Aku merasa lelah dengan ini semua. Bukan, bukan sebuah rasa putus asa melainkan rasa letih akan semuanya! Entah aku adalah manusia macam apa yang sudah letih sebelum memulai langkah.. Maka panggilan hati untuk lebih mendekatkan diri pada-Mu adalah satu-satunya jalan untuk menghilangkan keletihan ini. Aku ingin Kau mendengar ini Tuhanku. Ya dengarlah…
Tuhanku Yang Maha Mendengar,
Aku merasa aku sudah mencapai semua rasa yang ada di dunia ini. Tapi entahlah, mungkin di luar sana masih banyak “rasa-rasa” yang lain yang bisa membuatku lebih letih dari ini. Kau tahu? Aku sudah merancang sedemikian rupa akan mimpi-mimpi yang kupunya. Semangat, antusias, dan passion sudah kukumpulan menjadi satu agar ketiganya menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dalam diriku. Salahkah aku mempersiapkan semuanya?
Tahukah Kau Tuhanku? Seringkali Kau berhasil menggalaukan mimpi yang kupunya ini. Kau selalu saja membolak-balik hati ini, dan sungguh itu semua ingin kulawan agar bisa mempertahankan diri, namun keagungan-Mu adalah mutlak dan tak bisa kutentang. Kemarin Kau membuatku pasti, namun hari ini, kau membuatku ragu. Entahlah, akalku ini memang tak bisa menjangkau ke-Intektualan-Mu. Akupun tak bisa menduga-duga apa rencana-Mu. Ah ya, Kau memang penuh dengan kejutan. Aku hanya bisa bertanya, dan bertanya. Bahkan, aku yakin, seorang Einstein dengan teori relativitasnya yang menggemparkan dunia scientis pun tak akan pernah tahu rahasia-Mu.
Kini aku berada pada titik kelelahan yang luar biasa namun kukatakan bukan pada puncaknya. Karena aku yakin, di masa mendatang akan ada keletihan-keletihan yang lebih dari ini. aku lelah untuk “mengurusi” mimpiku yang tak ada habisnya Kau koyahkan. Ada apa ini Tuhanku? Mengapa ini tak kunjung usai?
Dan malam ini, Kau beri sebuah jawaban atas pertanyaanku. Dua orang bijak telah membagi nasihat bijaknya padaku. Sedikit demi sedikit kucermati akan apa yang mereka katakan, antara ambisi dan obsesi.
Tuhanku Allah Yang Maha Penyayang,
Kini aku tahu, aku telah merubah mimpi-mimpiku yang suci menjadi sebuah obsesi yang berlebihan. Aku telah memaksakan diri agar bisa mencapai semuanya dengan sempurna. Aku lupa bahwa mau seapik apapun rencanaku, tetap saja Kau yang menentukan. Pun aku tak ada hak untuk menentangnya sedikitpun. Maka, dengan segala dosa yang kupunya, berilah aku sebuah ampunan atas kesombongan dan “keakuanku” ini. Terkadang ketakutan akan sebuah kekecewaan menghantuiku hingga aku menjadi seperti ini. Maka ampunilah aku dengan segala keterbatasanku.
Sekali lagi dengarlah Tuhanku,
Terkadang aku lupa bahwa aku hanyalah sesosok yang tak ada apa-apanya di dunia ini, begitu kecil, kecil dan sangat kecil.Aku hanya bisa menuntut dan menuntut. Sering kali lupa akan apa yang sudah Kau beri. Setiap molekul udara yang kuhirup, Setiap detik kehidupan yang ku jajak, siapakah yang memberinya dengan gratis? Ya Kau. Aku tahu apa yang ada di dunia ini adalah milik-Mu, termasuk mimpi-mimpi yang kupunya. Maka dengarlah ini, kali ini kupasrahkan semuanya pada-Mu. Ya, semuanya, mimpi-mimpiku, angan-anganku, ambisiku, dan segala keterbatasanku yang “sok intelektual” ini. Aku akan mencoba “legawa” atas apa yang sudah, sedang, dan akan Kau berikan padaku karena Kau Maha tahu segala hal. Dan kini aku hanya ingin berharmoni dengan-Mu, mencoba untuk mengerti kemauan-Mu, itu saja. Aku yakin, apa yang Kau beri padaku adalah yang terbaik, bukan atas apa yang aku inginkan, tapi atas apa yang kubutuhkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar