Manusia macam apa aku ini? Aku yang selalu “melulu” pada diriku sendiri. Aku yang selalu mendewakan ego tanpa peka dengan keadaan sekitar. Ya, mungkin dua malaikat yang menghidupiku kurang lebih tujuh belas tahun ini terlampau menyayangi anaknya yang bungsu. Mungkin factor usia yang terpaut jauh antara aku dengan kedua kakakku lah menjadikan perhatian mereka terpusat padaku. Lalu apa yang aku permasalahkan?
Ketika orang membaca catatan ini, aku yakin mereka akan menganggapku aneh, bodoh bahkan. Harusnya aku bersyukur berada pada kondisi yang begitu “nyaman” dan “memanjakan” ini. Namun agaknya, ini akan menjadi kekhawatiran yang cukup serius ketika sebuah pertanyaan datang. “bisakah kau survive hidup mandiri tanpa mereka?”
Sungguh memalukan jika jawaban yang keluar dari mulutku adalah “tidak!”. Jika mengingat beberapa bulan lalu orang ini menduduki posisi terpenting ke dua dalam sebuah organisasi. Menduduki posisi yang demikian memang bukanlah sesuatu yang membanggakan. Namun setidaknya, hal itu dapat mencerminkan bagaimana seharusnya karakter yang ku miliki. Berwibawa, mandiri, managing, dan berbagai karakter lain yang melekat dan identik dengan seorang pemimpin. Aku tak bisa berkata aku sudah memiliki karakter ideal seperti yang disebutkan. Karena penilaian itu adalah mutlak hak orang lain.
Kembali lagi pada permasalah awal, akhirnya aku pun merasakan resiko dari tindakan yang mereka (orang tua) lakukan. Aku mulai menyadari bahwa aku kurang (atau bahkan tidak) peka terhadap keluarga. Mungkin ini berawal dari hal kecil yang menjadi sebuah kebiasaan. Sebenarnya, sampai saat ini mereka tak pernah mempermasalahkannya. Hanya saja. Bayangan-bayangan negative yang terkadang datang dan mengusik. Ya, itu adalah sebuah rasa takut akan kata “durhaka!” terlalu kejam memang jika menyebutnya demikian. Namun, maaf aku tak punya kata lain yang lebih ideal.
Tahukah kalian? Terkadang otakku yang nakal ini membayangkan suatu saat nanti aku akan sibuk sendiri dengan “keakuanku.” Aku takut ketika aku mulai dewasa dan kalian mulai menua, aku akan menjauhkan diri dari kalian. Aku takut. Bahkan ketika mengingat hal-hal yang sudah kalian lakukan, sungguh kalian berhak atas Surga! Kalian berhak atas segala kemuliaan yang ada!
Maaf, hanya itu yang bisa kukatakan ketika kalian kesal dengan orang ini. Maaf, jika selama ini aku belum bisa menjadi pribadi yang baik di mata kalian. Dan terimakasih atas cinta yang tulus yang kalian berikan di setiap hembus nafas. Namun aku berjanji, di setiap kaki yang kulangkahkan hanya kebahagiaan kalian yang aku tuju.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar