, orang-orang yang tergolong kaum intelektual pun masih saja menggunakan kata autis sebagai bahan sindiran. Sebagai orang yang terlahir normal, tak sepantasnya kita menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan. Seharusnya kita sadar, betapa memprihatinkannya kondisi seorang anak yang autis. Betapa sulitnya merawat anak yang autis. Mereka yang autis mungkin tak akan pernah merasa sakit hati dengan penggunaan kata autis sebagai bahan sindirian atau bercanda. Tetapi, bagi keluarga yang merawatnya tentu akan merasa sakit hati dan terpukul.

Di bawah ini adalah contoh kisah yang disadur dari internet, yang mungkin bisa menjadi bahan renungan untuk kita:

“Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, Anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah? anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.
 
Ditangan sebelah kiri, ada buku Food diary anakku yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat berisi apa saja yang dia cocok untuk tubuhnya, reaksi alergynya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?
 
Diusia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku, Eh, gak lama kemudian dia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuh ULAT BULU. Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant anakku malah jingkrak2, Mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila!!! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah, dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam. 

Ahhh, sudahlah life must go on anyway. Kulirik sekali lagi food diarynya.. hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yg lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini. 

Baru saja hendak memasak, tiba-tiba kudengar jeritannya. Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.
Aku keruang setrika dan disana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh BS-nya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih nempel di atas punggung tangan kirinya.!!! 

Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel dihidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel dibalik gosokan panas itu. Sumpah kalau saja ini bukan anakku, aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan. Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu. Itu sudah berubah menjadi putih kekuningan. Dan luka di tangannya juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang.
 
Aku menjerit sekencang-kencangnya. Kupanggil Baby sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur lalu dengan kesetanan, ku kebut mobilku ke UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif. Begitu anakku segera tertangani tiba2 aku kehilangan seluruh tenagaku. AKU PINGSAN! 

Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku. Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku. Damn. Oh Tuhan. Lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan. Dan sambil berjalan, dia menggaruk luka di kepalanya yang bocor? Sementara darahnya terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya. 

Tangannya berlumuran darah? Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi dia tidak menangis? Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya. Aku menjeritttt sekuat2nya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang. 

Tapi itupun gak lama? karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik, "mbak, minta handuk... CEPATTTT!! Dan lagi-lagi kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku. 

Dia tidak menangis hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan Hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar lagi-lagi aku PINGSAN. 

Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri” (forum.indogamers.com)

Jadi, masihkah kita tega untuk menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan? Semoga saja, dengan adanya cerita di atas, bisa menjadi bahan renungan agar kita lebih berhati-hati dalam bercanda. Terutama saat menggunakan kata-kata autis yang tidak seharusnya diucapkan. Peduli autis tak melulu harus dilakukan dengan langsung terjun ke lapangan. Dengan mencoba menghargai mereka yang terkena autis dan tidak menggunakan kata autis sebagai bahan candaan pun bisa menjadi salah satu indikasi bahwa kita respect dan peduli terhadap penderita autis.
 
***
Demikian artikel yang saya buat. Oh ya, menyambung dengan isi artikel di atas, bisa kali ya kita belajar untuk tidak menggunakan kata "autis" sebagai bahan candaan. Jujur saya sering mainin kata autis buat candaan, tapi gara-gara artikel yang saya buat sendiri dan baca cerita yang saya sadur dari internet tadi bikin hati saya miris. Betapa susahnya ngurus anak autis. Dan betapa anak autis itu, benar-benar butuh perlakuan khusus. Yang masih nyantol di otak saya itu pas si anak tadi kepalanya berdarah-darah tapi dia ngga nangis, tapi malah garuk-garuk kepala. Ya Allah ngga bisa membayangkan.

Nah karena itu, yuk kita sama-sama hilangkan kata autis sebagai bahan becandaan :)



Salam,


Baca SelengkapnyaSTOP USING “AUTIS” FOR A JOKES!!