Follow Me on Twitter

Di Balik Kacamata Abi


Nama         : Diah Harni Saputri
Jurusan      : Ilmu Komunikasi
Kelompok  : Integritas

Di Balik Kacamata Abi
Untuk kesekian kailnya, pagi ini datang. Pagi yang selalu berselimut kabut, yang sesekali ditemani suara tetesan-tetesan embun yang meluncur dari pucuk daun ke tanah basah. Embun yang pecah menjadi partikel yang lebih kecil ketika jatuh menyentuh apapun. Sang fajar juga sepertinya enggan untuk muncul terlebih dahulu, ia masih ingin bersembunyi di balik sejuknya pagi. Manusia-manusia yang sejatinya harus memulai kehidupan pun masih nyaman berada dalam buaian mimpi. Sepertinya, mereka masih belum siap ketika harus berhadapan dengan dunia nyata. Dunia yang terkadang atau bahkan seringkali tak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Apa yang terjadi pada mansuia-manusia pagi ini tak terjadi pada Abi. Seusai shalat subuh, Abi sudah siap dengan ham berwarna krem yang dibalut rompi coklat. Celana jeans hitam beserta sepatu kets yang dominan berwarna coklat juga semakin membuatnya good looking. Tak lupa, kacamata dengan bingkai yang lagi-lagi berwarna coklat juga tak lupa ia kenakan. Memang, siapa saja yang melihat sosok Abi pasti akan menganggap bahwa coklat adalah warna favoritnya. Dan memang benar, menurut Abi, warna coklat adalah warna yang terkesan kalem dan lebih humble. Tak seperti warna mereak yang klop dengan keberanian, dan hitam yang melambangkan watak keras. Casual, adalah kata yang paling tepat untuk mewakili penampilan Abi pagi ini.

Abi bergegas. Ia merasa, ada sebuah kewajiban yang harus ia kerjakan . tanpa piker panjang ia meraih shoulder bag-nya kemudian pergi dari rumahnya. Di sebuah warung makan, Abi menghentikan langkahnya. “beli nasi bungkusnya bu?” “seperti biasa?” “iya” jawab Abi. Hampir setiap hari Abi memang mampir di warung makan ini, sehingga si pemilik warung pun tak heran dengan kedatangan Abi dan tahu apa yang akan Abi pesan. Tak lama kemudian, 16 bungkus nasi sudah siap untuk dibawa. Setelah transaksi, buru-buru Abi mengejar angkutan umum yang lewat. Sepuluh menit berada dalam bus, Abi berhenti di sebuah perempatan lampu merah. Masih pagi benar memang, sehingga jalanan belum begitu ramai. Tak lama kemudian abi turun. Ia berjalan memasuki gang kecil. Langkah kecilnya membawa Abi pada sebuah rumah panggung bertuliskan “rumah singgah”. Sesampainya di sana Abi disambut oleh segerombol anak-anak yang mungkin sedari tadi memang sudah menunggunya. Senyum Abipun mengembang untuk mereka. “Abang datengnya pagi banget, tumben nih?” Tanya salah satu dari mereka. “Iya, Abang hari ini ada kerjaan pagi, jadi abang dateng lebih pagi deh kesini. Tapi kalian seneng kan? Gimana udah lengkap belum?” “seneng banget dong bang, apalagi bungkusan yang abang bawa itu buat kita, hehe. Udah lengkap kok 16 orang, itung aja nih” jawab seorang anak lain dengan polosnya sambil melirik teman-temannya, memastikan bahwa mereka memang benar-benar lengkap berenambelas orang. Abi tersenyum lagi sambil memberikan bungkusan yang memang sengaja ia bawa untuk mereka. Satu-persatu dari mereka membuka bungkusan itu, dan memakan isinya dengan lahap. Abi menatap mereka dalam-dalam. Dari kacamatanya, Abi menyaksikan kilasan balik dari apa yang sudah anak-anak lakukan di rumah ini. belajar membaca, menulis, berhitung, bernyanyi, bermain theater, dan banyak lagi. Senyum, canda, dan tawa, semuanya ada di sini. Di rumah singgah ini. abi tak bisa membayangkan kalau-kalau… ah sudahlah. Abi bergumam dalam hati.

“Ada apa bang? Kok pagi-pagi sudah melamun?” sejurus kemudian Abi tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke samping dan kaget melihat sesosok pemuda yang ternyata sudah berada di sampingnya tanpa Abi sadari. “engga kok. Ngga ada apa-apa. Oh ya, hari ini jangan lupa ngajar anak-anak ya?” “jelas dong bang aku ngga lupa. Aku pengin anak-anak di sini jangan seperti aku, putus sekolah Cuma sampai SMA. Setidaknya dari rumah singgah ini, mereka bisa belajar, biar nggak dibodohi orang kalau mereka besar nanti.” Ujar seorang yang sering disapa Galih itu. Abi menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya bersama masalah yang ada difikirannya sekarang. Ya, anak-anak ini…
***
“Saya sudah menghubungi pihak desa setempat. Sebenarnya tidak ada masalah kita membangun proyek di sana. Toh itu lahan kosong, hanya saja di dekat lahan itu ada sebuah rumah singgah. Katanya, kita tinggal minta izin dengan yang punya wewenang, tapi saya belum tahu siapa. Gampanglah, itu bisa diatur Bi.” Ucap salah seorang atasan Abi di kantornya. “bukannya, pihak desa setempat sudah menolak ya pak? Kenapa tiba-tiba jadi luluh begitu?” Tanya Abi. Atasan Abi hanya tersenyum sembari mengencangkan dasi dilehernya “memang, tapi kamu tahulah, semua terasa seperti mudah ketika uang berbicara.” Mendadak hati Abi serasa terkena sembilu. Sakit. Sakit sekali. Dari dulu, Abi sudah berusaha meminta agar proyek itu dialihkan ke tempat lain, tapi ternyata gagal. Kini yang bisa ia lakukan adalah mencoba untuk meyakinkan pihak desa agar menolaknya, tapi ternyata semua sia-sia. Uang telah membuat perangkat desa berubah pikiran.

Abi merasa kalut. Pikiran dan hatinya sama-sama tak tenang. Dari kacamatanya, bayang-bayang anak-anak jalanan ini serasa bolak-balik di depannya. Entah apa yang akan terjadi jika rumah singgah itu benar-benar tergusur. Rumah itu bukan sekadar rumah. Susunan kayu yang dibangung bersama-sama menjadi saksi bisu betapa semangatnya mereka ingin hidup dan belajar di rumah itu. Lagipula, dimana lagi? Dimana lagi mereka harus tinggal kalau bukan di situ? Dulu mereka hanyalah segerombolan anak-anak kurang ajar, tak punya kompas moral sama sekali. Hidup sekenanya. Bisa makan ya sukur, kalau ngga ya  nyopet. Rumah mereka? Hanyalah potongan-potongan kardus sisa milik toko-toko yang mereka sulap menjadi istana.  Bahkan, dulu mereka binal, liar. Masih jelas benar ingatan Abi ketika pertama kali ia mengajak mereka untuk belajar. Abi hanya mendapat umpatan-umpatan dari anak-anak ini. sungguh tak ada tata kramanya sama sekali. Tapi Abi pantang menyerah. Ia terus mencoba mengajak anak-anak ini untuk belajar, sampai akhirnya mereka mau, bahkan sekarang mereka semua menyayangi Abi. Bersandar pada Abi.

Pada akhirnya… Abi menceritakan semua kepada atasannya. Ya, mau tak mau Abi harus bercerita bahwa ialah pemilik tanah dan rumah singgah tersebut, meskipun… meskipun besar risikonya. Ternyata benar, atasan Abi marah besar padanya, bahkan mengancam akan memecat Abi secara tidak hormat. Namun, Abi masih diberi kesempatan, jika ia mau menyetujui permintaan atasannya, ia akan diberi sejumlah uang, bahkan gajinya akan dinaikkan. Abi tak tahu lagi harus berkata apa. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi kemelut hidupnya ini. Di satu sisi, Abi tak mau kehilangan pekerjaan ini. Ia belum lama bekerja di sini, sehingga tabungannya pun masih belum bisa untuk menanggung beban hidupnya nanti. Apalagi, Abi masih memiliki tanggungan seorang Adik perempuan yang baru masuk kuliah tahun ini di Jogja. Abi tak tega membiarkan adiknya bekerja part time untuk memenuhi biaya kuliahnya, karena itu pasti akan mengganggu waktu kuliahnya. Di sisi lain, ada 16 bocah yang menggantungkan hidupnya pada rumah singgah milik Abi itu. Hati Abi carut-marut. Rancau sekali.

Kali ini idelisme Abi berbicara. Sudah ia putuskan, untuk mempertahankan rumah itu. Dan tentu saja, Abi dipecat secara tidak hormat. Kenyataan pahit ini mati-matian ia coba telan. Pihak desa pun seakan membenci Abi karena hal ini. Mereka mulai acuh dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan rumah singgah itu, bahkan terkesan dipersulit. Tentu saja, Abi tak ambil diam. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa menghidupi 16 bocah ini dan menanggung biaya kuliah adiknya. Akhirnya, jalan hidup yang dipilih Abi adalah wirausaha. Ia mencoba untuk membuka usaha budidaya jamur kecil-kecilan yang ia pelajari secara otodidak. Ia sudah muak dengan transaksi-transaksi suap yang ada di kantornya. Di kantornya, tak hanya kali ini saja Abi ditawari “uang tambahan,” tapi ia selalu menolaknya.

Itulah Abi. Sesosok manusia yang berbeda dari kebanyakan manusia lainnya. dibalik kacamata Abi, ada seorang Abi yang memiliki idealisme, tanggung jawab, dan jujur dalam segala hal.

*tamat*



0 komentar: