Follow Me on Twitter

A Mini Farewell Party


#now playing: pas band-kesepian kita
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan
Memaksa kita memendam kepedihan
Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan
Memaksa kita… merubah jadi tawa~

Rabu, 22 Agustus 2012
Pfffttt…. Waktuku kini tinggal beberapa hari lagi untuk menghirup udara Purwokerto sejak kepulanganku dari Solo 17 Agustus lalu. Rasanya…. Singkat banget. Tapi jadi tau sih, bahwa “gini toh rasanya jadi anak rantau.” Memang, sejak menyandang status sebagai ‘anak rantau’ waktu yang untuk berada di rumah itu jadi begitu berharga. Kumpul bareng keluarga, saudara, dan teman-teman juga jadi momen-momen yang lebih indah broo. Karena ngga ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, setelah lebaran dan silaturahmi sana-sini, sekarang saatnya memanjakan ‘kegaulan’ untuk ketemu teman-teman tercintaa <3 .=".">
lama banget ngga ketemu mereka. Dan kesan pertama pertemuan kemarin itu… tetep…. Kocak, gila, abnormal. Alhamdulilah, mereka ngga berubah. Mereka tetap gila. Ketemuan tanpa makan-makan itu bagai taman tak berbunga. Ngga lengkap. Jadilah kita makan di tempat biasa kita pesen konsumsi dulu buat rapat *duh, jadi inget dulu lagi*.

And here we are: *fotonya pake hape ninda.. dan saya nggak punya softcopynya -_____-*

Udah… anggap aja itu ada fotonya, bayangin ya: saya, upit, ninda, hani, jati, agung, dedo, momo, lagi makan mie ayam bareng-bareng (y). udah acaranya gitu aja? Iya. Simple tapi ngga sesimpel yang dirasa. Di kesempatan kayak gitu kita manfaatkan untuk ngobrol banyak hal. bicara tentang osis yang dulu, ngomongin alumnus osis, ngomongin osis adek angkatan, ngomongin Pembina *pliss semoga yang disebut ngga baca ini* dan masih banyak lagi. Disetiap pembicaraan ada rasa seneng di sana, ada rasa ‘kangen’ juga. Iya. Kangen… kapan kita begini lagi… kapan kita ketemu dan… kumpul lagi.

Hari berikutnya: Kamis malam, 23 Agustus 2012
Malam itu mama sengaja ngadain acara ‘bakar-bakaran’. Katanya sih semacam farewell party. “Nanti kan anak-anaknya mau pergi semua. Mas mba balik ke Jakarta, nah ini anak terakhir kan mau kuliah di Solo” ah, sedih. Bakar-bakaran yang sedih. Dan ini momen yang diabadikan:

  
Seneng, sedih, campur-campur deh pokoknya. Thankyou for the moment :-* . abis itu dapet sms: di, ke rumah bebeng yuk, besok pagi dia ke Semarang” . kaget juga dapet sms gitu. lah wong niatnya mau ngajak mereka ke rumah ninda besok buat perpisahan gitu, malah dianya mau berangkat duluan ( ._.) . akhirnya, malam itu juga saya sama upit cus ke rumah bebeng. Deket sih, ngga jauh-jauh amat. Dan, di rumah bebeng kita ngobrolin banyak hal. Semacam rasa ngga percaya besok kita udah harus menempuh jalan masing-masing. Kita yang selalu bareng dari kelas satu SMA. Ah… there were too much moment that I couldn’t explain :’(
And here we are:


Selain foto-foto, kita juga buat video tentang persahabatan atas nama USB. Apa itu USB? Ada diposting ini From USB With (Love) Laugh tapi sayang banget, lagi-lagi saya ngga punya softcopynya -____- next time deh.
Pas mau balik *sumpah itu udah malem* kita ada rencana mau ke rumah @nindariyana besok pagi jam 6. Kenapa? Karena Bebeng mau berangkat jam 7. Tapi ternyata, ngga jadi. Kita bertiga ngga boleh pergi sepagi itu sama orang tua masing-masing. Karena masih suasana lebaran,dan jalan masih ramai. Pffftt :’( jadilah a mini farewell party tanpa Ninda.

Terakhir: Sabtu Malam, 25 Agustus 2012
Sebuah catatan perjalanan: You must be the owner of your life
Bang Alitt dalam bukunya ‘SKRIPSHIT’ pernah bilang: life is a jorney. Hidup adalah sebuah perjalanan. Dan sebuah perjalanan bisa diawali dengan perpisahan dengan orang-orang terkasih. Sedih memang, pergi meninggalkan keluarga, sahabat, teman dan semua yang sudah ditemui di sini. Tapi inilah hidup, ke depan, siapa yang tahu aku bakal menetap di Solo, atau di Purwokerto, atau bahkan… di tempat yang lain lagi. Sebuah amanah ‘Kuliah yang bener ya!’ jadi beban tersendiri. Tapi, amanah tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berprestasi di kampus. Semoga….

You must be the owner of your life. Ya, kita harus menjadi pemilik hidup kita sendiri. Pun begitu denganku. Aku sudah memutuskan untuk kuliah di Solo, ya sudah. Titik. Apapun resikonya harus dijalani. Sekalipun resiko itu adalah… perpisahan….
Perpisahan bisa jadi berujung kesedihan, tapi dalam perpisahan tak selalu berujung penyesalan.


Diah Harni Saputri

Dalam perjalanan Purwokerto-Solo.
Category: 0 komentar

0 komentar: