Follow Me on Twitter

Aku, Kau, dan Hujan


“Karena hujan adalah tangisan langit. Entah tangis bahagia. Entah tangis duka. Karena hujan sarat akan makna.”

Hujan memang selalu sarat akan makna. Rindu, sedih, senang, cinta, sayang, semua bisa direpresentasikan oleh hujan. Semua orang punya definisi tersendiri tentang hujan. Ada yang suka hujan. Ada yang cinta hujan. Ada yang benci dengan hujan. Ada yang biasa saja. Terserah… terserah….

Pun aku juga begitu. Kadang aku suka hujan. Kadang aku benci dengan hujan. Kadang aku suka gerimis tapi tak suka hujan. Kadang aku tak suka gerimis lebih suka hujan. Kadang aku suka bau tanah basah karena hujan. Kadang aku memuji hujan. Kadang aku menghujat hujan. Kadang biasa saja. Terserah… terserah….

Sekarang aku mau cerita tentang hujan. Betapa hujan sekarang menjadi satu-satunya sahabat yang aku punya. Menjadi satu-satunya yang paling dekat. Saat aku benci kebisingan, hujan membuat semuanya diam. Hening. Aku suka hujan mengerti. Aku suka hujan sepakat denganku.

“karena hujan, bisa membuatmu jatuh terpeleset, tersungkur, dan lemah”

Tapi aku tak suka, saat hujan mengingatkanku akan seonggok manusia. Aku ingat kau. Saat pertengkaran bodoh melalui media komunikasi dikala hujan, membuatmu tak focus dan hampir celaka, maaf ya? Saat hujan membuatmu sakit. Saat hujan melemahkanmu. Aku tak suka hujan membuatmu basah. Membuatmu ringkih.

“jika Pelangi adalah tujuan akhirmu. Mau tak mau kau harus bertemu hujan terlebih dahulu. Kadangkala, petir dan badai ikut terlibat di dalamnya juga”

Mungkin. Hujan saat ini adalah representasi dari kesendirianku. Saat ini hujan membuatku basah, dingin, dan sendiri. Tapi suatu saat, aku berharap akan ada tujuh bias warna bersatu yang aku temui. Ya. pelangi. Pelangi yang seharusnya lebih indah dari bayanganku.

Category: 0 komentar

0 komentar: