Halloo~
Selamat pagi~
Ehem *check sound*. Setelah agak
lamaan ngga ngeblog, akhirnya sekarang ngeblog juga, yeay! Yak, FYI, saya lama
ngga ngeblog karena sibuk *sok sibuk* *dikeplak*. Iyes, sibuk karena ngerjain
tugas-tugas dosen yang kadang tidak berperikemahasiswaan. *semoga ngga ada
dosen yang baca*
Nah, posting kali ini disponsori
oleh acara begadang tadi malem. Jadi, tadi malem itu saya mantengin Youtube
dari jam sepuluh sampe jam setengah satuan *eh buseet*. Ngga sih, begadang
semalem bukan bagian dari tugas. Berawal dari iseng-iseng nulis keyword “warkop
DKI” di tab search, ternyata banyak loh yang upload film-film para comedian
legendaris tersebut. Ya udah, saya pilih satu film yang judulnya “Saya Suka
Kamu Punya” *kemudian hening*....
No! Saya milih bukan berdasarkan
judulnya yang agak gimana. Tapi saya pilih judul itu karena keliatannya itu
film paling jadul diantara judul lain yang saya temui. Bukan, saya tau itu film
paling lama bukan karena hafal judul dan isi ceritanya, tapi itu dilihat dari
gambarnya yang jadul banget.
Saya bener-bener nyimak film itu
sampe akhir. Meskipun mengeluh ditengah-tengah film “yah, ini sih udah pernah
nonton”, tapi nyatanya saya tetep masih bisa menikmati film tersebut. Lucu,
penuh dengan dialog khas mereka. Padahal, lelucon yang mereka bawakan itu
terjadi di tahun dimana saya belum lahir. Dan semakin ke sini, konsep lawakan
tiap comedian itu kan berubah seiring berjalannya waktu.Tapi ini ngga berlaku
untuk mereka (Warkop DKI:red). Buat saya, lawakan khas mereka itu Ngga ada matinya. Meskipun sudah
berkali-kali nonton (bahkan sampe hafal beberapa dialognya) mereka berhasil
membuat saya tertawa, dan itu ngga ngebosenin.
Setelah film selesai, saya scroll mouse laptop ke bawah untuk lihat
komentar dari para Youtube-ers *mbuh opo jenenge*, dan di situ ada yang komen, “Sayang ya, Dono dan Kasinonya sudah
Almarhum, kalau mereka masih hidup, mungkin mereka masih ngelucu sampe
sekarang.” Terus saya mikir, Iya juga
ya, dua diantara mereka sudah meninggal, tapi karya mereka masih bisa dinikmati
orang.
Saya langsung inget sama pepatah:
“ Gajah mati meninggalkan gading,
harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”
Dua dari WARKOP DKI memang sudah
meninggal. Tapi, mereka mati tak hanya sekedar meninggalkan nama, tapi karya.
Iya, sampai kapanpun karya mereka masih bisa dinikmati banyak orang, masih bisa
bikin orang terhibur, dan yang jelas mereka
masih bermanfaat untuk orang lain meski mereka sudah ngga ada.
Saya pun berkontemplasi dan
bertanya pada diri sendiri, kalau saya
mati mau meninggalkan apa…? Sebenarnya saya sudah ada niat dari dulu, saya ingin jadi penulis, entah itu personal
literature atau novel fiksi... Tapi terkadang niat itu hilang karena saya
males nulis, dan sering menyalahkan keadaan dengan bilang “aku ngga punya waktu”. Niat dan semangat saya akan muncul kembali
kalau saya baca novel, dan bilang, “saya harus nulis!”.
Tapi, semakin ke sini, saya mau
memantapkan diri untuk menulis. Mungkin teman-teman pernah baca status saya
yang ini:
Iya, itu target kalau tulisan saya
harus selesai Juli 2013. Padahal, sampai sekarang saya belum nulis sama sekali
-______-. Kemarin, saya juga baru mencatat daftar mimpi saya di buku, dan
‘menulis’ menjadi bagian dari daftar tersebut. Yah, mungkin saya terlalu idealis
untuk bilang Juli mendatang tulisan saya harus selesai. Saya sendiri masih
ragu, dan suka ngomong sama diri sendiri, Hae
Mahasiswa, nulis itu ngga segampang yang kamu kira, yakin delapan bulan lagi
selesai?
Ya, kapanpun itu saya harus mulai
nulis! Pun seandainya target saya belum tercapai, yang penting saya sudah
mencoba untuk menulis. Karena saya ingin
punya ‘sesuatu’ yang bisa membuat orang bergumam, jadi ini karyanya Diah Harni. Dan yang jelas, saat saya meninggal
nanti, saya tak hanya sekadar meninggalkan nama, tapi juga sebuah karya.
*Semoga Tuhan memberi saya panjang
umur, Amin.*


2 komentar:
Hwaiting Didii!
I know You can do it!! :)))
Hehe. Amin. Muucih muucih :))
Posting Komentar