“Karena hujan adalah tangisan langit.
Entah tangis bahagia. Entah tangis duka. Karena hujan sarat akan makna.”
Hujan memang selalu sarat akan makna. Rindu, sedih, senang,
cinta, sayang, semua bisa direpresentasikan oleh hujan. Semua orang punya
definisi tersendiri tentang hujan. Ada yang suka hujan. Ada yang cinta hujan.
Ada yang benci dengan hujan. Ada yang biasa saja. Terserah… terserah….
Pun aku juga begitu. Kadang aku suka hujan. Kadang aku benci
dengan hujan. Kadang aku suka gerimis tapi tak suka hujan. Kadang aku tak suka
gerimis lebih suka hujan. Kadang aku suka bau tanah basah karena hujan. Kadang
aku memuji hujan. Kadang aku menghujat hujan. Kadang biasa saja. Terserah…
terserah….
Sekarang aku mau cerita tentang hujan. Betapa hujan sekarang
menjadi satu-satunya sahabat yang aku punya. Menjadi satu-satunya yang paling
dekat. Saat aku benci kebisingan, hujan membuat semuanya diam. Hening. Aku suka
hujan mengerti. Aku suka hujan sepakat denganku.
“karena hujan, bisa membuatmu jatuh
terpeleset, tersungkur, dan lemah”
Tapi aku tak suka, saat hujan mengingatkanku akan seonggok
manusia. Aku ingat kau. Saat pertengkaran bodoh melalui media komunikasi dikala
hujan, membuatmu tak focus dan hampir celaka, maaf ya? Saat hujan membuatmu
sakit. Saat hujan melemahkanmu. Aku tak suka hujan membuatmu basah. Membuatmu
ringkih.
“jika Pelangi adalah tujuan akhirmu.
Mau tak mau kau harus bertemu hujan terlebih dahulu. Kadangkala, petir dan
badai ikut terlibat di dalamnya juga”
Mungkin. Hujan saat ini adalah representasi dari
kesendirianku. Saat ini hujan membuatku basah, dingin, dan sendiri. Tapi suatu
saat, aku berharap akan ada tujuh bias warna bersatu yang aku temui. Ya.
pelangi. Pelangi yang seharusnya lebih indah dari bayanganku.

0 komentar:
Posting Komentar