Follow Me on Twitter

Ketika Harus Menjadi 'Manusia Setengah Salmon'


“Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. kita hidup di antaranya.” (Raditya Dika dalam Manusia Setengah Salmon hal. 254)

Aku diam menatap kaca jendela bus yang terlihat meninggalkan pohon-pohon di luar sana. Satupersatu pohon-pohon tertinggal, seperti potongan-potongan hati yang aku tinggal di sepanjang perjalanan ini. entah apa yang membuatku mendadak galau begini. Terasa berat rasanya meninggalkan Purwokerto hanya untuk dua minggu saja. Iya, waktu yang terbilang cukup singkat dibandingkan dengan nanti saat masa-masa kuliahku. Tapi aku belum siap. Aku masih ingat saat mendapat informasi dari sebuah site yang mengharuskanku datang minggu-minggu ini, untuk mempersiapkan persiapan OSMARU (Ospek Mahasiswa Baru). Semua serba mendadak, tiket yang sudah kupesan untuk untuk berangkat ke Solo terpaksa hangus karena aku harus datang ke Solo lebih awal. Terlebih aku juga belum mempersiapkan satu pun tugas individu untuk OSMARU nanti. Memang aku sudah punya tempat kost di sana, tapi ini adalah kali pertamanya aku menginap di sana untuk beberapa waktu. Hal ini juga membuatku harus mempersiapkan banyak hal dalam waktu singkat! Ah, goddamn! Kenapa semua serba mendadak!

Satupersatu, potongan-potongan hati ini tertinggal di jalanan. Tertinggal membungkus bersama kenangan. Sekarang yang kubawa, hanya tinggal separuh hati ini saja. Kukira itupun bakal habis dimakan masa selama aku di Solo nanti. Dibalik kaca jendela ini,  kemarin, aku melewati jalan ini bersama teman-temanku. Rekam jejak suara kita masih terdengar riuh di telingaku. Di jalan ini kita tertawa bersama, bercerita semua, dan berteriak-teriak macam orang gila. Tentunya, hal paling bodoh adalah ketika berteriak-teriak di perempatan saat lampu merah. Geblek! Untung tak ada yang memperhatikan. Ah bodoh! Bodoh! Ada saja orang macam kita. Seharian penuh kemarin, adalah hal absurd yang semoga bukan terakhir… kawan…

***

“Ada perasaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah.Keduanya sama-sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan diri kita.Keduanya sama-sama memaksa kita untuk mengingat-ingat kenangan yang ada sebelumnya, disadari atau tidak dipaksa atau tidak “ (Raditya DIka)


Saus tartar! Sekarang aku benar-benar sendiri di sini. Semua terasa benar-benar asing. Meski ada manusia-manusia di sini. Tapi peduli apa! Mereka masih baru kukenal dan belum bisa menggantikan manusia-manusia di sana. Aku masih tak habis fikir, kenapa ini semua terjadi saat bulan ramadhan. Bulan yang seharusnya dijadikan momen untuk berkumpul bersama keluarga. Dan hari ini, kali pertamanya aku merasa benci dengan waktu berbuka puasa. Berbuka dengan hanya ditemani tembok putih seluas 4x3 meter. Terlebih, hari ini kawan-kawan baikku sedang mengadakan buka bersama di sebuah rumah makan, sedang bapak ibuku mereka bisa berbuka di rumah yang hangat . Ah, Ya Tuhan… that’s such as damn thing!

Sekarang aku tahu. Semua yang ada di dunia ini sejatinya adalah perpindahan. Electron yang berpindah mengelilingin inti atom, planet-planet yang berevolusi, waktu yang terus berpindah dari satu masa ke masa yang lainnya, begitu seterusnya. Semua pindah, semua berubah. Hanya dua saja yang tak akan pernah berubah: Perubahan itu sendiri dan Yang Maha Tetap. Sepertinya, siap tidak siap kita memang harus menjadi ‘Manusia Setengah Salmon’ yang harus bisa ‘pindah’. Pindah dari rahim ke dunia, pindah rumah, pindah suasasana, termasuk… pindah hati. Pun begitu denganku, harus bisa pindah. Harus bisa beradaptasi dengan semua yang serba asing ini. dan harus bisa membuat semua yang baru ini lebih baik dari yang dulu, karena masa lalu tak boleh lebih baik dari masa depan.




Category: 0 komentar

0 komentar: